Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Perhatian Jarak Jauh


__ADS_3

»»————><————««


Rasanya sangat tidak percaya jika yang telah berusaha untuk mencelakai Hazel adalah Dirga, meskipun dia selalu kasar dan selalu memaksakan kehendak tapi belum pernah dia melakukan kejahatan seperti kemarin kepada Kanaya dan juga sekarang kepada Hazel.


Setelah diberitahu oleh Arifin Kanaya dan juga kedua mertuanya sangat terkejut, mereka tertegun dalam rasa yang sangat tidak percaya. Tapi ternyata? semua itu adalah benar dan mereka harus percaya.


"Astaghfirullah," ucap Kanaya dan kini dia menunduk dengan rasa bersalah. Meskipun bukan dia yang melakukan, tapi Dirga tidak akan melakukan kejahatan jika tidak karena dirinya. Kanaya menjadi merasa bahwa dia adalah sumber dari segala masalah yang terjadi pada Hazel sekarang.


"Semua ini karena Naya. Jika bukan karena Nay Mas Dirga tidak akan melakukan ini," ucapnya lagi.


Semua menoleh ke arah Kanaya yang menunduk, jelas saja mereka tidak sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Kanaya yang telah menyalahkan dirinya. Dia tidak bersalah, semua kejadian itu karena Dirga saja yang terlalu terobsesi padanya.


Oma Uswah menggeser duduknya, merangkul Kanaya dan membawanya ke dalam dekapannya. Berusaha memberi kekuatan kepada Kanaya yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Jangan kamu menyalahkan dirimu sendiri, semua yang terjadi ini bukanlah kesalahan. Anggap saja ini adalah takdir yang harus kamu jalani. Umi sangat yakin kamu akan kuat menghadapi ini semua. Bersabarlah," ucap Oma Uswah dengan suaranya yang lembut.


Kata-kata dari Oma Uswah selalu saja berhasil membuat hati Kanaya menjadi tenang, apalagi mendapat pelukannya yang begitu hangat seperti dia mendapatkan pelukan dari ibunya.


"Sudah, jangan menyesali semua yang telah terjadi. Apapun yang terjadi Umi dan Abi akan selalu bersama mu." ucap Oma Uswah lagi.


»»————><————««


Malam kian larut, keheningan begitu terasa dalam diri Kanaya yang berada di dalam kamar sendiri. Hembusan nafas berkali-kali keluar dari dirinya mencoba untuk berusaha menenangkan pikiran yang begitu gelisah.


"Aku masih tidak percaya kalau kamu akan bisa melakukan kejahatan seperti ini, Mas. Meski kamu begitu arogan tapi aku tidak pernah berpikir kalau kamu akan sampai melakukan hal ini."

__ADS_1


Kanaya terus tak percaya. Tapi itulah kenyataannya.


"Aku sudah selalu mengatakan kalau Aku tidak akan pernah bisa membalas cintamu, Mas. Aku sudah berkali-kali meminta untuk kami pergi, tapi kamu sendiri yang tidak mau melakukannya."


Ting!


Bunyi pesan masuk membuat Kanaya langsung menoleh dan mengambil ponselnya, membukanya perlahan dan ternyata Hazel yang mengirim pesan.


"Assalamu'alaikum, Apakah sudah tidur? kalau sudah semoga mimpi indah ya. Dan ya, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak aku tidak ingin kamu sakit. Aku belum bisa menemani mu jika itu terjadi."


Seulas senyum hadir di bibir Kanaya. Membaca dari satu persatu kata yang Hazel tulis.


Kanaya begitu ragu, antara membalas atau tidak, tapi Hazel pasti melihat kalau dirinya sekarang sedang online.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Terima kasih perhatiannya." itulah jawaban Kanaya.


"Kok belum tidur? ini sudah malam loh," ucap Kanaya sembari mengetikan pada ponsel apa yang dia ucapkan.


Ting!


"Belum ngantuk," jawaban Kanaya yang Hazel baca.


Begitu berbunga-bunga hati Hazel, Kanaya terus menjawabnya dan itu tidak dengan waktu lama. Berarti dia benar masih belum tidur.


"Jangan malam-malam tidurnya, tidak baik untuk kesehatan. Dan ya! jangan lupa pakai selimut tebal, malam ini sangat dingin jangan sampai kamu sakit."

__ADS_1


kembali Hazel membalas, memberikan sedikit nasehat pada Kanaya dengan jarak yang sangat jauh.


"Terima kasih, Mas. Mas juga jangan begadang, Mas harus cepat sembuh."


"Tentu, kalau aku tidak secepatnya sembuh bagaimana akan mengurus pernikahan kita."


Hazel tersenyum sendiri, membayangkan Kanaya yang membaca pesannya. Dia pasti juga tersenyum malu-malu sekarang, Hat sangat ingin tau ekspresinya tapi sayang! dia tidak akan bisa.


'Aku pasti akan secepatnya sembuh dan akan segera mengurus pernikahan kita. Aku akan secepatnya menjadi pelindung mu, aku akan menjagamu dan juga membahagiakan mu juga Syifa. Kita bertiga akan bahagia.' batin Hazel dengan keyakinan yang sangat besar.


Ting!


"Istirahat lah, Mas."


"Iya calon istriku, kamu juga istirahat ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tak ada lagi pesan yang masuk di ponsel Hazel sejenak dia kembali membaca pesannya, dia tersenyum sebelum dia mematikannya dan bersiap untuk istirahat.


"Istirahat, Nak. Ini sudah malam." perintah Kristin.


"Iya, Ma." langsung Hazel meletakkan ponselnya dan dia benar merebahkan tubuhnya dan Kristin membantu menyelimuti.


»»————><————««

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2