Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Khawatir


__ADS_3

»»————><————««


Begitu terburu-buru Kanaya untuk pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar tentang Hazel yang kecelakaan. Tidak sendiri, tapi ada pak Danu yang menemani.


Kanaya tentu sangat khawatir, dia juga sangat takut kalau ada hal yang serius terjadi pada Hazel karena kecelakaan. Bagaimana kalau sampai parah?


"Tidak tidak, Mas Hazel pasti tidak apa-apa. Dia pasti akan baik-baik saja," gumamnya menyakinkan diri sendiri. Menguatkan dirinya untuk percaya kalau Hazel tidak kenapa-napa.


"Pak, bisa lebih cepat sedikit?" pintanya. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bisa secepatnya sampai di rumah sakit. Dia ingin tau bagaimana keadaan Hazel, apakah parah atau hanya luka kecil saja?


"Baik, Bu." jawab pak Danu. Mobil semakin cepat melaju. Maklum sudah begitu malam pastilah jalanan akan sangat sepi dari para pengendara. Hanya tinggal satu dua yang juga ikut melintas.


Semakin cepat pak Danu menjalankan semakin gelisah pula perasaan Kanaya. Dia sangat takut. Meski rasa cinta belum dia sadari keberadaannya tapi rasa takut itu begitu besar. Kanaya takut kehilangan.


Jika takut kehilangan adalah salah satu dari sifat cinta maka Kanaya memang sudah mencintainya, tapi dia yang belum menyadarinya.


"Ibu harus yakin, Mas Hazel pasti baik-baik saja," ucap Pak Danu menghibur. Dia tau kalau majikannya itu sangat mengkhawatirkan pria itu.


"Semoga bapak benar." hanya itu yang menjadi jawaban dari Kanaya. Dia juga berharap bisa menyakinkan diri untuk percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ketakutan begitu besar menyerang tubuhnya.


Tak lama mobil sudah berhasil menepi di pelataran rumah sakit yang menjadi tempat Hazel di rawat sekarang.


Kanaya begitu buru-buru, dia langsung keluar dari mobil lalu berlari tanpa kepedulian pak Danu. Jelas saja pak Danu tidak bisa bergerak cepat seperti Kanaya, dia sudah kalah dengan usia.


Kanaya terus berlari masuk ke rumah sakit. Berhenti sejenak di tempat informasi lalu bertanya dimana keberadaan Hazel berada, sampai dia mendapatkan informasi tersebut dia kembali berlari untuk segera bergegas.


Langkahnya semakin cepat, dan semakin dekat dengan ruangan Hazel berada itulah jantung Kanaya semakin tak menentu dan bekerja lebih cepat dari biasanya. Dia sangat bingung, tapi itulah yang terjadi dan tak bisa dia pungkiri.


Rasa takut, khawatir juga gelisah berseru menjadi satu dalam dirinya hingga sesekali akan menghasilkan air yang keluar dari matanya yang terasa sayu.


Sampailah Kanaya di depan ruangan Hazel, sepi dan tak ada siapapun. Apakah benar di sana ruangannya?


Kanaya ingin masuk, memastikan keberadaan Hazel benar di sana atau tidak. Tangan mulai menyentuh handle pintu dengan perlahan dan juga dengan tangan yang gemetar. Kanaya sangat takut, dia takut kalau ketakutannya akan nyata.


'Tidak, mas Hazel pasti baik-baik saja." gumamnya.


Kembali Kanaya memantapkan diri sebelum dia benar-benar membuka pintu tersebut dan ternyata benar, ada Hazel di dalam sana dan tengah berbaring lemah dengan beberapa bantu alat.


Ada luka di beberapa wajah juga tangannya namun sudah di perban, tak terlihat jelas seberapa parah keadaannya, tapi melihat wajahnya saja yang penuh dengan luka membuat Kanaya terasa begitu sakit juga.


"Mas Hazel," panggilnya begitu lirih. Kakinya melangkah kian dekat juga dengan air mata yang kembali terjun bebas dari tempatnya.


Melihat dengan lekat semua luka yang ada.


"Astaghfirullah," rasanya tak sanggup untuk melihatnya. "Kenapa bisa seperti ini, Mas."

__ADS_1


Kanaya terisak, begitu pelan suaranya dia tahan supaya tak menghasilkan suara karena sangat takut mengganggu istirahat Hazel. Entah itu tidur karena pengaruh obat yang di berikan atau mungkin karena memang tengah tak sadarkan diri.


Kanaya duduk, rasanya ingin menyentuh tapi hubungan mereka yang masih membatasi. Tak ada izin untuk itu saat ini bagi Kanaya.


Luka terasa kembali menyerang hatinya. Setiap orang yang masuk ke rumah sakit dan dia menunggunya maka dia akan ingat mendiang suaminya. Bagaimana dia setia menunggu dahulu, bagaimana dia mengetahui detik-detik saat kepergiannya. Sungguh menyakitkan.


"Mas," panggilnya.


Hazel mendengar, perlahan dia membuka matanya setelah suara lembut itu memanggil. Hazel menoleh dan melihat Kanaya yang menangis dengan duduk di sebelahnya.


Rasa senang, tapi juga merasa bersalah. Senang karena Kanaya datang dan khawatir padanya, tapi ada rasa bersalah karena membuatnya bersedih.


"Apa aku membuatmu sedih?" tanya Hazel. Kanaya menggeleng, dia berusaha untuk tersenyum meski sebenarnya sangat susah. Ketakutan lebih mendominasi dirinya. "Jangan menangis, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja."


"Lagian aku adalah dokter, aku pasti sangat kuat. Iya kan?" Hazel bergurau. Dokter juga tidak akan luput dari rasa sakit kan?


"He'em, Mas Hazel sangat kuat," jawab Kanaya. Dia tersenyum namun masih terus menangis. Cepat dia menghapus air matanya dengan kasar, dia tak ingin terlihat cengeng di depan Hazel.


"Kenapa tidak menangis lagi, kamu manis seperti itu," guraunya lagi.


"Matanya merah, kantungnya hitam bengkak, hidungnya kayak tomat dan pipinya, pipinya kayak di gigit kepiting. Terus seluruh wajahnya sungguh manis," guraunya, berusaha untuk membuat Kanaya tersenyum.


"Apa sih!" kesal, sedikit sih. Bagaimana mungkin orang nangis tapi terlihat manis, ngadi-adi kan Hazel.


"Beneran loh. Manis banget pokoknya." Hazel kembali terkekeh dan Kanaya juga ikut tersenyum.


Itulah yang hati Hazel rasakan. Dingin dan begitu senang melihat Kanaya yang tersenyum meski semburat sedih itu masih sangat jelas. Itu artinya Kanaya takut dia kenapa-napa, bukankah Hazel harus bahagia? Atau sangat bahagia?


"Ma_ mas beneran tidak apa-apa kan?" Kini pertanyaan Kanaya sangat serius.


"Apakah aku terlihat sakit, tidak kan? Aku sehat jadi pasti baik-baik saja. Aku kuat jadi luka kecil tak akan masalah."


Kanaya kini menggeleng, kepedean Hazel terlalu besar. Sok tidak merasakan sakit katanya.


"Ih!" Tiba-tiba saja tangan Kanaya bergerak dan mencubit lengannya. Entah, seperti bukan Kanaya yang menggerakkan.


"Aww!" pekik Hazel.


"Katanya tidak sakit, tapi kuat kok menjerit?" Ledek Kanaya.


"Lah di cubit bagaimana tidak sakit." jawab Hazel. Meski yang di cubit terdapat kain bajunya tapi pedesnya sangat terasa, Kanaya terlalu kecil mencubitnya.


"Hem, dasar."


"Hehehe..., Nay, aku senang deh kamu datang. Aku senang kamu mengkhawatirkan ku. Kamu takut aku kenapa-napa ya?"

__ADS_1


"Tidak, siapa juga yang khawatir? Tidak." Kanaya tidak akan mengaku, entah terlalu malu atau mungkin terlalu gengsi.


"Ih, tidak ya. Tapi matamu tidak mengatakan itu, apakah kamu sudah mencintai ku?"


"Ih, apa sih!" Kanaya memasang wajahnya kesal. Cinta? Kanaya masih tak percaya kalau itu karena ulah dari rasa itu.


"Baiklah, yang penting kamu datang aku sangat senang. Terima kasih ya, aku mencintaimu, Nay."


Kanaya terdiam, apakah dia harus menjawab dengan kata yang sama? Tapi dalam prinsipnya tidak ada kata cinta pada laki-laki yang bukan suaminya, jadi mungkin kata-kata itu baru akan Hazel dengar kalau mereka sudah menikah. Semoga saja secepatnya.


»»————><————««


Langkah Kristin terhenti saat melihat Hazel juga Kanaya yang tengah bercanda dengan di temani pak Danu juga di dalam ruang rawat. Meski ada mereka bertiga tapi Kanaya dan juga Hazel yang lebih mendominasi tempat.


Kristin tersenyum, dia sangat bahagia karena melihat keduanya yang begitu akrab. Meski dia belum tau kalau Kanaya menerima pinangan Hazel tapi Kristin sudah sangat bahagia.


Tok tok tok.


Sengaja Kristin mengetuk pintu setelah puas melihat keduanya, membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan diam, tapi Hazel yang tersenyum sementara Kanaya terlihat gugup.


"Tan," sapa Kanaya seraya menyalami Kristin yang sudah ada di depannya.


"Nak," Kristin menjawab, dia tersenyum sembari melanjutkan mengelus pipi Kanaya setelah tangan mereka terlepas.


Beralih menoleh ke arah Hazel, matanya membulat terang dengan tangan yang langsung...


"Pasti kamu tidak benar kan mengendarai motor?" pertanyaan Kristin terlihat kesal, tangannya juga bergerak menarik telinga Hazel dan membuat meringis.


"Aw! Sakit Ma Ma!" Hazel meringis, tangannya langsung menahan tangan Kristin untuk tidak menjewer lagi.


Kanaya merasa ngilu melihatnya, dia ingin mencegah Kristin tapi dia gak berani tapk melihat Hazel yang meringis itu membuat Kanaya malah tersenyum.


"Nakal ya, seneng banget membuat semua orang khawatir." omel Kristin.


"Hazel tidak menginginkannya, Ma." Hazel mengelus telinganya sendiri setelah Kristin melepaskan, "sakit, Ma."


"Maaf ya Nak karena apa yang terjadi pada Hazel membuat kamu repot. Dan terima kasih sudah menemani Hazel di sini." Kristin kembali menoleh.


"Sa_ sama-sama, Tan." Masih Kanaya tergagap.


Kini Hazel yang tersenyum melihat keduanya. Sebentar lagi hubungan mereka akan semakin dekat dan akan menjadi mertua dan menantu, Hazel sudah tidak sabar dengan perubahan setatus itu.


Bukan hanya Hazel yang tersenyum bahagia, tapi juga Pak Danu.


'Semoga Nyonya bisa bahagia setelah ini. Mereka orang-orang baik. Lihatlah Tuan, aku yakin Tuan juga menginginkan hal ini.' batin Pak Danu.

__ADS_1


»»————><————««


Bersambung...


__ADS_2