Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Gelisah


__ADS_3

»»————><————««


Setelah penjelasan Hazel akan lamaran yang akan segera di lakukan Kanaya terus saja gelisah. Dia selalu saja memikirkan hingga dia menjadi tidak fokus dalam hal apapun termasuk pekerjaan.


Hanya tinggal satu saja berkas yang harus di selesaikan, tapi rasanya begitu susah. Dia benar-benar tidak bisa fokus.


"Astaghfirullah," gumamnya. Kanaya lebih memilih duduk bersandar karena merasa frustasi sendiri.


Tok tok tok!


Suara pintu yang di ketuk begitu jelas, tak lama pintu terbuka dan memperlihatkan Arifin yang masuk. "Assalamu'alaikum, Nay." Gegas Arifin melangkah.


"Wa'alaikumsalam, Mas." Jawab Kanaya dengan tak semangat sama sekali.


Arifin mengernyit melihat Kanaya yang tak semangat seperti biasanya. Sungguh berbeda, "Nay, kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Arifin curiga bersamaan dengan dia duduk di kursi di hadapan Kanaya.


Kanaya menggeleng. "Tidak."


"Masak sih? Kamu terlihat lain dari biasanya. Cerita sama Mas, siapa tau Mas bisa bantuin kalau memang ada masalah."


"Beneran, Mas." Kanaya tetap tak mau bercerita. Dia terlalu malu untuk menceritakan keadaan hatinya yang sekarang benar-benar tengah bergemuruh.


"Aku dengar dari Om Hasan, Hazel akan melamarmu minggu ini dan pertunangan kalian juga. Apakah kamu gelisah karena itu?" tanya Arifin yang hanya menebak namun tepat sasaran.


Seketika membuat Kanaya terdiam dalam sesaat sebelum akhirnya dia mengangguk.


"Hehe, kamu tuh ada-ada saja. Sudah lah, kamu tidak usah berpikir aneh-aneh, semua akan berjalan dengan baik, Hazel juga orang baik jadi kamu tidak perlu takut. Mas yakin dia akan benar-benar bisa membahagiakanmu dan juga Syifa."


"Mas tidak bisa membantu apapun, hanya doa terbaik yang bisa Mas berikan padamu. Tapi jika kamu butuh bantuan lain, kalau Mas bisa pasti Mas akan usahakan," ujar Arifin yang begitu banyak.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas. Naya juga percaya Mas Hazel orang baik, tapi entahlah, aku merasa gelisah saja sekarang."


"Mas tau, itu karena kamu yang terlalu khawatir. Biarkan semua berjalan, Nay. Nikmati saja prosesnya."


"Terima kasih, Mas." Kanaya benar-benar bersyukur ada Arifin yang selalu mendukungnya. Tak pernah dulu terpikir kalau sikap Arifin akan berubah menjadi seperti sekarang ini.


"Emang apa yang aku lakukan, aku bahkan tidak melakukan apapun."


"Banyak, Mas. Mas Arifin begitu berjasa untuk Naya. Terima kasih banyak sudah selalu mendukung Naya hingga detik ini."


"Mas yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah menyadarkan Mas hingga menjadi seperti ini." jawab Arifin.


"Oh iya, ibu sudah aku kabari, kemungkinan dia akan datang besok."


"Benarkah Wak akan datang!?" Kanaya begitu bahagia mendengar penuturan Arifin barusan. Senyumnya begitu lebar, wajahnya terlihat jelas kalau dia begitu semangat, begitu antusias untuk menyambut kedatangan Wak Ami.


"Benar, besok Mas izin keluar untuk jemput Ibu. Tapi setelah jemput Mas akan kembali."


"Ibunya yang tidak mau, dia maunya di jemput di terminal."


Kanaya mengangguk. "Baiklah. Kabari Naya kalau Wak sudah sampai di rumah. Naya sangat merindukannya."


"Pasti." Arifin juga terlihat begitu antusias. "Nih berkas yang kamu minta. Semua sudah beres, hanya tinggal kamu tanda tangani saja."


"Terima kasih, Mas."


``


Rindu begitu menggebu-gebu di hati Hazel. Meski baru kemarin saja dia bertemu tapi hari ini dia juga ingin bertemu. Saat jam istirahat, dengan sengaja Hazel datang ke kantor Kanaya sekaligus mengajaknya makan siang bersama.

__ADS_1


Dan tepat saja, saat Hazel sampai di depan kantor, Kanaya baru keluar. Senyum Hazel seketika mengembang lebar, kedatangannya di sambut dengan wajah sang pujaan yang terlihat semakin cantik di matanya.


"Nay!" teriak Hazel memanggil. Tangannya melambai.


Kanaya yang mendengar namanya di panggil seketika menghentikan langkah, dia menoleh dan melihat Hazel yang berlari kecil ke arahnya.


"Assalamu'alaikum," Hazel tersenyum di hadapan Kanaya. Mengeluarkan satu tangan yang dia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Wa'alaikumsalam, Mas, kamu di sini?" Kanaya nampak terkejut. Hazel tidak mengabari lebih dulu saat ingin datang.


"Ini untuk kamu," Buket bunga mawar terselip cokelat seketika berada di hadapan Kanaya, sembari tersenyum Hazel menyerahkan.


"Terima kasih, Mas." Dengan malu Kanaya menerima. Mendapatkan perhatian kecil seperti itu membuat Kanaya merasa menjadi perempuan yang begitu di istimewakan, dia begitu tersanjung.


"Sama-sama, mumpung jam makan siang makanya aku datang. Ya sekalian mau ngajak kamu makan."


"Kamu tidak sibuk kan?" tanya Hazel takut. Dia sangat takut kalau kedatangannya justru malah membuat Kanaya terganggu. Dia orang sibuk yang pasti begitu banyak pekerjaan. Apalagi pekerjaan itu pasti harus selesai sebelum hari pernikahan.


Kanaya bukan Hazel yang bisa mengambil cuti karena ingin menikah, yang bisa di gantikan oleh yg lain. Karena Kanaya adalah pemiliknya, jadi dia yang harus mengurus segalanya.


"Tidak."


"Ya sudah, yuk." Ajak Hazel. Tangannya terayun ke arah mobil yang tak jauh terparkir dari tempatnya berdiri dengan Kanaya.


Kanaya hanya mengangguk, dia langsung berjalan yang di ikuti Hazel.


'Aku janji, Nay. Aku akan selalu menjagamu, aku akan selalu membahagiakan mu. Kamu dan Syifa.' batin Hazel penuh keyakinan.


»»————><————««

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2