Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Satu keinginan


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Nay, sudah pulang?" tanya Umi Uswah. Melihat Kanaya yang masuk ke dalam kamar Syifa membuatnya langsung bertanya.


Hari ini Kanaya terasa begitu merindukan Syifa, padahal dia juga pergi hanya di kantor saja dan tidak kemanapun. Setelah sampai di rumah dan orang pertama yang dia cari adalah Syifa siapa lagi selain putrinya yang kini tengah pulas dan di temani oleh Umi Uswah.


"Iya, Umi. Bagaimana, Syifa tidak rewel kan?" Kanaya duduk di hadapan Umi yang juga duduk di kasur Syifa tepat di sebelahnya tidur. Tangannya langsung meraih pipi Syifa untuk dielus juga matanya yang melihat betapa damainya Syifa tidur.


"Seperti biasa, dia selalu anteng di rumah. Dia adalah anak yang pinter, Nay. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Umi.


Senyum yang begitu tulus dari Umi mampu membuat Kanaya menjadi tenang, hanya menantu tapi Kanaya sudah seperti anak bagi Umi Uswah. Tiada anaknya bukan berarti hubungan mereka menjadi renggang, tapi malah sebaliknya. Hubungan mereka benar-benar sudah seperti ibu dan anak.


"Terima kasih, Umi." Kanaya juga tersenyum, dia begitu berterima kasih dengan Umi yang selalu saja menjaga Syifa. Entah apa yang akan terjadi jika tak ada Umi yang membantu.


"Umi keluar dulu, mumpung Syifa tidur kamu juga istirahat, Nay. Jaga kesehatan mu," Umi beranjak, menyentuh pundak Kanaya sebelum dia benar-benar pergi dari sana.


"Terima kasih, Umi."


Umi benar-benar pergi, sementara Kanaya dia masih ada di sana untuk melihat Syifa. Kerinduannya masih begitu besar dan akan selalu seperti itu.


Menatap lekat wajah damai anaknya, mengingat bagaimana wajah itu berbinar di penuhi kebahagiaan saat dia tersenyum.


"Benarkah Umi tidak bisa memenuhi segala yang kamu butuhkan, Nak? Apakah ada yang kurang?" tanya Kanaya lirih.


Kanaya begitu mengingat-ingat apa yang telah Arifin katakan tadi ketika berada di kantor. Dia merasa sudah cukup dengan memenuhi semua kebutuhan Syifa dan dia yakin Syifa juga terpenuhi dan tidak memiliki kekurangan apapun, itu hanya perkiraannya apakah yang Syifa rasakan sama seperti yang dia rasakan.


Dia memang tidak tahu bagaimana isi hati dari buah hatinya itu, yang dia tahu Syifa selalu saja terlihat bahagia dan tidak merasa kurang bagaimana mungkin Kanaya akan berpikir bahwa Syifa masih memiliki kekurangan dalam semua kebutuhannya?


"Apakah kamu tidak bahagia? Apakah kamu menyembunyikan semuanya dari Umi?"


Kanaya terus bertanya-tanya dengan apa yang mungkin dirasakan oleh Syifa, bagaimana dia bisa mencari jawaban itu apakah Syifa akan mengatakan semuanya dengan jujur jika dia bertanya?

__ADS_1


Hanya karena apa yang dikatakan oleh Arifin membuat hati Kanaya mulai bermasalah, dia mulai resah memikirkan keadaan Syifa yang pasti tidak diam ketahui bagaimana isi hatinya.


Bagaimana keinginannya? Bagaimana mimpinya? Dan bagaimana harapan terbesarnya saat ini?


"Maafkan Umi, Nak. Umi belum bisa membuat kamu benar-benar bahagia," gumamnya begitu lirih. Tangannya masih terus bergerak mengelus pipi hingga rambut Syifa.


Apa yang dilakukan oleh Kanaya saat ini sama sekali tidak membuat Syifa merasa terganggu, dia tetap tidur dengan lelap dan juga terlihat tersenyum kecil mungkin dia tengah bermimpi sesuatu saat ini dan mimpi itu pasti mimpi yang indah.


"Apa yang bisa Umi lakukan supaya kamu tetap bisa tersenyum seperti ini, Nak?"


Ucapan Kanaya begitu merintih, dia tau Syifa membutuhkan sesuatu yang jelas tidak bisa dia berikan, tapi dia juga tidak bisa memberikannya.


"Kita akan bahagia kan meski hanya berdua saja? Tidak perlu kan ada orang yang harus menjadi sandaran untuk kita. Kita punya Abi kan, yang akan setia menemani kita meski di dunia yang berbeda?" ucapnya pilu.


Tak ada jawaban, jelas tak akan ada karena Syifa tertidur. Kanaya hanya bisa mengatakan apapun dan itu dia tidak akan bisa mendapatkan jawaban dan tidak mau mendapatkannya.


Dia lebih memilih membiarkan Syifa tidak akan mendengar daripada dia mendengar dan akan terjadi obrolan yang aneh-aneh.


Tak lagi dia menolak, hanya pas dia menutup pintu saja dia melihat ke Syifa yang masih tetap berada di posisi yang sama.


Tapi tidak! Syifa langsung bangun dan duduk setelah Kanaya pergi dan pintu sudah tertutup. Melihat pintu itu dan handle pintu yang masih sedikit bergerak.


"Umi, sebenarnya Syifa hanya memiliki satu keinginan saja. Syifa hanya ingin punya Abi sana seperti teman-teman yang lainnya. Syifa ingin bisa bermain, di antar sekolah dan juga di bacain dongeng ketika akan tidur oleh Abi. Hanya itu saja, Umi."


"Tapi Syifa sangat takut untuk mengatakan pada Umi. Setiap Syifa ingin bicara pasti Umi selalu marah."


Satu keinginan yang benar-benar di inginkan oleh Syifa, dan itu lumrah untuk semua anak di usianya. Hanya menginginkan seorang ayah yang akan selalu ada di setiap apapun aktivitasnya.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Diam. Hanya itu yang Kayla lakukan. Tak ada pergerakan sama sekali ketika berada di dalam mobil Arifin.

__ADS_1


Dalih ingin menjauh tapi Arifin malah selalu saja membuat mereka selalu dekat. Dengan sengaja Arifin malah mengantarkan dia pulang ke kontrakan, bagaimana mungkin Kayla akan berbicara? Dia pasti sangat gugup kan?


Satu hal yang akan terjadi jika seorang perempuan ada di dekat laki-laki yang dia suka, dia akan diam seribu bahasa, dia juga akan salah tingkah dan tidak tenang pikirannya itulah yang sekarang tengah Kayla rasakan.


"Kenapa kamu diam terus dari tadi?" Arifin menyempatkan menoleh meski dia sangat diharuskan untuk fokus dengan jalan raya. Dia sangat penasaran saja kan?


Kayla selalu saja banyak bicara ketika ada Kanaya atau yang lain, tapi kenapa tidak ketika mereka hanya berdua saja?


"Hem, ti_tidak," Kayla memberanikan diri. Dia harus bertingkah biasa-biasa saja dan tidak akan memperlihatkan ketertarikannya pada Arifin. Iya kalau di sambut baik, kalau tidak!


"Benarkah? Tapi sepertinya tidak. Hem..., apakah kamu lapar makanya kamu diam?" ucap Arifin menebak.


"Tidak, saya tidak lapar. Tadi saya sudah makan di kantor," kali ini ucapan Kayla sudah lebih tenang dari sebelumnya dan itu membuat Kayla merasa tenang. Setidaknya dia bisa mengendalikan dirinya.


"Oh, baiklah. Padahal aku berniat ngajakin kamu makan," sekilas Arifin menoleh dan kembali lagi fokus dengan jalan, hanya sebentar saja hanya memastikan bagaimana bentuk wajah Kayla.


"Tidak usah, saya sudah makan," Semakin lama ucapan Kayla malah semakin kaku saja, mungkin dia mulai kesal karena Arifin terlihat begitu sengaja untuk membuatnya dekat tapi dia sama sekali tidak peka dengan perasaan yang Kayla miliki untuknya.


"Tidak masalah, pasti kamu ingin cepat pulang karena aku mampir di kontrakan kamu. Siapa tau kamu sudah menyiapkan sesuatu di sana," Arifin begitu percaya diri.


Dia memang tidak peka, tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Kayla tapi dia hanya sangat penasaran kenapa akhir-akhir ini Kayla begitu berubah padanya. Dia seolah ingin menjauh darinya.


Arifin sangat penasaran, dia tidak punya kesalahan sama sekali, tapi Kayla selalu menjauh dan juga selalu saja bersikap dingin padanya. Aneh, dan itulah yang ingin Arifin cari tau.


"Tidak ada, saya tidak menyiapkan apapun di kontrakan. Saya hanya lelah dan ingin istirahat, itu saja tidak lebih," tuh kan, lagi-lagi Kayla berbicara dengan begitu dingin padanya.


"Hem, tidak masalah tidak ada apapun, setidaknya hanya air mineral satu gelas saja ada kan? Aku sangat haus tenggorokan ku sangat kering," Tangan Arifin langsung menyentuh lehernya sendiri. Benarkah dia sangat kehausan, atau mungkin hanya akal-akalan Arifin saja?


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2