
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Ramai anak-anak dengan hafalannya, juga dengan tartilan mengajinya di tempat mengaji dengan Kanaya yang membimbing mereka.
Tak seperti biasa ada Opa Hasan juga Oma Uswah yang menemani, tapi kali ini Kanaya hanya sendiri saja. Kedua mertuanya itu sedang ada acara di tempat saudara jadi kini hanya Kanaya sendiri yang mengajar.
Begitu bahagia rasa hatinya, meski ada sedikit keributan dari anak-anak yang ingin mengaji lebih dulu tapi mereka tetap nurut setelah Kanaya menasehati.
"Umi, ini gimana?" tanya salah satu dari mereka.
Semua anak-anak memanggil Kanaya dengan panggilan Umi, sama seperti Syifa. Mereka sangat senang dengan panggilan itu.
"Sebentar ya," jawab Kanaya dengan tersenyum kecil. Meminta untuk menunggu sebentar karena Kanaya masih mengajar temannya.
"Assalamu'alaikum..."
Kanaya dan semua anak-anak menoleh saat ada yang datang, ada ibu-ibu paruh baya yang datang. Terlihat ibu itu sangat ramah, dia tersenyum melihat Kanaya dan juga semua anak-anak yang sedang belajar.
"Wa'alaikumsalam..., dengan siapa ya?" jawab Kanaya sekaligus bertanya. Ibu itu sudah langsung duduk di sebelah Kanaya dengan begitu sopan.
Memang dia lebih tua karena usianya mungkin hampir sama dengan Oma Uswah tapi dia begitu menghormati Kanaya selaku pembimbing dari semua anak-anak desa.
Keduanya bersalaman, saling menyapa dan juga berkenalan.
"Perkenalkan, saya bu Patmi. Sebenarnya..., sebenarnya saya datang ke sini karena keinginan dari cucu saya. Dia belum bisa mengaji dan baru ingin belajar. Tapi dia malu untuk bicara sendiri."
Kanaya masih diam mendengarkan apa yang menjadi tujuan dari ibu Patmi itu.
"Apakah dia boleh ikut gabung belajar di sini? Saya rumahnya di ujung desa dan cucu saya ini baru pindah dengan saya." ucapnya menjelaskan.
"Siapapun boleh belajar di sini, Bu. Kami akan menerima siapapun yang memang berniat ingin belajar. Semakin banyak yang belajar di sini pasti semuanya akan semakin semangat."
"Kalau cucu ibu memang mau belajar di sini suruh saja dia datang."
"Tapi cucu saya hanya ingin nak Naya yang mengajarinya. Dia tidak ingin belajar dengan siapapun. Bahkan mau di ajarin saya saja tidak mau."
Kanaya terdiam, ibu itu sudah mengenalnya. Tentu saja, kalau benar rumahnya memang di ujung desa berarti masih satu desa dengannya kan? Mungkin karena Kanaya sibuk jadi tidak bisa bersilaturahmi dengan semua tetangganya.
"Bagaimana, Nak. Apakah cucu saya boleh belajar di sini?" tanyanya memastikan.
"Tentu boleh, Bu." Senang rasanya Kanaya akan mendapatkan murid baru. Entah murid seperti apa yang satu ini, dia terlihat begitu keras kepala karena hanya ingin dia seorang yang mengajarinya.
"Kalau dia langsung mulai sekarang boleh?"
__ADS_1
"Tentu boleh, ibu jemput saja dia. Mumpung waktunya masih ada sebelum isya."
Ibu Patmi begitu bahagia, matanya langsung melihat ke arah tadi dia datang, tangannya melambai dengan perlahan juga dengan suara yang begitu pelan memanggil.
"Sini!" panggilnya. Tangannya juga terus melambai-lambai memanggil.
"Umi, ini bagaimana?" Baru saja Kanaya ingin melihat cucunya yang di panggil tapi ada anak didiknya yang menghampiri karena ingin minta penjelasan.
Perlahan Kanaya menjelaskan, anak itu tersenyum senang karena apa yang dia bingungkan sudah terjawab. Anak itu kembali pergi.
"Perkenalkan, Nak. Ini adalah cucu saya." ucap Bu Patmi.
Perlahan Kanaya menoleh, betapa terkejutnya Kanaya saat melihat siapa yang datang.
"Ma_ mas Hazel?" antara percaya dan juga tidak percaya. Yang datang adalah Hazel, yang sudah dia kenal.
Bukankah dia adalah non muslim, tapi kenapa dia datang untuk belajar mengaji bersama Kanaya?
Kanaya begitu bingung, melihat Hazel dan juga Bu Patmi dengan bergantian.
Hazel dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya. Biasanya hanya dengan kemeja dan juga celana saja dan sekarang dengan koko putih agak kusam, kopyah hitam dan juga sarung berwarna hijau bergaris.
Apakah Hazel menjadi mualaf? Itulah yang menjadi pertanyaan di dalam hati Kanaya. Dia masih saja bingung karena hal ini.
"Di_ dia cucu Ibu? Bukankah dia..."
Hazel tersenyum gagu, dia menghampiri Bu Patmi dan duduk di sebelahnya. Seperti anak kecil yang berlindung dengan ibunya saat berhadapan dengan guru yang pertama kali. Malu juga takut akan di tolak.
"Non muslim, itu beberapa jam yang lalu. Tapi sekarang dia sudah muslim." jawab Bu Patmi yang seolah tau apa yang di pikirkan oleh Kanaya.
Kanaya masih tertegun, dia bingung dengan semuanya. Bagaimana mungkin Hazel berubah begitu cepat, apa alasannya?
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Flashback....
"Kamu sudah yakin, Nak. Apakah kamu tidak takut kalau papamu akan marah?" tanya Ibu Patmi pada Hazel yang sudah mengatakan keinginannya.
Sepulang dari makam mendiang suami Kanaya, saat itulah dia yakin ingin menjadikan dirinya seiman dengan Kanaya. Dia sadar, bahwa perbedaan keyakinanlah yang membuat dia tak akan bisa bersama dengan Kanaya dan tak akan bisa mendapatkan cintanya.
"Hazel sudah sangat yakin, Oma. Hazel ingin berubah karena ingin mendapatkan cintanya."
Bu Patmi tertegun.
__ADS_1
"Berarti kamu ingin berubah hanya karena wanita?" Bu Patmi terkejut itu pasti.
Tak masalah dengan alasan apa seseorang bisa mendapatkan hidayah. Bisa dengan cinta, bisa dengan harta, juga bisa dengan sakit.
"Lalu, bagaimana kalau kamu tidak mendapatkan cintanya, apakah kamu akan berubah lagi? Keyakinan bukanlah hal yang bisa kamu permainkan, Hazel."
"Ayolah, Oma. Oma harus mendukung Hazel. Hanya dengan ini Hazel bisa mendapatkan cintanya."
"Nak, berubahlah karena keyakinan mu pada Sang Pencipta, jangan hanya karena cinta. Oma tidak mau sampai kamu menyalahkan Sang Pencipta jika kamu tidak mendapat apa yang kamu mau."
"Apa sih, Oma. Hazel sangat yakin. Hazel akan mendapatkannya."
Begitu keras kepala Hazel untuk bisa mengubah keyakinan. Demi cinta, itulah alasannya sekarang.
"Baiklah, semoga kelak kamu bisa menerima keyakinan di hatimu bukan karena cinta, tapi kamu benar-benar yakin dan akan menjadi Allah sebagai alasan pertamamu mengubah keyakinan."
"Ayolah, Oma. Kita datang ke tempat pak Kyai. Hazel ingin menjadi seperti Oma."
*********"
"Asyhadu Alla Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Dua kalimat syahadat telah terucap di bibir Hazel di hadapan seorang Kyai juga semua jemaah maghrib di dalam masjid.
Hazel sudah sangat yakin ingin menjadikan dirinya seorang muslim untuk bisa mendapatkan cintanya. Tak ada paksakan secara lisan, tapi cinta dalam hatinya lah yang sebenarnya telah memaksa dia untuk melakukan itu.
Doa terbaik di berikan oleh pak Kyai, dan semua jamaah mengaminkannya.
"Alhamdulillah, mulai sekarang nak Hazel adalah seorang muslim. Nak Hazel bisa mengurus semua identitasnya besar di pengadilan agama."
"Terima kasih, Pak Kyai." Senyum terpancar jelas di bibir Hazel. Dia begitu bahagia karena langkah pertama telah dia wujudkan.
Bukan hanya Hazel yang bahagia, tapi Bu Patmi juga.
Ujian pasti akan di mulai setelah ini. Hazel tidak mengatakan ini sebelumnya pada kedua orang tuanya, jelas saja akan terjadi masalah.
Tapi keinginan Hazel sudah sangat kuat, dia akan menghadapi semuanya meski harus berhadapan dengan kedua orang tuanya sendiri.
Flashback end...
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung.....
__ADS_1