
»»————><————««
"Om Hazel!" teriak Syifa. Melihat Hazel datang dia langsung berhamburan keluar dan menyambut kedatangan orang yang begitu dekat padanya itu.
Hazel tersenyum, jelas saja dia sangat bahagia karena kedatangannya begitu di sambut baik oleh si kecil yang begitu menggemaskan itu.
"Om!" Syifa langsung merenggangkan kedua tangannya, meminta untuk di gendong oleh Hazel yang sudah ada di depan rumah.
"Halo sayang bagaimana kabarmu sekarang, kamu sehat kan?" tanya Hazel dengan suara lembutnya yang terdengar begitu besar akan kasih sayang.
"Tentu dong, Om! Syifa sangat sehat." jawab Syifa. Dia sudah berada di gendongan Hazel dan sudah mulai di angkat oleh Hazel.
"Hem, bagaimana kalau Umi?" tanyanya.
"Umi masih terus diam saja, Om. Dia jarang sekali tersenyum, emangnya Umi kenapa sih, Om? Umi sakit?" tanya Syifa begitu penasaran dengan keadaan Uminya.
"Umi hanya lelah," jawab Hazel. Dia mulai melangkah masuk dengan menggendong Syifa.
"Hem, bagaimana kalau kita ajak Umi untuk jalan-jalan? Om yakin nanti Umi pasti akan senyum lagi, mau?"
Syifa langsung mengangguk, sepertinya dia sangat setuju dengan ide dari Hazel.
"Tapi Syifa harus bantuin Om, nanti Syifa yang ajak umi, bagaimana?"
Syifa terlihat terdiam dalam sesaat, dia berpikir keras sepertinya.
__ADS_1
"Hem, bagaimana caranya, Om?" tanyanya antusias.
"Begini...," Hazel langsung membisikkan sesuatu pada Syifa, bocah itu diam dan fokus mendengarkan. Hingga di ujungnya dia tersenyum begitu senang sembari mengangguk setuju.
"Oke, Om. Syifa akan ajakin Umi. Tapi beneran Umi akan tersenyum lagi kan?"
"In_ insya Allah," jawab Hazel. Ucapannya masih terdengar kaku hingga membuat Syifa tersenyum bahkan hampir tertawa. Lucu saja saat dia mendengarnya.
"Eh, ada nak Hazel, silahkan masuk."
Keduanya menoleh dan ternyata Opa Hasan yang baru keluar dari kamarnya sendiri bersama Oma Uswah.
"Assalamu'alaikum, Om," Hazel masuk, melangkah pelan namun pasti masih dengan menggendong Syifa.
Penuh harapan akan hal itu, jika benar pastilah akan ada orang yang bisa menjaga Kanaya dan juga Syifa. Bisa menyayangi keduanya dan juga terus memberikan sesuatu yang seharusnya di berikan oleh mendiang anaknya.
"Wa'alaikumsalam," kedua orang tua itu menyambut dengan baik kedatangan Hazel, mereka juga terlihat begitu bahagia.
"Oma, Opa. Hem..., Syifa boleh ajakin Umi jalan-jalan kan?" tanyanya.
"Hem?" Keduanya saling pandang lalu tersenyum.
"Boleh dong, tapi akan pergi bersama siapa?"
"Hem, sama om Hazel." Syifa nyengir kuda. Tangannya menunjuk dan matanya seketika melihat Hazel yang juga tersenyum dengan isyarat memohon akan mendapatkan izin dari kedua orang tua itu.
__ADS_1
Harapan besar, bukan hanya dari Hazel saja tapi juga dari Syifa untuk mendapatkan izin. Sementara kedua orang tua itu juga memiliki harapan besar bahwa kepergian mereka akan bisa mengembalikan senyum Kanaya yang hilang.
"Tentu saja boleh. Pergilah," jawab Opa Hasan dengan begitu ikhlas.
"Ye!" Syifa seketika berteriak, dia juga langsung turun dari pangkuan Hazel supaya bisa berlari pergi ke kamar sang Umi yang tak jauh dari ruang itu.
Semua melihat bocah kecil itu berlari dengan begitu antusias, dia begitu bahagia.
"Nak, tolong jaga mereka. Saya percaya padamu," ucap Opa Hasan. Membuat Hazel langsung memalingkan tatapannya dari Syifa.
"In_ insya Allah, Om. Saya akan menjaga mereka," begitu gugup. Meminta izin pada mereka sama seperti dia izin pada orang tuanya Kanaya, sungguh mendebarkan.
"Jangan hanya insya Allah, tapi harus. Kalau kamu mengajaknya pergi maka kamu harus menjaga mereka dan harus berusaha untuk membuat mereka tersenyum bahagia. Nak, saya mohon, buat Kanaya kembali bahagia dan semangat lagi."
Begitu berharap bahwa Hazel akan mampu membuat Kanaya mendapatkan senyumnya lagi. Meski tak mudah tapi Opa Hasan sangat percaya bahwa Hazel akan mampu melakukannya.
"Saya akan berusaha, Om." Hazel mengangguk yakin.
Begitu percaya Opa Hasan juga Oma Uswah, memberikan tanggung jawab itu pada Hazel. Sadar dan tidak tapi itulah yang sudah dia katakan.
Mendapatkan kesempatan seperti itu membuat Hazel percaya dan sangat yakin bahwa restu sudah dia dapatkan dari mereka, jika tidak ada restu tak akan mungkin mereka memberikan izin untuk dirinya membawa Kanaya pergi.
»»————><————««
Bersambung..
__ADS_1