
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Allahu akhbar Allahu akhbar....
Suara adzan menggema begitu jelas dari masjid di sebelah taman. Dari pagi sampai siang Syifa masih begitu asyik main bersama Hazel, dan kini mereka berdua duduk di bawah pohon dan menyewa tikar.
Rasa kantuk, juga rasa lelah tak terasa bagi Hazel, dia sangat bahagia. Padahal biasanya kalau dia kerja malam karena ada pasien darurat siangnya dia akan tidur di rumah dan tidak pergi kemana-mana, tapi sekarang? Lelahnya bilang begitu saja.
Syifa yang tengah bermain langsung berhenti setelah mendengar suara adzan tersebut, dia menoleh mencari masjid dan betapa bahagianya ketika dia menemukannya tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Kakek Danu ini sudah adzan, kita shalat dulu yuk," ucapnya.
Pak Danu mengangguk. "Ayo," Pak Danu juga langsung membereskan mainan yang berserakan di sana, mainan baru yang Hazel beli hanya untuk membuat Syifa selalu tersenyum saat bersamanya.
Hazel terus saja memberikan apa yang di mau oleh Syifa, bahkan Syifa hanya sekedar melirik saja dia langsung belikan. Hazel sungguh peka dengan semua keinginan Syifa.
"Om, kita shalat yuk," ajak Syifa.
Hazel melongo diam, memandangi Syifa yang sudah berdiri dan sudah menarik jari telunjuknya untuk meminta Hazel juga berdiri.
"Maaf, Syifa sayang. Om tidak shalat," jawab Hazel dengan begitu lembut.
"Kok tidak shalat sih om, nanti dosa loh! Kata Umi kalau udah besar kalau tidak shalat dapat dosa, kalau dosa nanti di masukan ke neraka oleh Allah," ucap Syifa menjelaskan.
Hazel tersenyum kecil menanggapi perkataan Syifa. Tidak mungkin dia akan shalat karena dia dan Syifa tidak seiman, mereka berbeda dan jelas cara ibadahnya juga berbeda.
Pak Danu sedikit kecewa, dia sudah menaruh harapan pada Hazel namun ternyata mereka tidak seiman. Tapi pak Danu menghargai itu, dan langsung memberikan pengertian pada Syifa.
"Syifa sayang, om Hazel tidak sama dengan kita. Om Hazel tidak sama ibadahnya dengan kita, jadi sekarang kita shalat ya biarkan om Hazel menunggu disini."
"Beneran, Om?"
Hazel mengangguk, "iya."
Sangat kecewa karena tak bisa shalat bersama-sama dengan Hazel tapi Syifa bisa menghargai itu ternyata.
"Kami pergi dulu," pamit pak Danu. Tangannya langsung menggandeng tangan kecil Syifa.
"Kakek, maksudnya berbeda itu apa?"
"Apa kamu tau, di negara kita bukan hanya ada satu agama saja kan? Dan agama kita dengan om Hazel tidak sama jadi ibadah kita juga berbeda." Pak Danu menjelaskan sembari berjalan.
"Oh, gitu ya," Syifa mengangguk mengerti. Meski sebenarnya masih belum paham lebih dalam lagi tapi Syifa tetap mengangguk.
"Berarti om Hazel tidak shalat juga tidak mengaji ya, Kek?"
"Shalat dan mengaji itu cara kita beribadah, om Hazel juga tentu ada caranya untuk ibadahnya."
__ADS_1
Hazel masih mendengar ucapan mereka, dia tersenyum. Melihat anak kecil seperti Syifa yang begitu sangat penasaran dalam hal apapun.
Rasa kantuk kini begitu mendera pada Hazel, cuaca memang panas tapi dia yang ada di bawah pohon yang teduh dengan hembusan angin yang sejuk tentu membuat kantuk itu semakin besar.
Hazel meraih jas putihnya yang sudah dia lepaskan dari tadi, dia gunakan sebagai bantal untuk bisa tidur sejenak, setidaknya sampai Syifa kembali dari shalatnya.
Hazel benar-benar tidur dengan menutup matanya dengan satu tangannya dan yang satu dia letakan di atas perut.
Lima belas menit Syifa dan pak Danu kembali, mereka sudah selesai dengan shalatnya.
"Kakek, Om Hazel tidur," bisik Syifa pada pak Danu.
Mengetahui mereka berbeda tidak lantas membuat Syifa menjauh dari Hazel, dia tetap berperilaku seperti sebelumnya apalagi setelah mendapat nasehat dari pak Danu bahwa Syifa harus tetap menghargai siapapun meski mereka berbeda.
"Iya, biarkan om tidur dulu. Om Hazel pasti sangat lelah karena dia juga kerja semalaman."
"Begini saja, Syifa di sini dulu main sendiri tidak apa-apa kan? Kakek belikan makan siang."
Pak Danu mengarahkan Syifa untuk duduk tepat di sebelah Hazel, bahkan punggung Syifa hampir menempel dengan pinggang Hazel. Pak Danu akan tenang meninggalkannya karena ada Hazel meski tertidur.
"Oke, Kakek. Jangan lama-lama ya," jawab Syifa.
Setelah pak Danu pergi Syifa tidak bermain, dia juga merasa lelah karena terus bermain dengan Hazel tadi. Dengan sengaja bocah kecil itu menarik tangan Hazel dan dia tidur di lengannya, satu juga di tarik dan di taruh di tubuhnya sendiri seolah Hazel memeluk Syifa.
Setelah posisinya sesuai dengan yang Syifa ingin Syifa juga memeluk Hazel.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Kanaya terus mencari-cari Syifa setelah sampai di taman, matanya terus menyipit karena panas yang luar biasa. Tak ada anak-anak lagi yang terlihat di tengah-tengah, hanya pada bermain di tikar masing-masing yang di sewa.
"Syifa dimana sih?" gumam Kanaya dan terus berjalan.
Wajahnya terus menoleh mencari-cari keberadaan Syifa, berharap dia cepat menemukannya dan mengajaknya pulang karena begitu panas terik.
Berkali-kali Kanaya menghubungi pak Danu tapi sekalipun tidak di angkat, di chat juga tidak di balas siapa yang tidak bingung?
Kanaya masih terus berjalan, melihat satu persatu tikar siapa tau ada Syifa dan pak Danu. Tidak mungkin mereka sudah pulang karena Kanaya sudah menghubungi rumah dan mereka bilang Syifa belum juga pulang.
Apakah Syifa begitu marah pada Kanaya?
Sekali lagi Kanaya menghubungi pak Danu tapi tetap saja tidak di angkat. Kanaya kembali berjalan dengan begitu gelisah.
"Nay!" Kanaya menoleh dan ternyata Arifin juga Kayla yang memanggil.
"Syifa belum ketemu?" tanya Arifin. Mereka bertiga berdiri dengan berhadapan.
"Belum, Mas. Sudah dari tadi Nay mencari tapi belum ketemu juga. Pak Danu aku hubungi tidak menjawab."
__ADS_1
Arifin ikutan bingung, matanya mengedar kesegala arah yang bisa di jangkau tapi sepertinya tidak ada. Arifin tidak melihat.
"Kamu sudah mencari di sebelah sana?" Jari telunjuk Arifin menunjuk.
"Belum, ini baru mau ke sana."
"Ayo kita cari bersama. Lah, itukan pak Danu."
Arifin menunjuk pak Danu yang berjalan dengan membawa kresek yang berisi tiga kotak box kecil, sepertinya itu berisi makanan.
"Pak Danu!" Teriak Arifin. Arifin, Kanaya juga Kayla langsung menghampiri.
Sementara pak Danu langsung menghentikan langkah setelah mendengar namanya di panggil.
"Mas Arifin, Bu Naya." Pak Danu nampak terkejut dengan kedatangan mereka bertiga.
"Pak, Syifa dimana? Kenapa pak Danu tinggal-tinggal, kalau Syifa kenapa-napa bagaimana?" Kanaya langsung maju, jelas dia sangat khawatir.
"Maaf, Bu. Saya hanya pergi untuk beli makan siang sebentar. Neng Syifa aman kok."
Aman?
"Sekarang dimana dia?" Meski pak Danu mengatakan aman tetap saja Kanaya tidak merasa seperti itu. Syifa masih kecil tidak baik jika di tinggal, bagaimana kalau ada orang yang berniat tidak baik padanya.
"Itu di tikar itu," Pak Danu menunjukkan. Tak terlihat siapa yang ada di atas tikar itu karena tikarnya hanya terlihat satu sudutnya saja, yang sebelah lain tertutup oleh bunga-bunga.
Kanaya yang tak melihat Syifa langsung berlari dia sangat khawatir. Bukan hanya Kanaya saja, tapi semuanya juga berlari.
Kanaya terpaku diam melihat Syifa yang tidur bersama Hazel dan saling berpelukan. Mereka berdua terlihat begitu nyenyak.
Bukan hanya Kanaya tapi Arifin juga terlihat terpaku, dia langsung berdiri di belakang Kanaya dengan bersedekap dada.
"Hem, Uminya bingung mencari ternyata anaknya malah asyik tidur di sini." Arifin menggeleng. Namun hatinya terlihat begitu bahagia melihat kedekatan antara Syifa juga Hazel.
"Maaf, Bu. Saya tidak menceritakan ini, neng Syifa melarang saya untuk bercerita. Dari pagi Mas Hazel menemani kami di sini."
"Orang ini, bukankah dia kerja?" lirih Kanaya namun tetap terdengar oleh pak Danu.
"Mas Hazel kebetulan pas pulang dari rumah sakit, Bu. Dia kerja malam dan pas mau pulang dia melihat Neng Syifa terlihat sedih dia langsung datang dan menghiburnya, bahkan mas Hazel terus mengajak bermain dan terus membuatnya tertawa. Neng Syifa begitu bahagia hari ini, Bu." ucap pak Danu menjelaskan.
Kanaya terdiam, dia merasa sangat bersalah saat ini. Karena kesibukan dia melupakan anaknya dan sekarang anaknya malah bersama orang lain. Apalagi orang lain itu juga tidak melihat keadaannya sendiri yang mungkin sangat lelah karena kerja semalaman, dia rela terus menemani anaknya dan membuatnya terus bahagia.
'Umi macam apa aku ini?' batin Kanaya.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung....
__ADS_1