Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Setia Menemani


__ADS_3

»»————><————««


"A-aku dimana?" Mata Kanaya mengedar sempurna, melihat ruangan serba putih yang begitu asing.


Dia menoleh dan mendapati Hazel yang tertidur dengan bersandar pada kursi, pria itu setia menunggunya. Mendengar ucapan Kanaya yang lirih Hazel tetap terbangun, dia langsung beranjak dan menghampirinya.


"Nay, kamu sudah bangun, alhamdulillah," Hazel begitu bahagia, senyumnya mengembang dengan begitu manis. "Sebentar, biar aku panggilkan dokter."


Hazel berlari keluar, dia memang bisa memeriksanya sendiri tapi itu bukan tugasnya.


Kanaya tak menjawab, dia hanya diam dan mengikuti kemana Hazel pergi. Menunggu dengan sabar saat Hazel keluar hingga tak berapa lama Hazel kembali masuk bersama seorang dokter perempuan dan satu perawat.


"Apa yang ibu rasakan sekarang, apakah ada keluhan?" tanya dokter itu sembari memeriksa Kanaya.


"Hanya pusing saja, Dok." Suara Kanaya terdengar masih begitu lemah, jelas saja, dia baru saja sadar setelah seharian dia tak sadarkan diri. Dari di bawa ke rumah sakit pagi hari dan kini sudah malam.


"Alhamdulillah, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Mungkin ibu mengalami pusing karena benturan saja."


"Terima kasih, Dok." Hazel yang berbicara.


"Sama-sama, Dok. Saya tidak perlu berbicara banyak, karena saya tau dokter lebih tau apa yang harus di lakukan." Dokter itu tersenyum, seolah menyentil Hazel yang tersenyum malu-malu.


"Jaga dengan baik, Dok. Jangan tinggal tidur mulu. Saya permisi," Sembari tersenyum dokter mulai melangkah untuk keluar.


"Hehe, maaf," Hazel merasa begitu malu, dia tidur juga karena semalam harus tugas dan siang yang seharusnya dia gunakan untuk istirahat malah dia gunakan untuk terus menjaga Kanaya. Wajar lah dia mengantuk barusan.


Kanaya seakan tak enak hati dengan Hazel, Hazel pasti terus menjaganya.


"Maaf, Mas. Gara-gara Naya?"


"Ssttt, ini bukan salah kamu, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai calon suamimu." Seolah tau apa yang akan Kanaya ucapkan. Hazel mendekat.


"Pasti mas sangat lelah kan?" Sedih rasanya. Kanaya tau betul kalau Hazel pasti melakukan segalanya untuk dirinya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak lelah, tapi aku takut kalau sampai terjadi apa-apa padamu." Sungguh! Hazel tidak akan sanggup jika terjadi apa-apa pada Kanaya.


Pipi Kanaya memerah, merona hanya karena perkataan Hazel barusan.


"Kenapa dengan pipimu, apakah kamu demam?" Hazel mulai panik, dia ingin menyentuh kening Kanaya sekedar untuk memastikan. "Tidak, terus?"


Baru saja Kanaya ingin menghindar tapi tangan Hazel terlalu cepat dan berhasil menyentuh keningnya. Heran, yang merah pipi tapi yang di sentuh kening.


"Ma-maaf," Hazel menyadari, bukan demam penyakit yang terjadi pada Kanaya, melainkan demam cinta karena Hazel.


"Ma-mas, bagaimana dengan Syifa?"


"Syifa sudah tau, tadi siang aku ajak dia ke sini. Sebenarnya dia tidak mau pulang, tapi aku berhasil meyakinkannya. Dia harus istirahat dengan benar kan?"


"Apa yang aku lakukan benar?" Imbuh Hazel.


"Hem, terima kasih." Sungguh beruntung Kanaya bisa mengenal Hazel. Dia begitu sayang dengan dirinya dan juga Syifa. Dia begitu pengertian dan memperhatikan kebaikan.


"Eist! Semuanya tak ada yang gratis."


"Tentu, dan bayarannya akan aku minta setelah kita menikah nanti."


Seketika Kanaya menelan salivanya dengan susah, tenggorokannya terasa kering begitu saja. "Me-menikah?" Lirih Kanaya. Restu saja belum di dapat sudah membicarakan pernikahan.


"Secepatnya kita akan menikah. Aku tidak mau kamu mengalami hal-hal yang seperti ini lagi. Aku harus bisa menjagamu selama dua puluh empat jam."


"Ta-tapi?"


"Tidak ada tapi dan tidak ada komentar apapun. Setelah kamu pulang aku akan membicarakan ini dengan Umi dan Abi."


Begitu yakin Hazel untuk menikahi Kanaya seperti tak ada hambatan apapun lagi.


"Ta-tapi Om Davin?"

__ADS_1


"Dia harus merestui, mau bagaimanapun itu yang harus dia lakukan."


"Apa Mas--?" Ucapan Kanaya terhenti.


"Sudah, jangan banyak bicara. Tidurlah."


"Aku belum selesai bicara, Mas. Bagaimana dengan Om Da--."


"Istirahat atau hal yang seharusnya di lakukan setelah menikah aku cicil mulai sekarang." Ucapan Hazel begitu meyakinkan. Terlihat tidak main-main.


Seketika Kanaya memberengut, menarik selimut untuk menutupi semuanya bahkan sampai wajahnya dan menyisakan mata yang begitu kecil.


"Jangan seperti itu, kamu tidak akan bisa bernafas." Ucap Hazel namun Kanaya tetap tak membukanya, dia terlalu takut dengan ancaman Hazel, apalagi mereka hanya berdua saja di ruangan itu.


Hazel mengulas senyum, manjur juga ancamannya dan menghentikan Kanaya yang masih ingin bicara.


»»————><————««


"Bukan, bukan saya yang melakukannya. Mu-mungkin, mobilnya hanya kebetulan sama." Ziana terus mengelak dari pertanyaan polisi yang berhasil menangkapnya. Untung saja di tempat kejadian ada satu cctv yang bisa menangkap pelaku dengan mudah.


"Kebetulan sama? Hem! Bukan kebetulan, tapi memang mobil yang sama dan kamu yang melakukannya. Kamu menabrak dengan sengaja lalu melarikan diri. Benar begitu kan?"


Polisi terus menginterogasi, dia mulai geram pada Ziana yang terus mangkir dari tuduhan yang sudah sangat mendasar. Semua bukti sudah jelas dan Ziana masih tak mau mengakui.


"Bukan saya yang melakukan, bukan saya!" Mata Ziana membulat, dia tetap tak mau mengakui.


"Bawa dia ke sel, mungkin dengan itu dia bisa mengingat semua yang sudah dia perbuat." Titah polisi di hadapannya.


"Tidak, saya tidak mau!" Ziana mulai panik melihat dua polisi berjalan ke arahnya. "Bukan saya yang melakukan, bukan saya!"


"Ayo!" Langsung keduanya menarik Ziana, membawanya ke sel yang di anjurkan.


"Dasar, kebanyakan kejahatan di awali karena hubungan asmara." Polisi hanya bisa geleng-geleng setelah kepergian Ziana dari hadapannya.

__ADS_1


»»————><————««


Bersambung...


__ADS_2