Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Kalah cepat


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Kay," Kanaya menghentikan langkah dari sekretarisnya yang hendak pergi keluar untuk istirahat siang ini, mungkin dia juga akan mencari makan siang seperti biasa.


"Iya, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?" Kayla menghentikan langkah juga seketika menoleh ke arah Kanaya yang sudah berjalan untuk mendekatinya.


Melihat mereka berdua sudah saling berhadapan Arifin yang melihat pun juga merasa penasaran sehingga ikut mendekat, dan berhenti di samping mereka berdua.


"Ada apa nih?" Arifin sangat penasaran hingga dia langsung bertanya dan membuat kedua wanita itu menoleh secara bersamaan.


"Kami mau makan siang, Mas. Mas mau gabung juga?" Kanaya menjawab lebih dulu menghilangkan kebingungan dari Kayla yang hendak menjawab pertanyaan Arifin. Meskipun begitu Kayla tetap merasa heran karena tidak biasanya Kanaya akan bergabung pada dirinya sekedar makan siang.


Kayla sempat terkesiap dengan perkataan Kanaya barusan karena tidak biasanya Kanaya akan bergabung dengannya.


"Boleh," Arifin setuju, mereka pun pergi bertiga menuju tempat yang tidak jauh dari sana.


Tak ada rasa lelah bagi Kanaya melewati jalan hidup yang dia lewati, dia tetap semangat, menjadi seorang wanita yang benar-benar di inginkan oleh mendiang suaminya.


Tidak buruk menjadi sesuatu yang bukan dirinya, tidak buruk juga melupakan mimpinya dan kini meneruskan mimpi suami yang tak bisa di jalankan olehnya.


Perusahaan tetap berjalan, semua usaha pun juga berjalan sebagaimana semestinya bahkan dengan ketekunannya kini bisa lebih besar dari sebelumnya.


Bukan hanya para pekerjanya saja yang bangga, tapi kedua orang tua suaminya juga lebih bangga lagi bisa memiliki menantu yang bisa menggantikan anaknya.


Memang tidak mudah, tapi Kanaya tidak sendiri, ada orang-orang yang selalu mendukungnya dan selalu menemani di setiap langkahnya.


Dari kejauhan, di sebuah kafe, Kanaya bisa memandangi perusahaan yang sekarang ada di tangannya dengan perasaan bangga. Dia tersenyum, melihat keberhasilan dari kerja kerasnya yang semua itu bisa terjadi karena keyakinan dari suaminya kalau Kanaya bisa melakukan apapun.


"Nay, kamu kenapa?" Arifin ikut melihat gedung tinggi itu dari kaca besar yang ada di kafe.


"Tidak," Kanaya menjawab dengan singkat. Dia tidak ingin menceritakan apapun pada Arifin, biarkan semua hanya dirinya yang tau.


Memang Kanaya tidak mengatakan, tapi Arifin tidak bisa di bohongi dia bisa melihat semuanya dari mata Kanaya yang perlahan mulai berair namun dengan cepat Kanaya menyembunyikannya.

__ADS_1


"Oh iya, Nay. Bagaimana dengan Syifa?" Arifin berusaha mengalihkan perasaan Kanaya yang pasti sedang tidak baik. Dengan bertanya tentang Syifa pasti perasaan Kanaya akan berubah.


"Alhamdulillah, Syifa baik. Dia juga selalu menanyakan kapan mas Arifin akan berkunjung. Katanya dia sangat merindukan mas Arifin," jawab Kanaya.


Tangannya perlahan meraih sedotan yang ada di gelas, menariknya pelan hingga sampai di bibirnya kemudian dia menyeruput minuman itu untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Hem, kapan ya? Nanti deh sepulang kantor mas datang ke rumah."


"Oh iya, Mas. Mas bagaimana dengan kabar wak? Dia baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah, minggu kemarin mas pulang ke Magelang, dan ibu sehat-sehat di sana. Dan apa kamu tau? Ibu lagi panen raya, tanaman cabenya berhasil harganya pun juga sedang lumayan," ucap Arifin bercerita.


"Alhamdulillah, ikut seneng kalau wak sehat dan sukses," Kanaya tersenyum dan kembali menikmati makanan dan minumannya.


Sementara Kayla, Kayla dari tadi hanya diam dan menjadi pendengar tidak tau apa yang mereka berdua bicarakan.


"Kay, kok diam saja?" Kanaya menoleh, dan tentunya merasa tidak enak juga karena asyik ngomong sendiri dan membiarkan Kayla menjadi pendengar setia.


"Hem, nggak apa-apa, Bu," Kayla tetap tersenyum meski dengan kaku. Bagaimana mau bicara kalau dia sendiri tidak tau topik mereka berdua.


Kayla tidak biasa makan bersama dengan bosnya juga belum pernah makan bersama Arifin. Rasa gugup begitu besar menguasainya hingga untuk makan saja rasanya sangat susah.


Sesekali Kayla melirik ke arah Kanaya, juga sesekali beralih ke arah Arifin. Laki-laki itulah yang membuat dirinya merasa gugup bukan main, tapi dia sendiri tidak tau apa alasannya.


Apakah ada rasa yang tumbuh di hati Kayla untuk Arifin?


Tidak, tidak! Kayla selalu menolak rasa itu ketika akan mulai tumbuh. Ada rasa tak pantas karena jabatan mereka yang jauh berbeda, juga Kayla yang hanya dari keluarga biasa saja.


"Kay, apa ada sesuatu?" Kayla yang menunduk namun matanya sedikit melirik ke arah Arifin kepergok oleh Kanaya. Sangat jelas.


"Hem, ti_tidak kok, Bu," Kayla kembali tersenyum namun ucapannya semakin gugup tak karuan dengan jantung yang lebih cepat bekerja juga.


Kanaya menoleh ke arah Arifin, kakak sepupunya itu tidak sadar kalau dia di perhatikan oleh Kayla.

__ADS_1


"Kenapa?" Arifin bingung karena tatapan Kanaya yang sangat aneh menurutnya.


"Tidak," Kanaya menggeleng halus, dia masih tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan. Siapa tau dia salah, iyakan?


"Permisi, boleh gabung?"


Mereka bertiga menoleh secara bersamaan.


Pria berkemeja biru muda, dengan celana hitam dan rambut tertata rapi itu tersenyum kepada mereka bertiga setelah meminta izin untuk bergabung.


Arifin juga Kayla mengernyit bingung karena belum mengenal laki-laki itu, tapi Kanaya? Kanaya juga mengernyit tapi karena bingung juga heran saja kenapa pria itu bisa sampai di sana.


"Kursinya penuh, dan hanya sisa kursi ini saja yang tersisa boleh gabung? Kalau tidak juga tidak apa-apa, saya bisa menunggu yang lain pergi dulu," ucap pria itu yang gak lain adalah Hazel.


Kedua tangannya sudah penuh, satu membawa gelas sementara satunya sudah membawa piring, jadi bagaimana mungkin dia akan menunggu orang lain pergi dulu?


"Si_silahkan," jawab Kanaya. Kanaya sedikit menggeser kursinya supaya tidak begitu dekat dengan Hazel. Ya! Kursi yang tersisa itu tepat di tengah-tengah antara Kanaya dan Arifin.


"Terima kasih," Hazel tersenyum kepada semuanya, sepertinya dia sangat senang karena diizinkan untuk bergabung dengan mereka.


Sekali lagi Arifin menoleh kesana kemari dan ternyata memang benar, semua kursi sudah penuh. Jelas, ini adalah istirahat siang dan semua membutuhkan makan di waktu yang sangat singkat.


Kanaya jadi pendiam sekarang, dia terus menunduk dan hanya akan menoleh ke arah Kayla saja.


"Bo..." Mereka kembali menoleh lagi, dan kali ini Dirga yang datang. Rupanya dia kalah cepat dengan Hazel.


"Eh, kamu Ga? Maaf, tapi kursinya sudah penuh," Arifin yang berbicara lebih awal karena dia yang juga lebih asal tau akan kedatangan Dirga.


"Oh, baiklah. Saya akan ketempat lain," jawab Dirga. Nada suaranya sudah terdengar berbeda dan Arifin jelas tau karena dia juga seorang laki-laki. Dia pernah merasakan hatinya panas juga karena urusan cinta.


Dirga menoleh ke arah Kanaya, begitu juga dengan Hazel yang sama.


'Hem, sepertinya ada persaingan nih antara mereka berdua,' batin Arifin yang sadar kalau mereka berdua sama-sama ingin dekat dengan Kanaya.

__ADS_1


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....


__ADS_2