
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Kanaya tertegun melihat Hazel yang baru saja datang. Bukan karena penampilannya yang membuat dia melongo, tapi kenapa datang harus pakai bawa buket bunga juga, mana besar lagi.
Sementara Hazel hanya cengengesan dengan terus melangkah mendekat. Ini niatnya mau belajar mengaji atau mau mengungkapkan perasaan?
"Umi, kok Om Hazel bawa bunga gede banget buat apa ya?" tanya Syifa. Bocah itu juga sangat penasaran dengan apa yang Hazel bawa.
Kanaya menggeleng pelan, dia juga mana tau apa maksud dari Hazel yang datang dengan seperti itu. Memang, untuk sekarang dia terlihat begitu alim dengan baju yang terlihat baru, dan itu membuat Hazel terlihat semakin berbeda.
"Assalamu'alaikum," sapa Hazel. Kali ini dia sudah mulai lancar dalam mengucapkan salam, suaranya juga sudah lebih fasih daripada kemarin. Mungkin Hazel terus belajar untuk bisa menyempurnakan pengungkapannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya. Tak ketinggalan dengan Oma Uswah dan juga Opa Hasan.
Kedua orang tua itu juga terlihat tak berkedip menatap Hazel. Wajahnya begitu sumringah dan terpancar jelas cahayanya.
Koko biru, kopyah hitam, dan juga sarung biru bergaris putih, itulah yang dia pakai saat ini. Sungguh semakin tampan Hazel saat ini.
"Hem... Umi, ini untuk Umi," ucapnya. Langsung dia menyodorkan buket bunga itu untuk Kanaya.
Semua kembali tertegun.
Umi? Hazel memanggil Kanaya dengan sebutan Umi? Bagaimana mungkin semua tidak akan merasa aneh.
"Kenapa, salah ya? Aku hanya menirukan anak-anak, mereka memanggilnya dengan Umi, dan aku juga muridnya kan? Jadi seharusnya nggak masalah kalau aku juga memanggil Umi." katanya.
Emang tidak masalah dengan panggilan Hazel kepada Kanaya karena dia juga adalah murid Kanaya, tetapi mengingat usianya sekarang sepertinya tidak pantas jika dia menirukan panggilan seperti anak-anak yang lain. Jika ada orang lain yang mendengar pastilah mereka akan salah paham.
Hazel terlihat sangat bingung memandang semuanya, tetapi dia merasa tidak salah dalam memanggil gurunya jadi dia tetap akan memanggil seperti itu sama seperti murid yang lain.
"Tidak masalah, Nak." Opa Hasan terlihat setuju dengan apa yang Hazel katakan Opa juga langsung menghampiri dengan tersenyum begitu penuh dengan wibawa.
Hazel merasa begitu senang melihatnya, ayahnya saja begitu ramah dan berwibawa, bagaimana dulu dengan anaknya pasti dia sangat sempurna. Itu terbukti dari Kanaya yang tidak mudah untuk bisa melupakan mendiang suaminya.
"Ini, Umi. Hanya sebagai tanda terima kasih saja." ucapnya. Kembali menyodorkan buket itu pada Kanaya.
Begitu ragu bagi Kanaya menerima bunga itu dari Hazel, Dia sangat takut kalau akan ada yang salah paham. Salah mengartikan hubungan mereka berdua yang sebenarnya tidak ada apa-apa.
__ADS_1
Tetapi Hazel terus saja menyodorkan dan semakin dekat hingga membuat Kanaya tidak bisa menolak lagi kecuali langsung menerimanya. Itupun juga dengan izin dari Oma Uswah yang sudah mengangguk ketika Kanaya menoleh ke arahnya.
"Umi dapat bunga, terus Syifa dapat apa, Om?" celetuk Syifa. Wajah gadis kecil itu terlihat begitu lesu karena tidak mendapatkan apapun dari Hazel, padahal dia sangat berharap akan mendapatkan sesuatu dari Hazel meski hal yang tidak mewah.
"Hem, apa ya? Om tidak bawa apa-apa, bagaimana dong?" jawab Hazel yang kini beralih berdiri di hadapan Syifa.
"Yah," Syifa semakin malas. Dia menunduk tak semangat. Masak Uminya aja dapat sesuatu kenapa dia tidak?
"Jangan sedih dong, untuk Syifa ada kok. Ada di dalam mobil, nanti setelah selesai ngaji di ambil ya," ucap Hazel.
"Beneran, Om?!" ucap Syifa. Wajahnya seketika berubah berbinar karena ingin mendapatkan sesuatu dari Hazel, padahal dia sendiri juga belum tau tapi sudah membuat dia kegirangan.
"He'em," Hazel mengangguk.
"Sudah, sekarang ngaji dulu ya. Nanti keburu habis waktunya." ucap Opa Hasan.
Semua mengangguk membenarkan. Mereka langsung duduk dengan rapi di tempat masing-masing, Syifa yang tak mau jauh-jauh dari Hazel kini malah duduk bersebelahan dengannya.
Kanaya jadi canggung, dia terus diam karena pembukaan juga di lakukan oleh Opa Hasan.
"Nak Hazel, sini ngaji sama saya." ucap Opa Hasan. Baru saja Hazel ingin mendekat kearah Kanaya dan sudah dipanggil, gagal sudah untuk bisa melihat wajah Kanaya puas-puas.
Lega rasa hati Kanaya, setidaknya dia bisa terbebas dari pandangan Hazel yang terus tak berkedip ketika di hadapannya.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
"Om, apa sih hadiah untuk Syifa?" tanya Syifa begitu penasaran. Tangannya terus menggandeng Hazel dan mereka berjalan dengan berdampingan.
Tangan mungil itu hampir tak terlihat setelah di gandeng oleh tangan Hazel yang besar, namun dia terlihat begitu nyaman tak ada rasa takut sama sekali.
"Ada deh," jawab Hazel yang tetap merahasiakan dan tak mau memberitahu apa yang dia bawa dan akan dia berikan pada Syifa.
Wajahnya menunduk, melihat Syifa yang semakin di buat penasaran.
Sesekali wajahnya mengerut karena kesal tapi juga tak bertahan lama karena rasa penasaran yang begitu besar.
"Ya, om tidak asik," protesnya.
__ADS_1
Padahal Hazel pikir memberikan hadiah dengan cara sembunyi seperti ini sangat menyenangkan tapi dia belum berhasil.
"Kalau di kasih tau lebih dulu tidak asik lagi dong?" Hazel terus melangkah, terus menggandeng Syifa hingga akhirnya sampai pada mobil yang terparkir dengan manis.
"Sudah siap lihatnya?" tanyanya, Hazel tersenyum sejenak menatap Syifa, bocah kecil itu mengangguk dengan menatapnya.
Hazel melepaskan tangan Syifa berniat untuk membuka mobilnya lebih dulu.
Semua orang juga ikut penasaran, sebenarnya apa yang di bawa oleh Hazel yang akan di berikan pada Syifa. Bukan hanya Opa Hasan dan Oma Uswah saja tapi Kanaya juga, mereka mengikuti dari belakang dan berhenti dengan jarak yang lebih jauh.
"Tara!" suara Hazel sedikit keras tapi terdengar gembira.
Mata Syifa begitu berbinar melihat apa yang ada di dalam mobil, mobil itu begitu penuh dengan berbagai macam mainan. Begitu penuh hingga terlihat seperti toko mainan berjalan.
"Ya Allah, Om. Ini banyak banget. Ini semua untuk Syifa?" Syifa menatap tak percaya. Benarkah apa yang di tunjukkan itu untuknya.
"Tentu, ini semua untuk Syifa. Bagaimana, suka?" Hazel duduk berjongkok di hadapan Syifa, menyamakan tingginya dan juga langsung mengelus pelan kedua lengan Syifa.
"Suka, Om. Tapi ini terlalu banyak, ini juga namanya pemborosan."
"Tidak apa-apa, kan hanya sekali saja. Lagian kemarin pas Syifa ulang tahun om belum kasih hadiah kan? Nah, ini hadiah untuk Syifa." katanya menjelaskan.
"Oh, hadiah ulang tahun ya?"
"Iya, Hem.. Anggap saja ini juga hadiah pemberian dari Abinya Syifa."
Wajah Syifa langsung sedih, tentu saja dia akan mengingat abinya.
"Kok jadi sedih?"
"Om, Syifa kangen sama Abi. Apakah Syifa boleh peluk om?" tanya Syifa.
"Tentu, sini om peluk," Hazel langsung memeluk anak kecil itu dengan begitu erat, begitu nyaman untuk keduanya.
'Kenapa rasanya nyaman sekali. Tuan Dirga, izinkan aku membahagiakan Syifa ya. Syifa akan selalu menjadi anak Tuan. Hanya, biarkan saya melanjutkan apa yang seharusnya menjadi kewajiban Tuan.' batin Hazel penuh keyakinan.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
__ADS_1
Bersambung....