Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Harus Dengan Restu


__ADS_3

»»————><————««


Tak mau Kanaya menikah tapi tanpa restu dari ayahnya Hazel. Jika Hazel benar-benar ingin menikah dengannya maka dia harus mendapatkan restu dari Davin lebih dulu. Hazel tak yakin kalau papanya akan memberikan restu tapi tapi dia juga tak bisa mengabaikan keinginan dari Kanaya.


Benar yang dia katakan, meski mereka sudah berhasil menikah tapi jika tanpa restu dari orang tua kehidupan rumah tangga tidak akan berjalan dengan baik.


''Apakah aku benar-benar harus mendapatkan izin dari papa lebih dulu?'' tanya Hazel pada Kanaya yang kini duduk di hadapannya di salah satu rumah makan saat makan siang.


''Ya, Mas harus tetap mendapatkan restu dari Om Davin. Naya tidak mau kalau sampai kita menikah dan tanpa restu, Naya tidak mau kalau sampai akan ada masalah di kemudian hari. Mas Hazel bisa lakukan itu kan untuk Naya?'' pintanya.


Sebenarnya bukan untuk Kanaya karena sejatinya itu adalah untuk mereka berdua. Kanaya selalu percaya bahwa kebahagian dalam rumah tangga tak akan terlepas dari restu orang tua, itu sebabnya dia sangat menginginkan restu.


''Baiklah, akan saya usahakan. Demi kamu dan demi kita. Aku tidak mau kamu marah,'' jawab Hazel sembari memikirkan cara untuk dia minta restu pada Davin.


Kanaya tersenyum. Dia bahagia setidaknya Hazel mau mencobanya. Semoga saja restu benar- benar bisa mereka dapatkan hingga mereka bisa menikah juga dengan di hadiri oleh Davin selaku papa dari Hazel.


Hazel nampak tersenyum namun begitu jelas ada kebingungan di daam pikirannya. Kanaya tau itu sangatlah berat, tapi Hazel memang harus tetap melakukan kalau dia memang serius kepadanya.


''Nanti kau pulang jam berapa?'' tanya Hazel mengalihkan pembicaraan mereka berdua.


Kanaya menghentikan acara makannya lalu memandang Hazel yang juga sama.


''Mungkin sekitar jam tiga, kenapa?'' tanya Kanaya balik pada Hazel.


''Tidak apa-apa, hanya ingin menjemput kamu saja.'' begitu malu-malu Hazel berkata.


''Oh,'' Kanaya mengangguk. Tak lagi ada komentar lagi saat Hazel akan menjemputnya atau mengantarkan pulang, itu sudah biasa di lakukan. Apalagi Hazel tidak akan menerima penolakan sama sekali.


Keduanya tersenyum dengan saling melihat, lalu di sabung dengan kembali menikmati makan siang mereka.


__ADS_1



Setelah mengantarkan Kanaya kembali ke kantornya Hazel juga kembali bekereja di rumah sakit. Masih dia terus berpikir bagaimana dia akan meminta restu kepada papanya. Apakah dia akan menerima kedatangannya?



Masuk ke rumah sakit pun Hazel masih memikirkan. Dia begitu bingung dengan bagaimana caranya. Apakah dia minta bantuan dengan mamanya?



''Mas Hazel!!'' teriakan seseorang seketika membuat Hazel merasa sangat malas. Seketika Hazel memutar tubuhnya dan hendak kembali keluar rumah sakit. Tapi suara itu kembali memanggilnya.



''Mas, tungguin Ziana!!,'' dan dialah yang datang. Gadis yang sampai sekarang terus mengejar Hazel tanpa rasa lelah sama sekali. Padahal sudah jelas-jelas di tolak tapi tetap saja tak menyerah.




''Mas Hazel dari mana. dari tadi Ziana menunggu kedatangan mas Hazel loh,'' berhenti Ziana di hadapan Hazel yang terlihat begitu malas. Jelas saja Hazel akan sangat malas berada di hadapan Ziana.



''Bukan urusamu,'' jawab Hazel dengan begitu sangat acuh. Dia terlihat semakin malas saat dengan sengaja Ziana malah terus tersenyum manis dihadapannya, apakah dia pikir dengan dia terus seperti itu akan membuat Hazel jatuh hati kepadanya? tidak! justru Hazel akan semakin ilfil saja.



''Jangan dingin- dingin seperti itu lah Mas, Ziana kan datang dengan cara baik-baik. Ziana juga datang dengan niat yang sangat baik. Ziana bawakan makan siang untuk mas Hazel. Tapi karena Mas Hazel sudah makan jadi buat makan sore juga tidak apa-apa.'' Ziana tersenyum.


__ADS_1


''Tidak usah,lebih baik kau bawa pulang saja makanan yang kamu bawa. Tidak akan kemakan kalau di sini.''



''Ya harus di makan lah Mas, Ziana kan buatnya pakai cinta,'' terus Ziana membujuk dengan suara manjanya.



''Ti\_dak!'' tegas Hazel.



Mulut Ziana mengerucut jelas dia sangatkesal karena Hazel lagi-lagi menolaknya.



''Dok, waktunya periksa pasien,'' teriak suster dan langsung membuat Hazel menoleh dan juga mengangguk cepat.



''Pergilah, dan jangan lupa bawa kembali makananmu.'' Hazel bergegas dan smakin membuat Ziana merasa sangat kesal. Lagi-lagi dia di tolak.



''Ini gara-gara janda itu, awas ya, aku tidak akan biarkan kamu menang dan mendapatkan Mas Hazel. Mas Hazel adalah milikku.'' begitu terobsesinya Ziana pada Hazel sampai dia sepertinya kembali merencanakan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua.



»»————\><————««


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2