
»»————><————««
Begitu buru-buru Syifa berjalan, dia begitu tak sabar untuk bisa secepatnya masuk ke dalam ruangan Uminya di rawat. Tak memerhatikan Oma Uswah yang begitu kewalahan ketika mengejarnya, bahkan Syifa sama sekali tak menoleh.
"Syifa sayang, hati-hati jalannya," Oma Uswah sedikit berteriak. Dia berusaha keras untuk bisa menyamai langkah cucu yang begitu tak sabar itu untuk bisa sampai dan melihat keadaan Uminya, Syifa begitu khawatir sekaligus merindukannya, padahal baru juga semalam saja tidak bersama.
"Oma, ayo dong cepat sedikit." Sedikit Syifa menoleh, itupun tidak sempurna dan tak lama. Bahkan tidak sampai melihat wajah Omanya.
Tentu bukan hanya Oma Uswah saja yang kewalahan, tapi juga Opa Hasan dan juga Pak Danu. Mereka bertiga begitu tak kuat mengejar bocah menggemaskan itu.
Hingga akhirnya Syifa begitu senang setelah melihat keberadaan pintu yang sudah tak lagi jauh dari matanya, Syifa kian semangat hingga menambah kecepatan lagi.
"Ehh!" Hampir saja Syifa menabrak seseorang.
"Astaghfirullah, Sayang!" Oma Uswah begitu panik. Dia memekik barusan dengan mata yang membulat lebar.
"Maaf ya, Om." Syifa mendongak, menatap seorang laki-laki yang hampir saja dia tabrak, "eh, Paman Arifin!" Pekiknya. Syifa seketika tersenyum.
"Iya, ini paman. Kenapa kamu lari-lari?" untung bukan orang lain dan hanya Arifin yang hampir Syifa tabrak.
"Maaf, Paman. Tapi Syifa sudah tidak sabar pengen ketemu Umi," Syifa menunduk, merasa sedikit bersalah karena perbuatannya.
Arifin tidak sendiri, tapi ada Kayla juga bersamanya. "Iya, tapi lain kali hati-hati ya. Bagaimana kalau sampai Syifa jatuh? Kalau Syifa sakit nanti Umi yang sedih." Keyla memberikan pengertian.
"Iya, Tante. Maaf. Syifa janji tidak akan mengulangi lagi."
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita temuin Umi," Tangan Keyla terulur dan langsung di sambut oleh tangan kecil Syifa. Keduanya melangkah bersamaan.
"Om, Tante." Sapa Arifin setelah Oma Uswah dan Opa Hasan sampai di hadapannya dengan nafas yang terengah.
"Sudah dari tadi, Fin?" Tanya Opa Hasan.
"Baru saja sampai, sekalian berangkat ke kantor, Om." jawab Arifin seraya menyalami keduanya.
"Nitip kantor dulu ya selama Kanaya belum pulih."
__ADS_1
"Iya, Om." Arifin mengangguk. Tanpa di minta pun dia pasti akan melakukannya. Dia sudah berjanji akan selalu membantu Kanaya dalam mengembangkan kantornya itu. Sampai kapanpun.
"Terima kasih," Disentuh pundak Arifin dengan hangat oleh Opa Hasan, keduanya saling mengulas senyum. "Ayo."
Mereka semua gegas masuk, mereka juga ingin mengetahui perkembangan keadaan Kanaya.
~~~``
"Assalamu'alaikum, Umi!" Teriak Syifa. Suaranya begitu lantang hingga mengejutkan Kanaya dan juga Hazel yang sedang berbincang.
"Wa'alaikumsalam, Sayang!" Kanaya terlihat begitu bahagia, gegas dia duduk dengan tegak untuk menyambut kedatangan Syifa.
Keduanya seketika berpelukan setelah Syifa naik begitu saja dengan di bantu oleh Hazel.
"Hati-hati ya," pesan Hazel.
"Iya, Om Abi." Jawab Syifa. Suara dan juga wajahnya terlihat begitu menggemaskan sekarang ini.
Seketika Kanaya melirik ke arah Hazel seolah meminta penjelasan untuk panggilan Syifa yang sudah berubah.
"Umi jangan marah ya, Syifa panggil seperti itu kan karena Om Hazel sudah mau jadi Abinya Syifa sebentar lagi. Iya kan?" Suaranya terdengar begitu manja.
Kanaya tersenyum saja sebagai jawaban. Dia masih sangat malu juga masih ragu karena restu yang juga belum di dapatkan.
"Oh iya, bagaimana kabar Umi, hari ini sudah boleh pulang belum?"
"Nanti nunggu bu dokter dulu ya, kalau bu dokter sudah mengizinkan baru Umi bisa pulang. Tapi kalau belum ya, mungkin besok." Hazel yang menjawab.
"Benar begitu, Umi?" Dengan cepat Syifa menoleh ke arah Kanaya seraya meminta penjelasan.
"Iya, Sayang." Dicubit gemas pipi Syifa namun bocah itu tidak protes sama sekali. Kanaya langsung beralih mengecup pipi tersebut.
"Assalamu'alaikum, Nay."
"Wa'alaikumsalam, Umi, Abi, Mas Arifin." Sapa Kanaya. Sedikit heran karena mereka bisa datang secara bersamaan, apakah mungkin mereka janjian?
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu sekarang, apa masih ada yang sakit?" Tanya Oma dengan lembut. Duduk di ranjang Kanaya dan menghadapnya.
"Alhamdulillah tak ada yang di khawatirkan lagi, Umi. Mungkin kalau tidak hari ini besok Kanaya bisa pulang."
"Alhamdulillah," Oma Uswah tersenyum.
"Maaf ya, Umi. Umi pasti kerepotan di rumah menjaga Syifa."
"Tidak, Syifa anak yang pintar, dia sama sekali tidak rewel." Matanya melihat Kanaya, namun tangan Oma Uswah memilih mengelus rambut Syifa yang di kuncir dua kanan kiri.
"Tadinya Umi bilang datang kesininya setelah pulang sekolah, tapi Syifa merengek-rengek minta kesini, jadi Umi tidak bisa menolaknya."
"Tidak apa-apa, Umi. Terima kasih sudah menjaga Syifa."
"Tidak usah sungkan, Syifa adalah cucuku kan?"
Kanaya mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Umi Umi, kalau Umi belum bisa pulang apa Syifa boleh tidur di sini? Syifa pengen tidur sama Umi dan Om Abi. Kalian pasti tidur di sini bersama kan?" Celetuk Syifa.
Ucapan bocah itu terasa membuat jantung Kanaya berhenti mendadak, bagaimana bisa tidur bersama, mereka belum sah.
"Tidak kok, Sayang. Umi dan Om Abi tidak tidur bersamaan. Om Abi tidur di ruangannya sendiri."
Semua orang bingung melihat Syifa yang langsung mengerutkan kening hingga begitu banyak. Aneh saja, pasti ada pikiran sesuatu yang ada di kepalanya.
"Umi dan Om Abi tidak sedang marahan, tidak kan?"
Entah dapat pertanyaan-pertanyaan darimana hingga membuat Syifa bertanya hal-hal seperti itu. Apakah mungkin dari teman-teman di sekolahnya? Atau mungkin dari orang lain?
Kanaya langsung menoleh ke arah Hazel.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu seolah aku yang mengajarinya?" Ucap Hazel yang merasa sendiri. "Bukan aku, sungguh." Dua jari Hazel terangkat hingga membentuk huruf V untuk meyakinkan Kanaya.
»»————><————««
__ADS_1
Bersambung...