
»»————><————««
Di dampingi Arifin Kanaya datang ke kantor polisi, ingin dia bertemu dengan Dirga yang sekarang ada di penjara. Sebenarnya tidak tega, tapi apa yang dia lakukan merupakan sebuah kejahatan yang harus di tindak lanjuti.
"Nay, kamu yakin mau bertemu dengannya?" tanya Arifin, malah dia yang ragu untuk melangkah masuk. Dia berhenti dan jelas saja juga berhasil menghentikan langkah Kanaya dan membuatnya menoleh.
"Iya, Mas. Kalau Mas Arifin tidak mau menemani Mas boleh menunggu di sini." jawab Kanaya begitu yakin. Dia tersenyum membuat Arifin malah jadi tidak tega untuk membiarkan dia masuk sendiri.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Itulah yang Arifin takutkan, meski juga tidak akan terjadi karena di dalam tidak hanya ad Kanaya sendiri, ada para polisi yang akan memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Ya sudah, yuk masuk." Akhirnya Arifin pasrah.
Kedua melangkah beriringan masuk ke dalam kantor polisi dan menemui petugas untuk izin berkunjung, tentunya untuk bertemu dengan Dirga.
Setelah melalui beberapa prosedur akhir mereka bisa bertemu dengan Dirga, Kanaya duduk bersebelahan dengan Arifin dan Dirga duduk menunduk di hadapannya dengan bersekat meja panjang.
"Maaf," hanya itu yang Dirga katakan. Tak berani mengangkat wajahnya untuk melihat Wajah dan mata Kanaya. Malu, juga menyesal.
"Kenapa Mas melakukan itu. Apa salah Mas Hazel?" tanya Kanaya. Meski dia sudah tau alasannya tapi tetap saja dia ingin tau lebih jelas.
"Aku, aku hanya tidak ikhlas kalau dia mendapatkan mu. Aku tidak ikhlas kalau dia mendekati mu." jawab Dirga mulai menjelaskan. Mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Aku hanya ingin kami menjadi milikku, kalau aku tidak memiliki mu maka siapapun juga tidak, termasuk Hazel." Smirk sinis keluar dari bibir Dirga.
"Kamu tidak ada hak! Mau Kanaya memilih siapapun itu tidak ada hubungannya dengan mu. Seharusnya kamu juga tidak boleh ikut campur, kamu egois, Dirga!" seru Arifin, dia yang amarahnya membuncah.
"Aku ada hak! Aku yang lebih dulu mengenalnya!" Dirga tak mau di sudutkan. Dia tetap tak mau kalah, dia harus menang.
"Seharusnya aku yang lebih dekat dengan Kanaya, bukan dia! Apa kekurangan ku, aku sudah selalu melakukan apa yang juga dia lakukan sekarang." Imbuh Dirga.
"Bukan masalah lama dan sebentarnya, Dirga! Tapi masalah hati tidak bisa di paksakan."
"Mas, sudahlah." Kanaya melerai. Ucapan Arifin akan terus keluar kalau tidak di hentikan.
"Dia begitu menyebalkan, Nay." Arifin mengadu.
__ADS_1
Kanaya tidak menjawab dua hanya mengelus lengan Arifin daja dengan sangat pelan.
"Mas, Kanaya mohon. Lupakan Kanaya, jangan pernah mengharapkan Kanaya lagi." Kanaya mulai bicara lagi.
"Kenapa, Nay! Apakah benar-benar tak ada kesempatan untuk ku? Beri aku kesempatan, aku akan membahagiakan mu juga Syifa." Dirga begitu memohon.
"Maaf, Mas. Nay tidak bisa." jawab Kanaya. Tak tega tapi itu harus di katakan. Dia tak ingin Dirga masih memiliki harapan untuk tetap memilikinya.
"Tapi, Nay?"
"Sudah, Mas. Lupakan Naya. Itu akan lebih baik untuk kita semua." jawab Kanaya.
»»————<————««
Keputusan untuk menikahi Kanaya membuat Hazel harus datang ke rumah Davin sang papa. Kata Kanaya dia harus meminta izin, entah mendapatkan jawaban yang baik atau tidak tapi restu harus tetap di dapatkan.
Dengan perlahan Hazel melangkah masuk ke pekarangan rumah, tidur sendiri tapi ada Kristin yang menemani.
Terlihat wajah Kristin yang begitu tegang, dia sangat ragu untuk masuk. Terlihat jelas ada ketakutan yang besar.
"Tidak," Kristin menggeleng pelan, nyaris tak terlihat pergerakannya.
"Kita masuk sekarang?" tanya Hazel.
"Hem," Sekarang Kristin mengangguk dan mulai kembali melangkah. Sepertinya sangat susah untuk melangkah masuk saja. Begitu berat.
Tok tok tok!
Meski pintu terbuka tapi Hazel tetap mengetuknya. Dia ingin beretika dengan baik.
Tak lama Davin keluar, melebarkan pintu untuk semakin jelas melihat siapa yang datang. Tapi setelah melihat siapa yang datang dia malah begitu buru-buru untuk menutup pintu.
"Pa," panggil Hazel. Tangannya dengan gerak cepat menghentikan gerakan tangan Davin dan membuat pintu itu kembali terbuka.
Terlihat jelas kalau Davin sangat kesal, dia marah pada anak dan juga istrinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang, bukankan saya sudah katakan jangan pernah datang lagi? Dan ya! Kamu bukan lagi anakku, jadi jangan pernah memanggilku papa." ucapan Davin begitu menegaskan.
"Pa, maaf."
"Jangan pernah datang lagi jika kami tidak bisa menghargai saya." Kembali Davin ingin menutup pintunya.
"Pa, izinkan Hazel bicara. Sebentar saja, Pa." Kembali Hazel menghentak pintu yang akan tertutup.
"Lepas!" teriak Davin semakin marah.
"Pa, Hazel mau menikahi Kanaya." ucapnya.
"Buat apa kamu minta izin, dapat izin kuga tidak kamu pasti akan tetap melakukan apa yang kamu mau itu kan? Jadi pergilah dan jangan pernah kembali lagi."
"Tapi, Pa."
"Pa, restui Hazel, Pa. Biarkan dia bahagia dengan wanita pilihannya." Kristin angkat bicara setelah memberanikan diri.
"Kamu juga, aku sudah katakan jangan pernah kembali selama kamu belum bisa membuat anakmu yang keras kepala ini kembali ke jalan yang benar."
Brakk!
Dengan kasar Davin menutup pintu dan sekarang tak ada kesempatan untuk Hazel menarik lagi.
Tertegun keduanya di depan pintu sepertinya tak akan mudah untuk mendapatkan restu dari Davin. Lalu bagaimana? Apakah Hazel harus tetap menikah atau tetap menunggu restu.
"Ya sabar ya, Nak." ucap Kristin. Meski dengan wajah kecewa Hazel tetap mengangguk.
"Kita pergi sekarang." Kembali Kristin bicara dan mengajak Hazel pergi dari rumah itu. Dia tidak akan menghalangi kebahagiaan Hazel meski dia harus harus tetap melawan suaminya.
Sementara Davin, dia bersandar dengan lesu di belakang pintu. Sedih juga kecewa, jelas saja dia rasakan. Anak dan istrinya sekarang pergi, mereka meninggalkannya meski itu juga karena dirinya sendiri.
"Ya Tuhan." ucapnya.
»»————☆————««
__ADS_1
Bersambung...