
»»————><————««
Begitu heran Hazel hari-hari ini, dia merasa bahwa Kanaya telah menjauh darinya. Sudah beberapa hari dia tak bisa bertemu dengan Kanaya meski dengan waktu yang berbeda, bahkan dalam satu hari Hazel akan datang beberapa kali namun tetap tak bisa bertemu.
Di dalam mobil, di depan kantor Kanaya, Hazel menunggu. Sengaja dia tidak keluar untuk menunggu Kanaya entah akan keluar dari gedung itu atau masuk. Hazel sudah masuk tadi untuk mencarinya namun salah satu karyawan mengatakan kalau Kanaya sedang keluar, namun filing Hazel Kanaya ada.
"Sebenarnya kamu kenapa, Nay. Kenapa begitu susah untuk aku bertemu denganmu? Kamu seperti menjauhiku," gumamnya.
Terus Hazel memandangi pintu gedung itu, melihat satu persatu yang keluar masuk berharap dia akan melihat Kanaya. Dia begitu merindukannya, dia sekaligus ingin bicara tentang pernikahan tapi kalau bertemu saja tidak bagaimana bisa? jangankan bertemu, di chat atau di telfon saja Kanaya tetap tak mau mengangkatnya.
Sungguh, Hazel di buat bingung dengan perubahan sikap Kanaya yang begitu lain.
Mata Hazel membulat lebar, dia melihat Kanaya keluar dari gedung tersebut.
"Ternyata filingku memang benar, kamu ada di dalam. Tapi kenapa kamu tidak mau bertemu denganku, Nay? kenapa?" jelas Hazel sangat bingung.
Di jauhi Kanaya seperti saat ini seperti ada yang hilang dalam hidupnya. Dia menjadi gusar setiap saat dan bahkan dia tak pernah bisa tidur dengan nyenyak.
"Aku harus bertemu dengannya, aku harus bertanya sebenarnya apa yang terjadi."
Hazel buru-buru keluar dari mobil, dia berlari dengan cepat karena tak mau sampai Kanaya pergi lagi dan dia tak akan bisa mendapatkan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang telah membuat Kanaya berubah seperti sekarang.
"Bu, bagaimana dengan meetingnya?" tanya Keyla yang berjalan di sebelah Kanaya. Sepertinya dia adalah sekertaris Kanaya.
"Kamu urus semua berkasnya, aku akan kembali saat meeting nanti."
"Baik, Bu." Keyla begitu patuh.
"Saya harus pergi, saya percayakan semuanya padamu," Kanaya bergegas pergi.
"Baik, Bu." jawabnya lagi. Menatap kepergian Kanaya yang baru beberapa langkah namun sudah kembali berhenti karena dihadang oleh Hazel.
Sejenak Keyla terdiam, mengamati keduanya yang sudah saling berhadapan. Kanaya terlihat begitu terkejut karena kedatangan Hazel, bagaimana bisa, dia sudah pergi tadi.
"Ini urusan pribadi Bu Kanaya, saya tidak boleh ikut campur," gumamnya. Keyla langsung membalik dan kembali masuk, tepat saat dia masuk langsung di bertemu dengan Arifin, Keyla menunduk gugup.
"Kenapa?" tanya Arifin.
"Hem, ti-tidak."
__ADS_1
"Begini, saya mau mengajak kamu makan malam nanti, kamu ada waktu kan?" tanya Arifin, terlihat begitu serius.
"Sa-saya?"
"Ba-baik," jawab Keyla setelah sempat ragu.
Arifin tersenyum, alhamdulillah keinginannya untuk mengajak Keyla langsung di setujui.
Sementara di luar, Kanaya hendak kembali melangkah untuk pergi tanpa mengatakan apapun namun Hazel tak mau menyerah, dia menghalangi langkah Kanaya.
"Nay, sebenarnya ada apa, apa aku ada salah?" ucapnya bersamaan dengan tubuhnya yang berusaha menghalangi Kanaya yang akan pergi.
"Tidak, saya hanya sedang sibuk saja. Saya harus pergi," jawab Kanaya tanpa melihat ke arah Hazel sama sekali.
"Bohong, ini bukan karena kamu sibuk, tapi karena kamu memang berniat untuk menjauhiku. Kenapa, Nay, apa ada yang mengatakan sesuatu padamu?" jelas Hazel akan curiga, tidak mungkin tidak ada sesuatu tapi Kanaya menjadi seperti sekarang ini.
"Tidak," tetap Kanaya tidak mau mengakuinya.
Kembali Kanaya mau melangkah namun Hazel tetap terus menghalanginya. Tak akan dia biarkan Kanaya pergi sebelum mendapatkan jawaban yang jelas.
"Mas, saya harus pergi. Saya harus menjemput Syifa."
Tanpa minta persetujuan Hazel langsung meraih tangan Kanaya, menariknya dan mengajaknya menuju mobil Hazel.
"Mas, lepaskan!" Kanaya berontak, dia tak mau di sentuh oleh Hazel. Bukan apa-apa tapi karena mereka bukan pasangan halal dan juga bukan keluarga yang memiliki ikatan darah.
Hazel tetap diam, tak melepaskan Kanaya sampai akhirnya membuat Kanaya masuk ke mobilnya. Hazel berlari ke tempat pengemudi, dia harus cepat karena tak mau sampai Kanaya pergi lagi.
Tak akan dia biarkan Kanaya lepas lagi. Terasa hilang kesabarannya karena perubahan Kanaya yang seperti sekarang ini.
"Mas, saya bisa menjemput Syifa sendiri."
"Aku ikut, lagian sudah beberapa hari juga aku tidak bertemu dengannya, aku juga sangat merindukannya."
Hazel langsung menjalankan mobilnya sebelum Kanaya keluar lagi.
"Tapi, Mas?"
"Kenapa, Nay. Aku merasa kamu menjauh dariku, apakah aku ada salah, kalau iya katakan apa kesalahan ku?"
__ADS_1
"Hukum aku, pukul aku atau marahi aku jika ada salah tapi jangan jauhi aku seperti ini."
"A-aku?"
"Atau jangan-jangan ada orang yang mengatakan sesuatu padamu, iya? aku kenal kamu, Nay. Katakan padaku, siapa orang itu dan apa yang dia katakan?"
Kanaya terdiam, tidak mungkin juga dia akan mendatangkan kalau Papanya Hazel yang mengatakan itu semua, Hazel akan semakin membenci Papanya.
"Tidak ada," jawab Kanaya. Terpaksa dia berbohong karena tak mau kebencian Hazel semakin besar. Tak mau hubungan mereka semakin jauh lagi.
"Lalu apa alasannya kamu menjauh dariku?"
"Ka-karena, aku merasa kita tidak berjodoh," sedih rasanya mengatakan hal itu. Sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang ada di dalam hatinya.
"Hem, aku kenal kamu, Nay. Itu bukan alasan sebenarnya."
"Benar, Mas."
Grek!
Mobil langsung Hazel hentikan, Hazel seketika menatap Kanaya dengan matanya yang membulat.
"Tatap mataku, Nay. Dan katakan kalau kita memang tidak berjodoh. Katakan sekali lagi," pintanya.
Kanaya hanya menoleh sebentar saja, langsung dia palingkan lagi wajahnya karena tak mampu untuk menatap wajah Hazel. Kanaya tidak akan sanggup untuk berbohong.
"Kenapa Nay, kamu tidak bisa? Aku tau kamu tidak akan bisa melakukan itu. Aku yakin ada yang menekan mu."
"Tidak ada," Kanaya menggeleng namun dia tetap tak mau menatap wajah Hazel.
"Kalau memang tidak ada, maka jangan pernah berubah lagi. Aku mohon."
"A-aku?" mata Kanaya mulai berkaca-kaca.
"Jika kamu menjauh dariku karena keinginanmu sendiri aku tidak akan memaksamu lagi, aku akan melepaskanmu. Tapi jika ada orang yang menekanmu maka aku tidak akan melepaskanmu meski orang itu orang terdekatmu atau orang terdekatku." ucap Hazel begitu jelas.
Kanaya tetap diam, dia tak bisa berkata-kata lagi sampai Hazel kembali memutuskan untuk menjalankan mobilnya lagi.
»»————><————««
__ADS_1
Bersambung...