
»»————><————««
"Bagaimana, Mas. Apakah pelakunya sudah tertangkap?" Hazel dan Arifin menyempatkan ngobrol di luar ruangan sebelum Arifin pergi ke kantor.
Keduanya terlihat begitu serius dengan perbincangan mereka berdua. Saling menatap dengan duduk bersebelahan.
"Saya mendapatkan kabar dari polisi, katanya pelakunya sudah tertangkap. Hampir saja dia melarikan diri keluar kota." Jawab Arifin.
"Mas tau siapa pelakunya?"
"Iya, pelakunya adalah Ziana. Cewek yang begitu terobsesi padamu."
Begitu tak percaya Hazel kalau Ziana yang melakukan itu, dia memang terlihat begitu terobsesi padanya, tapi dia tak menyangka kalau Ziana akan melakukan hal serendah itu.
"Sebenarnya orang yang di incar bukan Kanaya tapi Om Davin, papa kamu. Tapi karena Kanaya menolong Om Davin hingga membuat dia yang menggantikannya."
"Kenapa bisa papa yang menjadi incaran Ziana?"
Arifin mengedikkan kedua bahunya, dia tak tau untuk alasan lebih jelasnya karena polisi tidak mengatakan semuanya.
"Aneh," Hazel tertegun, dia masih tak mengerti kenapa papanya yang Ziana incar. Padahal hubungan mereka begitu baik selama ini, apalagi Davin yang begitu mendukung hubungan mereka.
"Lebih baik kamu tanya saja sendiri apa tujuan sebenarnya. Mungkin sama papamu?"
"Pasti, aku akan meminta penjelasan untuk semua ini karena ini menyangkut Kanaya. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu lagi padanya." suara Hazel terdengar begitu menegaskan. Sepertinya dia tak main-main dengan ucapannya.
"Oh iya, bagaimana dengan restu yang Kanaya minta. Apakah sudah kamu dapatkan?" Arifin mengalihkan pembicaraan.
Hazel menggeleng. "Belum, tapi Papa harus merestui pernikahan ku dengan Kanaya. Itu harus."
"Kamu tidak akan mengancamnya kan?"
"Kalau papa saja bisa berbuat demikian kenapa aku tidak?"
__ADS_1
"Ish kau ini. Jangan gila, Hazel. Api jangan kau balas dengan api, itu tidak akan berguna. Kamu harus bisa menyiramnya perlahan dengan air supaya bisa padam, kamu juga tidak boleh menyiramnya dengan minyak tanah, kalau itu kamu lakukan api akan semakin besar dan merembet kemana-mana. Kamu tau apa maksudku kan?"
Hazel terdiam.
"Dah, kamu pikirkan cara yang baik untuk bisa mendapatkan restu itu. Aku mau berangkat ke kantor. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," Jawab Hazel menatap Arifin yang sudah berdiri dan langsung melangkah pergi.
~~~~``
Kanaya berusaha memejamkan mata, tak ada siapapun sekarang semuanya sibuk dengan pekerjaannya. Syifa juga sudah berangkat sekolah.
"Ternyata sangat bosan kalau di rumah sakit terus. Aku tidak bisa ngapa-ngapain. Aku harus bisa pulang hari ini." Gumam Kanaya. Matanya perlahan kembali terbuka.
Bersamaan mata Kanaya terbuka pintu ruangan juga terbuka.
"Pagi, Nak."
"Tante Kristin." Kanaya berusaha untuk duduk.
"Terima kasih, Tante." Setelah berhasil duduk Kanaya langsung menyalami tangan Kristin. Mengembangkan senyum sebagai sambutan untuk Kristin.
"Maaf, tante baru bisa menjenguk kamu. Kemarin tante ada urusan jadi tidak bisa datang. Sekarang bagaimana keadaan kamu?" tanya Kristin.
"Tidak apa-apa, Tan. Kanaya juga sudah lebih baik sekarang. Mungkin hari ini atau besok sudah bisa pulang."
"Syukurlah, Tante ikut seneng dengernya." Terlihat begitu akrab, dan semakin akrab keduanya. Sudah sangat cocok juga menjadi mertua dan menantu, tapi Allah belum berkehendak untuk itu.
"Assalamu'alaikum," Pintu kembali terbuka dan Hazel yang kembali masuk. Dia begitu tak bisa serius bekerja, sebentar-sebentar dia akan datang untuk menjenguk, apalagi taunya Kanaya hanya sendiri.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Kanaya.
"Ma, Mama kapan datang?" Hazel berdiri di sebelah Kristin, menyalaminya sama seperti yang tadi Kanaya lakukan.
__ADS_1
Begitu senang Kristin dengan perubahan Hazel. Setelah bersama Kanaya dia semakin baik, dia begitu menghargai orang tua, terutama dirinya. Kalau untuk Davin, mungkin karena itu kesalahan Davin sendiri yang tak bisa berbesar hati menerima keputusan Hazel.
"Baru saja, terus kenapa kamu kesini? Bukannya kami harus bekerja?" Mata Kristin memicing penuh selidik.
Hazel tidak menjawab tapi dia memilih melihat ke arah Kanaya.
"Oh, mama tau sekarang. Pantes saja kamu nggak bisa fokus bekerja ya, pikiran kamu hanya ada Kanaya saja. Sekarang pergi sana! Serius bekerja biar mama yang jaga Kanaya. Jangan sampai kamu kehilangan pekerjaan, bisa-bisa nggak bisa nafkahin menantu mama nantinya." Usir Kristin.
"Apa sih, Ma. Kan baru datang masak udah di usir aja." Wajah Hazel merengut.
"Cepat Hazel. Atau mama malah tidak akan kasih izin kamu menemuinya? Mama pingit kamu mulai sekarang."
"Jangan dong, Ma." Hazel kian gelisah. "Iya iya, aku akan pergi."
Kanaya tersenyum melihat perdebatan hangat keduanya.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" Kesal Hazel melihat Kanaya yang malah tersenyum membuat dia seolah di sudutkan oleh keduanya. Padahal dia sangat ingin bisa berlama-lama bersama Kanaya. Tapi apa boleh buat.
"Tidak, siapa yang tersenyum?" Jawab Kanaya, mengatakan tidak tapi pada kenyataannya dia tengah menahan tawa hingga hanya seulas senyum saja yang keluar.
"Menantu dan Mertua sama aja ya," Hazel semakin kesal.
Baru juga Hazel akan melangkah untuk keluar pintu kembali terbuka. Wajah penuh rasa bersalah langsung terlihat dari Davin. Langkahnya begitu ragu dia sangat enggan untuk melangkah mendekati anak dan juga istrinya.
"Pa, papa di sini?" tanya Hazel. Dia menoleh ke arah Kristin juga Kanaya secara bergantian kemudian melihat ke arah Davin lagi yang memaksakan masuk meski merasa begitu tak enak.
Hazel mengernyit melihat kedatangan Davin, untuk apa? pertanyaan itu juga hadir di benaknya.
"Maaf," Davin menunduk dengan wajah yang begitu merasa bersalah. "Kalau memang tidak boleh papa akan pergi."
Davin hendak membalikkan badan namun di hentikan oleh Hazel.
"Kenapa buru-buru pergi, papa kan baru datang. Sini, Pa."
__ADS_1
»»————><————««
Bersambung....