Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Ada Trauma


__ADS_3

»»————><————««


"Assalamu'alaikum," Sapa Arifin kala dia sudah sampai di depan rumah Hazel.


Setelah mendapatkan alamat Hazel dari temannya dia langsung bergegas, jelas kedatangannya bukan tanpa alasan melainkan untuk menemukan Kanaya yang mungkin saja di bawa Hazel pulang ke rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," suaranya terdengar semakin mendekat seperti itu juga berlari untuk segera sampai pada pintu.


Suaranya sangat jelas kalau dia adalah seorang perempuan, entah siapa tapi Arifin tetap menunggu dan tak mau gegabah masuk begitu saja. Arifin masih belum yakin sepenuhnya kalau itu adalah rumah Hazel.


"Wa'alaikumsalam," Kembali perempuan itu menjawab salam setelah sampai di pintu.


Bi Nani terlihat bingung karena melihat Arifin yang datang.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Bi Nani.


"Apakah benar ini rumah dokter Hazel?" Arifin juga melayangkan pertanyaan pada bi Nani.


"Iya, benar. Anda siapa ya?"


"Saya..., saya teman barunya. Apakah dia ada di rumah?"


"Ada, mari masuk." Ajak bi Nani. Bi Nani melangkah lebih dulu dan Arifin langsung mengikutinya.


"Silahkan duduk." pintanya, tangannya menunjuk salah satu kursi sebagai arahan pada Arifin untuk duduk di sana.


"Hen, terima kasih," Arifin patuh, dia langsung duduk di tempat yang sudah di tunjukkan.


"Sebentar, saya panggilkan Den Hazel lebih dulu." Bi Nani langsung berlari masuk, melangkah untuk menuju kamar Hazel.


Hazel baru saja pergi ke sana untuk mengantarkan makanan untuk Kanaya. Dia bahkan mengambil sendiri dari meja makan tanpa meminta bantuan bi Nani, jelas hal itu membuat bi Nani semakin yakin kalau Hazel memang sangat menyukai Kanaya.


"Semoga saja Kanaya ada dengan Hazel. Kalau tidak lalu kemana lagi aku harus mencarinya." gumam Arifin.


Sementara di kamar Hazel perlahan menghampiri Kanaya, dia sudah bangun dan pikirannya terlihat masih begitu kalut.


Kanaya duduk diam dengan memeluk kakinya sendiri, dia masih begitu syok dengan kejadian tadi.


"Nay, makan dulu biar kamu lebih tenang. Setelah makan, baru minum obat. Kebetulan saya ada obat di rumah."


Jelas saja, seorang dokter tidak hanya akan menyediakan obat di rumah saja, dia juga pasti bakal menyediakan obat kemanapun dia akan pergi.


"Hem!" Kanaya begitu terkejut dengan kedatangan Hazel di kamar itu. Dia yang tengah melamun langsung saja menoleh dan juga menatap tajam.


Bukan hanya pada Dirga saja Kanaya takut sekarang jelas saja dengan Hazel juga akan takut. Siapapun bisa berbuat hal yang sama seperti Dirga begitu juga dengan Hazel.


Bukan mau su'udzon dan berprasangka buruk pada semua orang tapi Kanaya hanya ingin waspada karena dia tak bisa membedakan mana yang baik dan tidak sekarang. Hatinya masih terselimuti rasa traumanya jadi dia akan sangat susah untuk membedakan.


"Tidak usah takut, aku tidak akan berbuat buruk padaku. Aku hanya ingin kamu makan lalu minum obatnya." pinta Hazel.


Bukan obat yang aneh-aneh tapi Hazel hanya ingin memberikan obat penenang untuk Kanaya. Hatinya pasti sangat kacau sekarang, juga trauma yang di sebabkan nya.

__ADS_1


"I_ ini?" Kanaya begitu ragu, tangannya bergetar saat menerima piring yang Hazel sodorkan padanya.


"Percayalah padaku, aku tidak mungkin melakukan hal buruk padamu, hem," Hazel semakin mendekatkan piring itu pada Kanaya.


Dengan perlahan Kanaya menerimanya, tangan yang bergetar jelas saja akan membuat piring itu gemetar juga.


"Hem," Hazel tersenyum, dia senang karena Kanaya telah menerimanya, tapi dia juga sedih melihat wanita pujaannya begitu ketakutan seperti sekarang ini.


Kembali dia mengingat Dirga, dia sangat membencinya. Jika saja dia tidak takut hukum pastilah akan habis Dirga di tangannya, tapi tidak! Dia tidak akan melakukan itu.


"Makanlah," pinta Hazel lagi.


Melihat Kanaya yang melihatnya penuh keraguan membuat Hazel semakin sedih, kenapa wanita seperti Kanaya harus mendapatkan nasib buruk seperti sekarang ini.


Kanaya mulai menyuapkan nasi padang mulutnya, bukan hanya sendoknya saja yang gemetar saat terangkat, tapi mulut Kanaya juga sama ketika mulai menganga.


Begitu pelan Kanaya mengunyah, dan itu tidak pernah terlepas dari pantauan Hazel.


Tok tok tok!


"Den, ada tamu." ucap Bi Nani. Dia datang dan langsung masuk setelah mengetuk pintu, lagian Hazel juga tidak menutupnya.


"Siapa?" Hazel menoleh dengan penasaran.


"Tidak tau, Den. Tapi katanya teman barunya Aden." Jawab bi Nani.


"Baiklah, bibi di sini dan temani Kanaya." pinta Hazel.


Hazel beranjak, dia menoleh sebentar lalu benar-benar melangkah keluar untuk menemui tamu yang entah siapa.


Kakinya melangkah begitu pasti, menuju ruangan tengah yang ada Arifin di sana.


"Mas Arifin," ucap Hazel, dia sedikit terkejut karena ada Arifin di sana, kira-kira dapat alamatnya dari mana?


"Hazel," Arifin langsung berdiri, dia sangat tak tenang apalagi Hazel hanya sendiri sekarang.


Arifin menoleh, melihat belakang Hazel yang mungkin akan ada Kanaya di sana.


"Hazel, Kanaya bersama kamu kan?" tanya Arifin langsung saja. Tak ada keraguan untuk bertanya dia harus mendapatkan penjelasan yang jelas.


Hazel yang sudah berhenti di depannya langsung di raih tangannya oleh Arifin, wajahnya terlihat begitu panik dan juga takut.


"Hazel, Kanaya bersama kan?" tanya Arifin begitu tak sabar.


"Mas tenang dulu, mari duduk." ajak Hazel, dia langsung menarik tangan Arifin dan mengajaknya duduk. Arifin pun ikut duduk seperti Hazel dan tepat di sebelahnya.


"Hazel?"


"Kanaya ada di sini, Mas. Mas tidak usah khawatir, di baik-baik saja, hanya saja? Dia sedikit tertekan."


"Tertekan? Apa maksudnya, Hazel?" Semakin panik Arifin.

__ADS_1


Jika Kanaya tertekan berarti ada hal buruk yang terjadi pada Kanaya. Lalu apa? Apakah semua itu karena Dirga?


"Apakah Dirga melakukan sesuatu padanya?" langsung Arifin menebak.


"Hem, hampir saja Dirga melecehkan Kanaya. Dia begitu terobsesi padanya hingga dia tidak terima saat Kanaya menolaknya. Dia ingin Kanaya menjadi miliknya, dan mungkin dengan cara seperti itu maka dia akan mendapatkan Kanaya." Hazel menjelaskan.


Sebenarnya Hazel begitu ragu untuk menceritakan, tapi dia kenal siapa Arifin dia sudah seperti kakak bagi Kanaya dan tentu harus tau apapun yang terjadi.


"Kurang ajar!" mata Arifin seketika melotot tajam, tangannya mengepal sempurna dengan kemarahan yang besar.


"Lalu di mana Kanaya sekarang?" Arifin menoleh kearah Hazel, dia sangat khawatir pada Kanaya dan ingin bertemu, melihat langsung bagaimana keadaannya sekarang.


"Kanaya ada di kamar, dia sedang makan di temani bi Nani. Dia harus minum obat supaya bisa istirahat dan bisa tenang."


"Maaf karena aku membawanya pulang, aku takut kalau pulang ke rumahnya keluarganya akan panik dan sedih, aku tidak mau sampai kesehatan mereka terpengaruh."


Hazel menjelaskan apa yang dia pikirkan tadi. Dia harap Arifin akan menghargai keputusannya.


"Tapi kamu jangan khawatir, aku tidak mungkin berbuat buruk padanya. Aku masih waras," Hazel menegaskan.


Hazel memang mencintai Kanaya tapi dia tidak akan melakukan hal buruk padanya. Cinta itu untuk menjaganya, bukan menghancurkannya.


"Hem, aku percaya padamu." Entah kenapa Arifin lebih percaya pada Hazel daripada Dirga, mungkin dia mengingat bagaimana dirinya dulu jadi dia paham akan sifat seseorang.


"Apakah aku boleh bertemu dengan Kanaya?" tanya Arifin.


"Siapa aku melarang mu, jamu lebih berhak atas Kanaya daripada diriku sekarang. Tapi entah di masa depan. Hehehe," Hazel nyengir kuda begitu saja.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya Arifin, melihat wajah malu-malu Hazel sudah menjelaskan bahwa dia menyukainya.


Hazel hanya mengangkat kedua bahunya sendiri dia langsung beranjak dan berjalan lebih dulu menuju kamar dimana Kanaya berada.


Arifin seketika mengikuti langkah Hazel, hingga sampai di kamar Hazel.


"Lihatlah, dia masih begitu ketakutan sekarang. Sepertinya akan ada trauma dalam dirinya," ucap Hazel. Mereka sudah sampai di depan kamar Hazel, mereka hanya berdiri saja di depan pintu dan melihat bagaimana keadaan Kanaya sekarang.


"Astaghfirullah, Dirga benar-benar keterlaluan." Arifin begitu geram, bahkan semakin marah setelah melihat apa yang terjadi pada Kanaya.


Dulu dia memang begitu menyakiti Kanaya tapi tidak sampai membuat Kanaya seperti sekarang. Tapi Dirga?


"Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Arifin.


"Sayangnya kita tidak punya bukti untuk melaporkan dia ke kantor polisi. Seandainya saja ada, pasti aku sudah langsung melaporkannya."


"Tapi kita tidak bisa melakukan itu, kita tak ada bukti dan kita yang akan terjebak nantinya. Kita harus bisa main cantik," ucap Hazel.


"Kamu ada ide?" Arifin menoleh.


"Belum, stok ide ku habis jadi tak bisa berpikir." Kembali Hazel nyengir kuda, membuat Arifin kesal.


»»————><————««

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2