
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
"Ini nih mobilnya." Hazel langsung menepikan motornya setelah melihat mobil Dirga terparkir di depan salah satu rumah yang memang sangat mewah.
Setelah motor dalam posisi yang benar Hazel cepat turun, dia sudah sangat tidak sabar, dia sangat khawatir dengan keadaan Kanaya. Kenapa harus di ajak ke rumah itu, tentu ada tujuan buruk yang ingin Dirga lakukan pada Kanaya.
"Semoga Kanaya tidak apa-apa. Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa padanya. Kamu akan hancur Dirga." ucap Hazel begitu geram. Tak ada embel-embel tuan lagi pada panggilannya sekarang.
Tuan adalah untuk orang yang baik sebagai bentuk bahwa dia menghormati orang itu, tapi untuk Dirga? Dia tidak pantas mendapat penghormatan itu dari Hazel.
Dengan langkah cepat Hazel masuk ke pekarangan, dia juga bergegas masuk.
Tok tok tok!
Dengan keras Hazel menggedor pintu tapi tak ada jawaban sama sekali. Jelas saja ada hal yang tidak beres.
"Nay, Nay!" Hazel terus berteriak, menggedor pintu dengan sangat kasar. Dia sangat tidak sabar untuk bisa masuk.
Dia tekan handle pintu dan ternyata tidak di kunci sama sekali.
"Dasar bodoh, pintunya tidak di kunci kenapa kamu pakai acara gedor pintu?" ucap Hazel mengomeli dirinya sendiri.
Dia buka lebar-lebar dan setelah berhasil dia kembali berlari masuk. Dia harus mencari keberadaan Kanaya yang dia yakini ada di dalam sana dan berada di salah satu ruangan dari rumah itu.
"Nay! Nay!" Teriak Hazel dengan bingung, dia juga terus melangkah. Dia begitu tergesa-gesa untuk bisa me menemukan keberadaan Kanaya saat ini. Dia pasti sangat membutuhkan dirinya.
"Nay!" Hazel kembali berteriak.
Belum ada jawaban dari Kanaya ataupun dari Dirga, tapi Hazel tidak akan menyerah dia harus tetap mencari Kanaya sampai ketemu.
Prank!
"Nay!" Baru saja Hazel akan berjalan ke arah lain di arah belakangnya dia mendengar suara dari benda yang jatuh. Apakah itu adalah tanda akan keberadaan Kanaya?
"Nay!" Hazel berlari, dia harus cepat menemukan Kanaya. Hazel begitu khawatir, dia terus melangkah dengan cepat seperti langkah pacuan kuda yang tengah bertanding.
"Akk, lepas lepaskan saya, akk!"
Suara teriakan dari Kanaya begitu menggema di telinga Hazel, Hazel semakin cepat berlari, amarah bercampur detak jantung yang begitu cepat, darahnya berdesir kian panas hingga mencapai ubun-ubunnya, dia sangat marah meski baru mendengar teriakan Kanaya yang terdengar memohon dan juga meronta.
Brakk!
Tanpa pikir panjang Hazel langsung mendobrak pintu yang ada Kanaya dan Dirga di dalamnya. Amarah kian membuncah dari Hazel melihat Dirga yang sudah ada di atas tubuh Kanaya.
Hijab sudah terlepas, rambut panjangnya sudah tergerai berantakan dengan baju yang baru di pegang oleh Dirga sepertinya ingin di paksa lepas.
Kanaya tentu sudah menangis, tubuhnya gemetar ketakutan karena perbuatan Dirga yang ingin mengambil kesuciannya yang selama ini telah dia jaga.
__ADS_1
"Dirga! Kurang ajar kau!" dengan tatapan singa Hazel berlari dan langsung melayangkan tendangan untuk tubuh Dirga.
Gerakan yang begitu cepat dari Hazel membuat Dirga seketika terjengkang di lantai. Kedatangan yang tiba-tiba seolah tidak di sadari oleh Dirga, mungkin karena dia begitu terselimuti keinginan jahatnya pada Kanaya jadi dia tak sadar.
Baru Dirga sadar setelah dia terjengkang di lantai dan kepalanya hampir saja terbentur dinding.
Dengan begitu kuat Hazel menarik kerah baju Dirga, kembali dia melayangkan pukulan pada Dirga. Tak akan dia beri kesempatan untuk Dirga bisa lepas darinya. Dia akan terus membabi buta di tengah-tengah amarahnya.
"Rasakan ini, beraninya kau berusaha merenggut kesuciannya! Rasakan ini!"
Bugh! bugh! bugh!
Hazel begitu tak bisa mengendalikan diri dia begitu membabi buta Dirga hingga dia tak ada kesempatan untuk melawan. Tapi..
Bugh!
Dengan kuat Dirga menendang Hazel hingga akhirnya Hazel yang terjengkang sekarang. Giliran Dirga yang berada di atas Hazel dan berganti dia yang berusaha memukuli Hazel.
Persaingan begitu sengit dari keduanya, tak ada yang ingin kalah, mereka tentu memperebutkan kemenangan.
"Kau tidak akan bisa mengambilnya dariku. Dia milikku, milikku! Bugh!"
Dirga pun juga sama, meski dia sudah terluka tapi dia tetap tak mau kalah, dia terus melayangkan pukulan untuk Hazel.
Dengan tenaga penuh Hazel menggulingkan Dirga dan kini dia yang berganti di atas Dirga. Pertarungan Hazel yang memimpin sekarang, dia bisa bebas dan mudah memberikan pukulan untuk Dirga.
Sementara Kanaya, dia sudah duduk di pojokkan kasur, dia begitu takut dan juga syok. Tubuhnya menggigil ketakutan, memeluk kedua kaki yang dia lipat keatas, Kanaya menangis dan semakin sesenggukan.
Melihat pertarungan keduanya membuat Kanaya semakin takut, dia tak sanggup lagi melihat keduanya dan kini menyembunyikan wajahnya.
Tidak pernah terbayangkan kalau Dirga akan senekat itu hanya demi bisa mendapatkan dirinya, dia tak menyangka. Dirga memang keras, tapi Kanaya tak percaya dia tega padanya dan berniat mengambil kesuciannya yang telah lama dia jaga. Tak dia biarkan siapapun menyentuhnya dan Dirga ingin merenggut nya paksa.
Cinta memang akan indah jika di lakukan dengan benar, di rawat dengan cara yang benar juga. Tapi cinta akan berujung menakutkan kalau dia tak bisa membedakan mana itu cinta yang murni dan tulus dari cinta yang dipenuhi dengan obsesi.
Bugh!
Pukulan terakhir dari Hazel membuat Dirga tak lagi bisa melawannya. Dirga terkapar tak mampu bergerak, tapi dia masih sadar.
"Nay!" Hazel berlari ketempat Kanaya setelah Dirga tak bisa berkutik lagi.
Tapi tidak, Dirga ternyata masih bisa berdiri meski dengan perlahan. Dia mengangkat vas yang sangat besar dan akan dia layangkan tepat di kepala Hazel.
"Akk!" teriak Dirga.
Bugh!
Prakk!
__ADS_1
Vas itu terjatuh karena di tendang dengan kuat oleh Hazel.
"Dasar bodoh, kau ingin membunuhku dengan berteriak seperti itu! Dasar bodoh!" umpat Hazel. Memakai Dirga yang kini kembali ambruk di lantai.
Bugh!
Di tendang kaki Dirga cukup keras membuat Dirga meringis kesakitan. Sungguh sadis Hazel melakukan itu, dia begitu tak kenal ampun kalau sudah marah. Tak akan berhenti sampai musuh tak bisa bergerak lagi.
"Nay," panggil Hazel. Dia berlari menghampiri Kanaya, berhenti di depannya.
Sungguh sakit hati Hazel, melihat perempuan yang dia cintai ketakutan seperti sekarang ini. Hazel merasa gagal menjaganya. Telat sedikit saja pastilah Kanaya akan ternoda dan penyesalan Hazel akan terjadi hingga seumur hidupnya.
Diambil hijab pasmina yang teronggok di lantai, dia gunakan untuk menutupi rambut Kanaya.
"Jangan takut, kamu sudah aman." ucap Hazel dengan tangan bergerak memakaikan hijab itu di kepala Kanaya.
Kanaya mengangkat wajahnya, tatapannya penuh rasa terima kasih pada Hazel, tapi Kanaya masih sangat ketakutan.
"Kita pergi sekarang?" ucapnya. Kanaya masih diam, suara seakan tak mampu untuk keluar dari bibirnya.
Tubuhnya terasa tak mampu untuk bergerak, dak sangat ketakutan.
"Biar aku bantu. Maaf," ucap Hazel.
Tanpa mendapatkan jawaban dari Kanaya Hazel langsung mengangkat tubuh Kanaya yang begitu gemetar. Tak ada penolakan dari Kanaya membuat Hazel yakin melakukannya.
"Hey, jangan bawa dia!" suara Dirga gemetar kesakitan, melarang Hazel membawa Kanaya pergi, tapi tak akan di hiraukan oleh Hazel sama sekali, dia tetap berniat keluar dari rumah itu membawa Kanaya pergi.
"Tunggu saja akhirmu, Dirga. Kamu tidak akan pernah lepas sebelum mendapatkan hukuman." ucap Hazel tanpa menoleh. Dia melanjutkan langkah dan keluar.
Begitu sedih Hazel melihat keadaan Kanaya sekarang, dia terus diam dan tak mengatakan apapun meski dia menggendongnya. Padahal biasanya hanya untuk menyentuh sedikit saja Hazel tidak bisa.
Di dudukkan Kanaya di atas motornya dengan perlahan. Hazel melihat wajahnya dalam sesaat, tatapannya masih kosong.
"Maaf ya." Kembali Hazel minta maaf. Bukan berarti Hazel mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi dia tidak akan bisa membiarkan Kanaya jatuh Hazel juga membenarkan hijab Kanaya lebih dulu untuk benar-benar menutupi rambutnya.
Hazel naik pada motornya melepaskan jaketnya dan dia gunakan untuk mengikat tubuh Kanaya pada tubuhnya. Sebelum jalan kedua tangan Kanaya juga dia lingkarkan pada perutnya.
Kanaya begitu nurut mungkin karena dia masih sangat takut dan dia merasa nyaman sekarang. Tubuhnya yang lemah membuat Kanaya menyandarkan kepalanya pada punggung Hazel. Hazel menoleh sebentar, dia melihat wajah Kanaya dan matanya tetap saja menatap kosong.
Mungkin Kanaya tidak sadar apa yang dia lakukan sekarang.
Hazel perlahan menjalankan motornya dengan Kanaya membonceng di belakang dengan duduk miring, dengan terikat pada Hazel menggunakan jaketnya dan juga tangannya yang memeluk Hazel. Bukan itu saja, Kanaya bersandar pada punggung Hazel dengan sangat nyaman.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung....
__ADS_1