Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Keluhan Hazel


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bruk...


"Hem, sepertinya ada yang salah dengan ku," gumam Hazel. Tubuh yang terasa sangat lelah langsung di hempaskan di atas ranjang begitu saja setelah pulang dari rumah sakit. Bahkan tas yang dia bawa juga sudah terlempar jauh di atasnya kepalanya.


Matanya memandangi langit-langit, membayangkan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Apa ini? Dia belum mengenal seorang wanita dengan begitu dekat tapi dia susah rela mendapatkan pukulan yang akhirnya melukai bibirnya hanya karena wanita itu.


Bukan itu saja, apa yang dia dapat dari dia yang meminum minuman yang sangat dia jauhi sebelumnya.


"Konyol," umpatnya lagi. Tapi bibirnya tersenyum, entah karena merasa lucu atau karena merasa tidak percaya dengan dirinya sendiri.


Tangan yang semula terlentang sekarang sudah beralih di bawah kepalanya, menjadi bantal untuk dia sendiri supaya lebih nyaman, dan itu benar-benar doa dapatkan.


"Kanaya Setya Ningrum, hem..., nama yang sangat bagus," kembali Hazel mengagumi tapi itu tanpa sadar dia mengatakannya.


Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, bibirnya sesekali tertarik untuk tersenyum, apakah dia mulai kehilangan akal sekarang?


"Astaga, apa-apaan ini! Kenapa aku jadi mengagumi wanita itu? Ini tidaklah benar Hazel," ucap Hazel. Merutuki diri sendiri karena apa yang keluar dari mulutnya. Mungkin dia merasa tidak pantas ataupun wajar, tapi sejatinya itu hal yang wajar kan kalau seorang laki-laki mengagumi seorang wanita.


"Kamu harus menyiram kepalamu dengan air yang banyak, Hazel. Kalau perlu jamu berendam di kolam dan menenggelamkan kepalamu juga biar kamu waras," umpatnya lagi.


Tangan satunya dia tarik dari bawah kepala, dia gunakan untuk memijat pelipisnya. Tidak mungkin dia pusing hanya karena memikirkan Kanaya kan?


"Tapi, Tuan Dirga itu benar-benar keterlaluan. Dia meninggalkan wanita sebaik dan secantik dia untuk hidup sendiri. Mana ada laki-laki yang begitu kasar yang begitu terobsesi padanya lagi?"


"Dirga Gantara, Dirga Hendrawan..., hem, nama depan yang sama tapi kelakuannya benar-benar bertolak belakang."


"Gantara, Aryantara..., mirip sih belakangnya. Tapi sayang, sangat jauh berbeda juga."


"Seandainya...? Ah, tidak tidak! Itu pikiran yang gila Hazel. Nama belakang kamu memang sama, tapi bukan berarti juga kamu bisa menggantikan Tuan Dirga."

__ADS_1


"Menggantikan? Hahaha..., kamu benar-benar udah kehilangan akal, Hazel. Kamu menginginkan janda beranak satu gitu? Hahaha!"


"Sudahlah, lebih baik aku dinginkan kepala ku biar jauh dari pikiran miring," ucap Hazel. Terus saja dia mengeluarkan argumen-argumennya sendiri. Sungguh lucu sekali.


Karena tidak mau berlarut-larut Hazel langsung memilih berlari masuk ke kamar mandi, lebih baik membersihkan diri supaya lebih segar siapa tau pikiran-pikiran yang seperti tadi akan hilang setelahnya.


Lima belas menit Hazel berada di dalam kamar mandi, dan setelah waktu di habiskan di sana dia kembali keluar dengan tubuh yang sudah segar bugar. Sepertinya otaknya juga sudah sedikit waras, mungkin?


Sembari mengeringkan rambut dengan handuk Hazel duduk di tepi ranjang, berniat untuk membuka laci untuk mengambil sesuatu, tapi apa yang di cari tidak dua temukan dan malah amplop putih yang dia dapat.


"Inikan dari Tuan Dirga di saat melakukan kemoterapi yang terakhir kalinya, apa sih isinya?"


Lima tahun Hazel tidak membukanya, dia terus menyimpan di tempat itu dan tidak pernah berpindah tempat sama sekali.


Tangannya menghentikan pergerakan, meletakkan handuk di sebelahnya dan mulai membuka. Penasaran, jelas Hazel sangat penasaran.


Perlahan-lahan Hazel mulai membaca, dia begitu fokus dan matanya sama sekali tidak berkedip.


'Saya sudah merasa umur sudah tak lagi panjang, jika benar di kemoterapi yang selanjutnya saya tidak datang itu artinya saya memang sudah berpulang. Saya tolong dengan sangat, saya titip istri dan anak saya.'


'Saya tau ini tidak benar, dan mungkin dengan seperti ini saya seperti seorang pengemis, tapi saya tidak tau lagi harus meminta dengan siapa lagi. Tolong, Dok.'


'Tapi saya juga tidak bisa paksakan, kalau dokter berkenan saya sangat bahagia, jika tidak saya juga tidak akan keberatan. Saya minta maaf, saya tau ini permintaan yang paling gila yang mungkin pernah anda dengar.'


Hazel membaca dengan wajah melongo, dia tidak percaya kalau Dirga sampai menulis surat yang seperti sedemikian rupa, dia pikir omongan yang waktu itu hanya sebuah candaan saja, dan ternyata.


"Ya, anda memang benar-benar gila, Tuan. Tapi maaf, saya tidak bisa menjalankan amanah dari anda. Saya tidak bisa menjalin hubungan hanya karena amanah, saya ingin bisa menjalin hubungan berdasarkan cinta, bukan karena amanah," ucap Hazel.


Bukan itu saja yang Hazel pikirkan, tapi perbedaan keyakinan juga yang menjadi penyebabnya juga. Dia tidak mungkin menjalani hubungan dengan wanita yang berbeda keyakinan dengannya, tidak mungkin.


Belum selesai membacanya Hazel sudah langsung menutup dan juga menyimpan lagi di laci dengan cepat, dia tidak berbuat untuk menyelesaikannya, dia tau akhirnya akan seperti apa.

__ADS_1


"Hem, ini benar-benar permintaan yang sangat gila," ujarnya. Tangannya kembali mengambil handuk dan dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya lagi.


Hazel berjalan, dan berhenti di depan meja rias. Mengambil sisir dan merapikan rambutnya dengan keadaan berdiri, sementara handuknya? Handuknya sudah teronggok di mejanya.


"Hemmm...," Hazel berdendang. Meski tidak jelas namun dia terlihat sangat senang.


Tangannya terus bergerak dengan sisirnya hingga benar-benar rapi baru dia melepaskan.


Kring... kring...


Belum juga benar-benar rapi ponsel Hazel berdering, Hazel cepat menyelesaikannya dan langsung mengambil ponsel yang ada di atas meja.


"Oma, tumben dia menelfon?"


"Halo, Om...,"


"[Dasar anak nakal ya! Katanya janji untuk datang ke rumah oma, tapi nyatanya tidak datang! Lihatlah, oma sudah siapkan makanan banyak dan ini semua kesukaan kamu, apakah kamu mau membuat kerja keras oma sia-sia!]"


"Woh, maaf oma, Hazel lupa. Oke, Hazel meluncur sekarang. Tunggu lima belas menit lagi, Hazel akan sampai."


Tut... tut... tut...


Telefon terputus dan pelakunya adalah Hazel, dia langsung terburu-buru, dia benar-benar sangat lupa untuk datang ke tempat sang Oma. Dia sudah janji, tapi dia sendiri yang melupakan.


"Gawat, oma bisa ngamuk kalau aku tidak cepat datang," ujar Hazel. Hazel menyambar jaket kulitnya dengan tergesa-gesa dia memakai juga dengan berlari keluar dari kamar. Dia akan dalam masalah jika sampai telat.


Hazel terus berlari, dia tak ingin sampai terlambat.


"Ini semua karena aku terlalu memikirkan hal yang tidak penting, Hazel Hazel..., kamu butuh obat sepertinya," keluh Hazel.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2