Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Pergi bersama


__ADS_3

»»————><————««


Setelah melewati beberapa rayuan oleh Syifa akhirnya dia bisa mengajak Kanaya untuk pergi jalan-jalan bersama Hazel. Meski awalnya dia tidak tau namun setelah tau dia juga bisa menerimanya, apalagi dia sudah janji pada Syifa untuk ikut.


Ternyata bocah kecil itu sangat pintar juga merayu Uminya yang sebenarnya tak mau keluar dari rumah. Jangankan dari rumah, keluar kamar saja rasanya masih sangat malas.


Hazel juga Syifa terus saja bicara ketika berada di dalam mobil, tapi tidak dengan Kanaya yang lebih memilih diam dan menjadi pendengar setia saja.


Tak ada komentar apapun meski keduanya begitu berisik, namun malah sebaliknya dan kadang membuat Kanaya tersenyum kecil hampir tak dapat terlihat.


"Om, nanti beneran ya Syifa di beliin es krim," Katanya. Bocah itu sepertinya akan menagih apa yang sudah Hazel katakan padanya.


Kalau Syifa berhasil membujuk Uminya dan mereka bisa jalan-jalan bersama maka imbalannya adalah es krim juga cokelat, tapi entah nanti Kanaya akan mengizinkannya atau tidak.


"Siap, izin dulu dong sama Umi." jawab Hazel, dia menoleh ke arah Kanaya dan wanita berhijab biru dongker itu langsung menoleh setelah baru saja melihat keluar dari kaca jendela yang ada di sebelahnya.


"Boleh ya, Umi?" Syifa begitu berharap, begitu memohon bahkan dengan wajah imutnya yang di buat dengan memelas.


"Hah!" ternyata kali ini Kanaya tidak mendengarkan, sepertinya dia masih sangat sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Boleh ya, Syifa di beliin es krim sama om Hazel?" Syifa yang mengulang lagi perkataan yang tadi. Dia sudah sangat menginginkan es krim karena sudah lama juga, tapi entah akan mendapatkan izin atau tidak semoga saja boleh.

__ADS_1


"Hem," Kanaya hanya tersenyum kecil saja juga senyum yang tak semangat, itupun kembali lagi menoleh ke samping.


Begitu bingung Hazel sekarang, dengan cara apa dia bisa membuat Kanaya bisa tersenyum. Bisa membuat senyum dan semangatnya itu kembali lagi dan juga traumanya hilang.


sebenarnya Hazel sudah menyarangkan untuk mengajak Kanaya pergi ke tempat psikolog, tapi Kanaya menolak karena dia bilang tidak apa-apa, tapi kenyataannya dia masih belum menghilangkan trauma itu.


Berbagai cara ingin Hazel lakukan untuk Kanaya, semua hal yang terbaik, tapi mau bagaimana lagi kalau Kanaya sendiri tidak mau. Terpaksa Hazel hanya mendapat obat-obat saja untuk bisa menghilangkan traumanya.


Apa yang Hazel lakukan sekarang juga bentuk terapisnya, dia ingin mengajak Kanaya ke tempat yang diharapkan bisa membuat dia bahagia dan melupakan hal-hal yang sudah terjadi.


"Om, bagaimana ini? apakah Umi tidak akan bisa tersenyum lagi? apakah senyumnya pergi meninggalkan Umi? kalau Iya, bisa pakai senyum Syifa kan?" bisik Syifa.


Syifa mendekat, membisikkan kata-kata itu dan mampu membuat Hazel tersenyum. Bagaimana mungkin senyum bisa di pindahkan?


Hazel pun juga berbisik pada Syifa, keduanya begitu senang bisik-bisik sementara Kanaya tetap acuh tak lagi mendengarkan.


"Oh, gitu ya? kalau begitu bagaimana caranya kita bisa buat Umi tersenyum?"


"Ini lagi Om pikirkan, Syifa juga ikutan berpikir ya," pinta Hazel. Entah cara seperti apa yang akan di dapat oleh anak kecil seperti Syifa. Tapi apapun itu, itu adalah hasil pemikirannya sendiri jadi harus tetap di hargai.


»»————><————««

__ADS_1


Tak ada Kanaya bukan berarti keadaan perusahaan akan kacau, tapi tak ada Kanaya semua tetap berjalan dengan bagaimana semestinya.


Ada Arifin yang begitu ahli dan juga bisa di percaya, juga ada Kayla yang membantunya.


Keduanya begitu kompak, saling kerja sama meski kasih ada rasa gugup saat selalu bersama dan bekerjasama di sari ruangan berdua saja.


Meski Kayla selalu mengajak teman tapi ujung-ujungnya dia akan tetap sendiri di sana bersama Arifin saja, ya seperti sekarang ini.


"Pa_ pak, apakah sudah selesai? apakah masih ada yang bisa saya kerjakan?" Tanya Kayla.


Semua pekerjaan yang dia bawa ke hadapan Arifin sudah beres semua dan dia harus memastikan sebelum dia pergi.


"Sudah, tapi sebentar lagi kamu di sini. Jangan pergi dulu," pinta Arifin masih sibuk dengan laptopnya.


"Tapi pak?"


"Jangan panggil aku pak, aku belum setia itu." protes Arifin. Dia tak sadar saja kalau memang dirinya sudah sangat pantas di panggil pak.


Dia sudah punya dua anak meski sekarang tak bersamanya dan mereka terus bersama dengan ibu mereka masing-masing.


Seandainya Kayla tau kebenaran Arifin, entah dia akan mau menerima Arifin atau tidak. Entah dia akan tetap menyukai Arifin atau tidak, tapi yang jelas jodoh tak akan kemana dan tak akan pernah tertukar.

__ADS_1


»»——⍟——««


Bersambung..


__ADS_2