Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Akhir Bahagia


__ADS_3

>-----><-----<


Kanaya terus berjalan memutari rumah untuk mencari keberadaan Syifa, entah dimana anak itu berada sekarang. Acara belum selesai tapi dia sudah pergi dan entah ada dimana.


Untung saja acara inti sudah selesai dan hanya tinggal acara makan-akan saja, jadi Kanaya juga bisa pamit tanpa ada rasa khawatir akan ada masalah baru.


''Syifa! Sayang!'' Kanaya terus memanggil. Terus dia menoleh ke segala penjuru tapi belum juga menemukannya.


''Kamu dimana sayang?'' Kanaya begitu gelisah, dia sangat takut kalau sampai ada hal buruk yang terjadi pada putrinya itu.


''Nay, kenapa kamu disini? Ada apa, apa ada masalah?'' tanya Hazel yang ternyata diam-diam mengikuti Kanaya.


''Semua orang sedang makan, tapi kenapa kamu malah pergi, kamu tidak ada masalah, kan?'' Hazel begitu sangat penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Kanaya terlihat begitu gelisah.


''Syifa, Mas. Dari tadi dia menghilang, aku sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Aku sudah mencari dimana-mana, tapi belum ketemu juga.'' Kanaya semakin gusar.


"Kamu beneran sudah mencari dimana-mana?" Hazel seketika ikut khawatir. Netranya seketika mengedar ke-segala penjuru.


"Sudah, Mas."


"Kamu jangan takut, kita cari sama-sama." Hazel berusaha memberikan kekuatan untuk Kanaya.


"Lebih baik kita berpencar untuk mencari Syifa supaya bisa cepat ketemu," ucap Hazel.


Kanaya mengangguk, membenarkan apa yang Hazel katakan. Dengan mereka berpencar pasti akan lebih cepat menemukan Syifa.


~~~~``


Hazel menghentikan langkah ketiga sampai di belakang rumah, terus menoleh dan berharap akan menemukan Syifa di sana.


"Syifa dimana ya," ucapnya. Kembali Hazel ingin berlari namun tanpa sengaja matanya melihat Syifa yang duduk sendiri di sisi kolam ikan.


"Syifa, apa yang dia lakukan di sana?" Gegas Hazel berjalan cepat untuk menghampiri Syifa.


Hazel ikut duduk di sisi kolam, tepat di hadapan Syifa yang terus diam dan memainkan air.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu malah kesini di saat acara belum selesai. Terus kenapa wajah kamu jelek begini?" tanya Hazel. Caranya bicara dia buat seimut mungkin supaya Syifa bisa tersenyum, atau paling tidak mau menoleh ke arahnya.


Syifa masih diam dan enggan bergerak.


"Sayang, lihat Om Abi. Cerita sama Om Abi kenapa Syifa jadi sedih begini. Apakah ada yang mengatakan sesuatu pada Syifa? Apakah ada yang nakalin Syifa?" tanya Hazel, dia sangat penasaran dengan perubahan Syifa.


Kini Syifa mau melihat Hazel, wajahnya terlihat begitu sedih seperti habis kehilangan mainan.


"Om Abi, sebentar lagi Om Abi sama Umi akan menikah. Tadi saja Om Abi tidak menjawab pertanyaan Syifa hanya karena melihat Umi, apakah setelah menikah Om Abi juga tidak akan sayang lagi sama Syifa?"


"Terus, apa Umi juga hanya akan serius pada Om Abi saja dan akan melupakan Syifa?"


Hazel sempat tertegun, bagaimana bisa Syifa memiliki pikiran seperti itu?


"Sayang, sini. Duduk di pangkuan Abi." pinta Hazel. Menghilangkan embel-embel Om pada panggilannya.


Perlahan menarik kedua tangan Syifa hingga Syifa mengikutinya dan duduk di pangkuannya.


"Sayang, meski Abi dan Umi akan menikah sebentar lagi. Abi akan tetap sayang pada Syifa, bahkan akan semakin bertambah rasa sayang Abi pada Syifa. Kalau untuk Umi, karena Abi juga harus memperhatikan Umi. Abi harus menjaga Umi dan Syifa juga."

__ADS_1


"Untuk Umi, Umi tidak akan mungkin melupakan Syifa. Umi sangat sayang pada Syifa sama seperti Abi yang sayang sama Syifa."


"Dan setelah menikah, bukankah Syifa akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Abi? Setelah itu kita akan selalu bersama-sama. Syifa, Umi dan Abi. Bukankah itu yang Syifa inginkan?" tanya Hazel. Berbicara dengan lemah lembut pada Syifa, dia ingin memberikan pengertian padanya.


"Beneran kan, Om Abi tidak akan melupakan Syifa?"


Hazel tersenyum lalu mencium pipi Syifa yang gembul. "Tidak akan pernah. Abi akan selalu sayang sama Syifa. Karena Syifa adalah anak Abi."


"Meski Om Abi akan punya anak selain Syifa?" Syifa menatap lebih lekat.


"Tentu, meski Abi akan punya anak lagi, Abi akan tetap sayang pada Syifa. Bukankah dia adalah adiknya Syifa? Jadi Syifa juga harus sayang. Kita semua harus saling sayang. Oke."


Syifa mengangguk lalu berdiri dan berputar, seketika Syifa memeluk Hazel dengan erat. "Terima kasih sudah mau menjadi Abinya Syifa, Abi." ucap Syifa.


Dari jarak beberapa langkah dari mereka berdua, Kanaya melihat keduanya dengan tersenyum namun air matanya mengalir. Dia begitu terharu.


"Sayang!" panggil Kanaya.


Syifa seketika menoleh. "Umi!"'Syifa berlari menghampiri Kanaya dan memeluknya dengan erat.


"Maafin Syifa ya, Umi." ucapnya.


Hazel melangkah menghampiri, berdiri dekat dengan keduanya dan tersenyum. Dua anugrah terindah yang Hazel dapatkan yang akan menyempurnakan kehidupannya.


~~~~```•


Setelan beskap berwarna putih lengkap dengan segala aksesorisnya membuat Hazel terlihat semakin gagah. Berjalan ke tempat akad nikah dengan di gandeng oleh Davin dan juga Kristin.


Duduk dengan tenang di kursi yang sudah di siapkan, duduknya lebih tenang daripada hatinya yang begitu gelisah, dia begitu gugup dengan kepala yang terus menghafal ijab qobul yang akan dia ucapkan untuk Kanaya.


Hazel semakin gelisah, tapi kepalanya langsung mengangguk dan tangan juga terangkat.


"Baik, kita mulai sekarang," ucap penghulu lagi.


Tangan keduanya saling berjabat lalu penghulu mulai mengucapkan ikrar untuk menikahkan Hazel dan Kanaya.


Dalam sekali hentakan tangan, Hazel langsung berseru dengan begitu lantang dan jelas mengucapkan ikrar suci pernikahan. Membuat semua orang ikut bahagia termasuk Opa Hasan dan juga Oma Uswah. Begitu juga dengan Wak Ami yang memangku Syifa.


Kebahagiaan begitu besar, semua ikut bahagia menyaksikan Kanaya yang kembali menemukan jodohnya setelah Dirga berpulang. Pernikahan yang benar-benar berdasarkan dengan Cinta dan semua membawa harapan pernikahan mereka akan kekal hingga akhir hayat mereka.


"Sah!" Seru penghulu.


"Saahh!" Seru semua orang. Termasuk Arifin dan Keyla yang duduk bersebelahan. Keduanya saling melihat, tersenyum dengan bahagia.


"Sebentar lagi kita juga harus sah," Bisik Arifin, seketika membuat pipi Keyla merona.


"Apa sekarang sekalian?" gurau Arifin.


"Apa sih, Mas." Wajah Keyla langsung berpaling untuk menyembunyikan pipinya yang seperti kepiting goreng juga hati yang terus bergetar, dia tersenyum.


Senang rasa hati Arifin bisa menggoda Keyla. 'Sama seperti Hazel yang akan terus membahagiakan Kanaya, aku janji juga akan terus membahagiakan mu, Key.' batin Arifin.


~~`


Pertemuan yang penuh haru biru ketika Oma Uswah yang datang dengan menuntun Kanaya. Wanita itu terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya berwarna putih lengkap dengan semua aksesoris yang menambah kesan mewah.

__ADS_1


Hazel terus terpukau, matanya tak berkedip melihatnya. Sekarang tak ada halangan dan tak ada larangan untuk melihat sepuasnya. Dia sudah sah menjadi suami Kanaya.


'Ya Allah, langkah kaki ini membawaku ke dalam kehidupan baru dengan pria yang telah Engkau pilihkan. Aku mohon Engkau selalu menuntunku dalam ketaatan. Menjadikan pernikahan ini sebagai ladang pahala hingga akhir hidupku.'


'Mas Dirga, terima kasih sudah mengajarkan aku tentang kesabaran, mengajarkanku tentang arti menerima takdir dengan ikhlas, terima kasih untuk kehidupan dan cinta yang sudah kamu berikan. Terima kasih untuk segalanya.".


"Mas Dirga, aku minta maaf. Aku tak bisa menjaga cinta kita, aku berpaling darimu, aku melakukan perjalanan hijrah cintaku ke pelabuhan terakhir. Maafkan aku.'


'Mas Hazel, terima kasih sudah menerima ku apa adanya. Menerima segala kekuranganku dan menerima Syifa dengan baik. Terima kasih untuk Cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan kepada kami. Terima kasih.' batin Kanaya.


Perlahan menarik tangan Hazel, mengecupnya dengan sangat lembut. Matanya terpejam, mendapatkan kecupan untuk yang pertama kalinya dari Hazel yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Keduanya tersenyum.


Tak pernah habis senyum keduanya hingga cincin pernikahan sudah melingkar di jari masing-masing.


Keduanya beralih tertegun melihat Syifa yang tersenyum tapi ke arah lain. Mereka tak mengerti, tak tau apa atau siapa yang Syifa lihat. Namun senyumnya bersamaan dengan air mata yang mengalir.


"A-Abi," Lirih Syifa. Entah itu mimpi atau hanya berhalusinasi, tapi Syifa dengan jelas melihat Dirga yang tersenyum.


Syifa semakin sesenggukan. Kanaya yang melihat langsung berlutut di sebelah kanannya. "Sayang." Panggilnya.


Hazel pun melakukan hal yang sama. Berlutut di sebelah kirinya Syifa. Keduanya sama-sama merangkul, melihat ke arah Syifa melihat.


"Umi, Abi, Abi datang, dia tersenyum." ucap Syifa memberitahu. "Abi juga bilang Syifa harus jadi anak baik dan menyayangi Umi dan Abi."


Kanaya ikut menangis. Dia tidak bisa melihat namun dia percaya kalau Syifa tidak berbohong. Kanaya langsung memeluk Syifa dengan erat.


'Terima kasih, Mas.' batin Kanaya.


'Terima kasih, Tuan Dirga. Aku janji akan selalu menjaga dan membahagiakan mereka.' batin Hazel yang juga langsung memeluk keduanya.


»»————><————««


End....


»»————><————««


🤧🤧🤧🤧


Maaf ya, akhirnya aku tak kuat dan menangis.


🤭🤭🤭


Hay hay, terima kasih untuk semua yang sudah setia menunggu. Dan maaf karena mungkin belum bisa memberikan cerita yang baik dan berkesan untuk kalian semua.


Terima kasih sudah selalu kasih support pada Author yang masih abal-abal ini. Terima kasih semua.


Lop yo lop yo...


Jangan lupa nantikan cerita selanjutnya...


Salam hangat, salam sayang dari ku


😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2