Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Keinginan Syifa


__ADS_3

»»————><————««


Beneran tak mudah untuk mendapatkan restu yang Hazel inginkan. Dia datang tidak sendiri, tentu bersama dengan Kristin namun tetap saja tak mendapatkannya. Jangankan untuk mendapatkan restu, di izinkan masuk rumah saja tidak.


''Pa, izinkan kami masuk. Pa,'' teriak Hazel yang masih tak mau menyerah dengan tantangan yang sangat berat menurutnya.


Tok tok tok!


Bukan hanya Hazel saja yang terus berusaha tetapi juga Kristin. Dia juga terus membantu mengetuk pintu juga memanggil suaminya yang jelas-jelas ada di dala rumah. Entah sedang apa dia di dalam.


''Pa, tolong buka pintunya, Pa,'' teriak Kristin juga.


Keduanya terus berusaha tapi tak mudah untuk meluluhkan hati Davin yang sangatlah keras.


''Pergi, dan tak usah datang lagi. Mau kalian ngapain saya tidak akan peduli. Pergi!!'' teriak Davin dengan suara melengkingnya di dalam.


''Pa, Hazel mohon izinkan Hazel masuk, Pa.'' tetap Hazel tak menyerah. Demi mendapatkan restu dia akan terus berusaha untuk meluluhkan hati Davin sang papa. Inilah ujian terberatnya untuk sekarang, yaitu mendapatkan restu darai Davin.


''Pergi!!'' suara Davin semakin keras, seolah memenuhi rumah yang hanya ada dia seorang di dalam.


''Kamu yang sabar ya, Nak. Mama sangat yakin kamu akan mendapatkan restu itu meski tidak sekarang. Kita pulang dulu dan biarkan papamu sendiri dulu. Mama sangat yakin sebenarnya papamu sedang berpikir di dalam sana,'' ucap Kristin.


Dengan begitu berat Hazel membalikkan badannya, sepertinya akan hilang kesempatan untuk menikahi Kanaya bulan ini.


''Hem,'' Hazel mengangguk lalu berjalan untuk pergi dari rumah itu yang dulu adalah tempat yang menjadi tempat bermainnya semasa kecil. Seandainya tak ada takdir seperti sekarang ini mungkin Hazel aka tetap berada di sana. Tapi ternyata tidak! Takdirnya harus membuat dia berjuang keras untuk bisa kembali ke sana lagi.


Sementara di dalam rumah, Davin tengah duduk dengan begitu menyedihkan. Membayangkan kebahagian yang dulu kini telah sirna hanya karena Hazel yang menolak pertunangan dengan Ziana dan sekarang malah berpindah keyakinan dan juga ingin menikahi Kanaya.

__ADS_1


''Semua ini gara-gara wanita itu.'' gumamnya. Tentu yang dia maksud adalah Kanaya. Dia sangat menyalahkan Kanaya, dia berpikir bahwa Kanaya lah sumber masalahnya.


''Aku harus bertemu dengannya,'' gumamnya lagi, entah apa yanh akan dia katakan kalau benar-benar berteu dengan Kanaya, apakah dia akan melarang Kanaya dekat dengan Hazel? apakah dia akan memintanya untuk menjauh?




Berdua dengan Syifa di dalam kamarnya, terus menemani Syifa sampai dia bisa tertidur. Tapi sepertinya tidak akan cepat karena Syifa masih terus bertanya pada Kanaya. Menanyakan apapun mengenai Hazel dan kapan Hazel akan tinggal bersama mereka.



''Kenapa lama sekali, Umi? kata om Hazel kemarin dia akan tinggal di rumah kita secepatnya,'' tanya Syifa, gadis kecil itu sangat tidak sabar sepertinya untuk tingga dengan Hazel.



''Syifa berdoa saja ya, minta sama Allah supaya semuanya dimudahkan.'' jawab Kanaya. Terus dia mengelus rambut Syifa yang kepalanya dia sandarkan pada tubuh Kanaya.




''Emangnya kenapa Syifa begitu ingin Om Hazel datang dan tinggal? bukannya Syifa sudah punya Oma, Opa dan juga Umi?''



''Ya, ya karena Syifa ingin Om Hazel tinggal dan jadi abinya Syifa. Pengen di peluk dan juga pengen di bacain dongeng saat tidur, dan yang paling penting,, hehehe...'' Syifa malah meringis dan tak melajutkan kata-katanya membuat Kanaya merasa sangat penasaran, sebenarnya apa yang tengah dia inginkan.

__ADS_1



''Yang paling penting apa?'' tanya Kanaya yang sangat penasaran dengan keinginan dari Syifa.



Terlihat dia begitu malu-malu untuk menjawab pertanyaan dari Kanaya yang terus menatapnya.



''Hem?'' Kanaya semakin tak sabar untuk mendengarkan keinginan dari Syifa.



Syifa mendekatkan bibirnya pada telinga Kanaya dan berbisik di sana dengan sangat pelan karena tak mau kalau sampai ada yang mendengarnya. Semakin Kanaya penasaran dan memasang telinganya dengan benar supaya bisa mendengar semua yang Syifa katakan.



''Yang penting Syifa bisa cepat punya adik, hihihi..'' Syifa malu sendiri setalah berbisik. Seketika dia menjauhkan bibirnya dan menutupnya dengan tlapak tangannya. Bukan itu saja, Syifa juga langsung membalikkan tubuhnya dan memunggungi Kanaya yang terperangah saking terkejutnya dengan keinginan Syifa.



''Hah!'' pekik Kanaya tertahan.



»»————\><————««

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2