Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Kecemburuan Dirga


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Kanaya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya terus saja di buntuti oleh mobil lain. Dia terus fokus menyetir, menuju perusahaan karena ini juga sudah mulai siang, pasti dia akan terlambat kalau mengurusi hal-hal yang sepele.


Dia bahkan tidak menoleh, dia memang akan selalu fokus pada mengendarai dan tidak akan tolah-toleh kalau tidak penting.


Sementara mobil yang ada di belakangnya berusaha mengejarnya, dia begitu cepat karena ingin mendahului mobil Kanaya. Dan setelah berada di jalan yang agak sepi dari kendaraan yang lain mobil itu baru melaju dengan cepat dan berhasil menghentikan mobil Kanaya, dia berhenti tepat di depannya.


Ckitt!!


Begitu cepat Kanaya menginjak pedal rem, tentu saja dia tidak mau kalau sampai menabrak mobil itu, meski pengemudinya belum turun namun Kanaya sudah tau siapa yang ada di dalamnya.


"Mas Dirga?" ucap Kanaya. Matanya membulat terang dengan tubuhnya yang tegak dan juga jantung yang bekerja lebih cepat karena dia begitu syok.


Tak lama Dirga keluar dari mobil, dia langsung melangkah mendekati mobil Kanaya yang sudah berhenti.


Tok tok tok!


"Nay, aku ingin bicara," ucapnya. Terdengar sangat jelas meski kaca mobil Kanaya belum di buka.


Dengan perlahan Kanaya membuka namun belum berniat untuk turun, dia harus cepat ke kantor, mana mungkin akan mengurusi Dirga yang entah menginginkan apa darinya.


"Ada apa, Mas." tanya Kanaya yang tetap tenang meski dia sangat penasaran. Dia juga akan selalu berpikiran positif pada semua orang meski itu pada Dirga.


"Bisa turun sebentar?" begitu berharap Dirga kalau Kanaya akan turun dan mengikuti apa yang dia mau.


"Untuk apa, Mas. Kita bisa bicara nanti ketika jam istirahat. Nay harus cepat ke kantor, Mas, ini sudah terlambat," jawab Kanaya. Dia ingin menolak tapi sepertinya tidak akan diindahkan oleh Dirga yang begitu keras. Dia ingin tetap bicara dengan Kanaya.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu, tanpa mengatakan apapun Dirga langsung membuka pintu mobil Kanaya, menarik semakin lebar dan tentunya meminta Kanaya untuk cepat turun.


"Turunlah, aku ingin bicara dengan mu," katanya. Terdengar begitu menegaskan.


Kanaya begitu ragu untuk keluar dari mobil namun tetap saja akhirnya dia keluar.


"Tapi, Mas?" ucapnya, Kanaya masih sangat ragu. "Kita bisa bicara nanti, Mas."

__ADS_1


"Kenapa harus nanti, kamu selalu saja mau bicara dengan Hazel kapanpun tapi kenapa tidak jika denganku. Kenapa, apakah aku tak ada tempat didalam dirimu, Nay?"


Mata Dirga begitu nyalang penuh dengan kekecewaan. Dia merasa bahwa Kanaya tidak pernah ada waktu jika dengan dirinya, tapi kenapa tidak jika dengan Hazel?


"Apa yang kamu katakan, Mas. Aku tidak pernah seperti itu dengan mas Hazel." jelas Kanaya tidak setuju dengan apa yang Dirga katakan, dia tidak pernah merasa melakukan hal itu.


Jika dia bicara dengan Hazel bukankah dia juga bicara di waktu-waktu yang santai, bahkan di waktu istirahat, bukan di waktu sibuk seperti saat ini. Lagian tadi di sekolah Kanaya juga langsung pergi menjauh dari Hazel.


"Kamu bohong, tadi kamu bicara dengannya, tapi kenapa sekarang saat aku ingin bicara kamu begitu banyak alasan."


"Jangan-jangan kamu sudah mulai menyukai laki-laki itu. Ingat, Nay. Kamu harus menghargai_ku! Aku begitu lama menunggumu, aku sudah sangat lama menantikan mu, dan sudah begitu sabar."


Dirga begitu tegang dengan ucapannya, dia sangat kesal dengan apa yang di lakukan oleh Kanaya saat ini. Dari dulu dia terus berusaha, mendekati Kanaya dan melakukan apapun. Bahkan sudah banyak hal yang dia korbankan, tapi apa? Apakah semua itu tidak akan dilihat dan di ingat sama sekali oleh Kanaya?


"Kenapa kamu begitu menuntut, Mas. Bahkan aku juga tidak pernah memintamu untuk melakukan itu kan? Aku sudah selalu katakan bahwa kamu harus mencari wanita lain karena aku sudah katakan tidak akan pernah menerimamu, tapi apa! kamu tidak pernah mau dengar kan?"


Kanaya juga mulai tegang. Apa yang dia katakan juga benar. Dia tidak pernah meminta Dirga untuk selalu ada untuknya, dia sudah katakan untuk Dirga menjauh darinya.


Kanaya tau, dia tidak akan bisa memberikan apapun dan tidak mau memberikan harapan palsu untuk Dirga makanya dia terus mengatakan itu. Tidak hanya sekali dua kali Kanaya mengatakan, bahkan hampir setiap saat Dirga mendekatinya. Lalu siapa yang salah.


"Tidak ada yang kurang dalam diri kamu, Mas. Tapi masalah hati tidak bisa dipaksakan. Aku tidak bisa menerima kamu, Mas. Maaf." ucapan Kanaya sepertinya tidak akan membuat Dirga mengerti.


"Aku minta maaf, Mas. Aku akan tetap katakan, aku tidak bisa memberi kesempatan itu. Aku tidak bisa."


"Kenapa, apa karena ada Hazel sekarang?"


"Tidak ada urusannya dengan mas Hazel. Tidak mas Dirga ataupun mas Hazel, kalian sama posisinya bagi Nay. Kalau mau jadi teman Nay tidak masalah, tapi maaf jika untuk hubungan yang lain."


"Maaf, Nay harus pergi." Kanaya hendak pamit, dia sudah akan membuka pintu mobilnya tapi dengan cepat Dirga menutupnya kembali.


"Jangan pergi tanpa izin dariku, Nay." Matanya Dirga sudah sangat merah, dia sangat marah karena Kanaya ingin menghindarinya.


"Maaf, Nay. Apapun yang akan aku lakukan karena aku tidak mau kamu menolak ku lagi. Aku sudah begitu bersabar, dan sekarang tidak lagi. Kamu harus tetap mau menjadi milikku dengan cara apapun." ucapannya terdengar begitu menyeramkan di telinga Kanaya.


Kanaya mulai takut, Dirga pasti akan nekat demi bisa mendapatkan dirinya.

__ADS_1


Dicengkeram pergelangan tangan Kanaya dengan sangat erat, Dirga lalu menarik Kanaya dengan paksa. Jelas Kanaya akan berontak karena itu.


"Mas, apa yang mas mau lakukan, mas! Lepasin Nay!" tubuh Kanaya sudah gemetar, dia takut karena terus di tarik oleh Dirga dengan kasar.


Dirga begitu tak peduli, dia tetap menarik dan harus membuat Kanaya ikut dengannya.


Amarah dan juga keinginan yang sangat besar sudah begitu menyelimuti hati Dirga, dia tidak akan bisa di kendalikan dengan apapun meski Kanaya terus meronta dan meminta untuk di lepaskan.


"Mas, lepasin!" teriak Kanaya namun Dirga tak peduli.


Dengan cepat Dirga membuka pintu mobilnya sendiri, mendorong Kanaya dengan keras hingga membuat Kanaya masuk dengan cepat.


Brakk!


Pintu di tutup dengan kasar oleh Dirga, dengan wajah yang sangat tegang dia berlari memutari mobil dan masuk ke tempat pengendara sebelum Kanaya kembali keluar.


Baru saja Kanaya ingin keluar Dirga sudah masuk dan menahannya, menarik lagi tangan Kanaya dengan erat, jelas rasanya sangat sakit tapi Dirga tak peduli dengan itu.


"Mas, lepas!" Kanaya terus berusaha, namun tak kunjung berhasil, dia kalah tenaga tentunya.


"Diam!" bentak Dirga, suaranya begitu menakutkan bagi Kanaya, dia semakin ketakutan, tubuhnya kian menggigil dan air mata juga mulai berjatuhan.


Sebelum menjalankan mobil Dirga lebih dulu mengunci pintu di samping Kanaya, dia tidak ingin Kanaya nekat dan keluar dengan melompat, dia harus pastikan Kanaya akan benar-benar ikut padanya. Entah apa yang akan dia lakukan.


Kecemburuan yang begitu besar dari Dirga, dia sangat tak suka Kanaya dekat dengan laki-laki lain termasuk Hazel. Jika dengan caranya sekarang dia akan bisa membuat Kanaya menjadi miliknya seutuhnya dia akan lakukan.


Mobil mulai melesat meninggalkan tempat itu, meninggalkan mobil Kanaya yang teronggok di pinggir jalan tanpa penghuninya.


Entah setan apa yang merasuki Dirga saat ini, cintanya memang begitu besar tapi obsesinya yang lebih besar dan menutup akal sehatnya.


Cintanya ingin menghancurkan perempuan yang seharusnya dia jaga jika dia memang benar mencintainya. Benarkah itu adalah cinta? Tidak! Itu adalah sebuah obsesinya untuk bisa memiliki Kanaya.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2