Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Tanggung jawab baru


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Pak Danu merasa khawatir karena Kanaya tak kunjung sampai rumah. Padahal jarak mereka tadi tidak terlalu jauh tapi, kenapa tidak sampai-sampai?


Pak Danu yang tak sabaran terus menunggu di depan rumah dengan mondar-mandir, dalam jarak beberapa detik saja dia selalu melihat gerbang, siapa tau Kanaya akan tiba.


"Bun Naya mana, kok tidak sampai-sampai sih?" Pak Danu semakin gelisah.


Kening pak Danu mengernyit ketika melihat mobil lain yang datang. Itu bukan mobil Kanaya, tapi kenapa berhenti di depan gerbang?


Mobil itu benar-benar berhenti bahkan mesinnya juga sudah di matikan. Perlahan pintu terbuka dan yang keluar adalah Kanaya dengan tas yang dia bawa.


"Bu Naya, kenapa pakai mobil lain?" pak Danu begitu bingung. Meski dia bersama dengan Hazel cukup lama tapi dia tidak sempat melihat mobilnya tadi, jadi dia bingung sekarang.


Pak Danu berjalan menghampiri, dia sangat penasaran. Jelas saja.


"Bu, ini?" tanyanya.


Kanaya sedang membuka pintu untuk Syifa di sebelahnya dan langsung menuntunnya setelah Syifa berhasil dia turunkan.


"Mobil saya mogok, Pak. Terus, kebetulan mas Hazel ada di belakang kami dan malah meminjamkan mobilnya. Sementara dia yang akan mengurus mobil saya," jawab Kanaya menjelaskan.


Pak Danu mengangguk, dia lebih senang dengan Hazel daripada Dirga, tapi mereka yang tidak seiman itulah yang menjadi masalah untuk pak Danu.


"Mas Hazel sangat baik ya, Bu. Sudah menemani Syifa dari pagi hingga sekarang, dan sekarang malah meminjamkan mobilnya sementara dia malah yang mengurus mobil ibu."


Sedikit pak Danu membangga-banggakan Hazel pada Kanaya, siapa tau Kanaya akan tersentuh hatinya nanti.


"Hem..., iya, Pak. Mas Hazel memang sangat baik orangnya." Kanaya tersenyum tanpa sadar. Dia telah mengakui kebaikan Hazel.


"Apa, orang itu bersama Syifa dari pagi?" Dirga begitu tidak suka mendengar akan hal itu. Bagaimana mungkin dia akan suka.


"Ya Allah, Nay. Kan ada aku, seandainya kamu sedang sibuk kapanpun kamu minta untuk aku menemani Syifa pasti aku bersedia," ucap Dirga.


"Kamu harus ingat, Nay. Dia itu tidak sama dengan kita, bagaimana kalau sampai Syifa terpengaruh padanya, atau mungkin di cuci otaknya."


Lagi-lagi Dirga berbicara seperti ini. Dia memburukkan orang lain sementara dia tidak mengaca bagaimana dirinya sendiri.


Hazel memang tidak sama dengan mereka, tapi kedewasaannya juga kepeduliannya membuat Kanaya lebih nyaman jika Syifa bersama Hazel, kalau Dirga? Dia kadang suka marah-marah tidak tentu, bagaimana kalau sewaktu-waktu dia kesal dan melakukan sesuatu pada Syifa.


Tidak mau suudzon sih, tapi kan hanya berjaga-jaga saja.


"Om Dirga jangan bilang begitu dong tentang Om Hazel, dia baik kok," Syifa yang bicara.


Anak kecil seperti Syifa jelas bisa membedakan mana yang baik dan juga tidak kan? Kalau Hazel tidak baik tidak mungkin dia akan nyaman dan betah berlama-lama padanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu pak Danu bersorak dalam hatinya, jelas dia sangat senang dengan kedewasaan Syifa yang kadang-kadang langsung muncul begitu saja.


"Iya sayang, tapi kita sama dia kan berbeda."


"Kata kakek Danu perbedaan bukanlah hal yang berbahaya Om, asalkan orang itu baik pada kita itu tidak masalah."


Begitu geram Dirga, hatinya begitu dongkol dengan mata yang melihat kearah pak Danu yang menunduk diam namun hatinya tengah bersorak.


'Sial, orang tua ini selalu saja mencuci otak Syifa,' batin Dirga begitu benci.


"Yuk Umi masuk. Syifa kan sudah janji ingin buatkan sesuatu pada om Hazel," Syifa menarik tangan Kanaya dengan begitu antusias.


Semakin jengkel hati Dirga mendengar kata Hazel, apalagi Syifa yang ingin membuat sesuatu untuknya.


"Syifa, om kesini bawa sesuatu loh. Mau lihat tidak?" Berusaha Dirga mengalihkan perhatian Syifa, siapa tau dengan mengatakan itu dan Syifa mau ikut bersamanya dia akan lupa dengan keinginannya.


"Nanti saja ya, Om. Syifa sekarang lagi sibuk. Ayo Umi."


"Maaf, Mas. Kami masuk dulu." Kanaya tak bisa menolak keinginan Syifa tentunya.


Pak Danu pun juga ikut masuk, dia akan membantu Syifa di dalam, entah apa yang ingin dia buat.


Pak Danu melirik sebentar kearah Dirga dan saat itu tatapan mereka saling bertemu. Begitu bengis Dirga melihat Pak Danu, dia sangat tidak menyukai laki-laki yang sudah tua itu sepertinya.


Dia langsung berhamburan pada keduanya, sepertinya ingin menceritakan semua yang dia jalani dalam hari ini.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Ih, oma sangat kangen. Oma kesel, Syifa nggak ngajak Oma jalan-jalan." Oma Uswah pura-pura merajuk.


"Maafin Syifa Oma. Oh iya, Oma, nanti oma Hazel akan datang kesini. Oma dan Opa mau kenalan kan? Dia sangat baik dan belikan banyak mainan untuk Syifa, dia juga terus menemani Syifa main di taman."


"Hem.. Apa lagi ya?" Syifa terlihat berpikir keras.


"Aha!" Wajahnya langsung mendekat ke telinga sang Oma, sepertinya akan membisikkan sesuatu di sana.


"Apa Oma tau, Umi pipinya merah saat bicara dengan Om Hazel. Hihihi!"


Oma Uswah membulatkan mata, tapi dengan wajah yang sumringah. "Benarkah?!"


Syifa mengangguk cepat. "Beneran, Oma. Syifa kan tidak pernah berbohong."


"Apa kamu suka?"


Syifa mengangguk antusias, "iya, Syifa sangat bahagia. Oh iya, Oma. Syifa ke dapur dulu ya, mau buatkan sesuatu untuk Om Hazel." Muach...


"Dah Oma, Opa..." Syifa langsung melenggang pergi.

__ADS_1


Opa dan yang lainnya tentu sangat bingung dengan apa yang dibisikin Syifa pada Oma nya. Apalagi melihat dia yang begitu antusias seperti itu.


Pak Danu tidak mengatakan apapun, dia langsung mengikuti Syifa ke dapur, sementara Kanaya dia menyalami keduanya terlebih dahulu.


"Nay, Abi ingin bicara."


Kanaya seketika duduk dan juga tentu sangat heran. "Bicara apa, Bi?"


"Begini, Nak. Abi sudah tua, Abi sangat kewalahan mengajar anak-anak di masjid. Bagaimana kalau kita cari pengajar baru saja yang lebih muda."


Ya, selama ini Opa Hasan yang meneruskan perjuangan anaknya di bidang itu. Dulunya Kanaya yang melakukannya, tapi karena kesibukan Kanaya jadi sering tidak datang dan akhirnya benar-benar berhenti mengajar.


Kanaya terdiam, mengajar anak-anak adalah mimpi dari mendiang suaminya. Sebelumnya dia meninggal juga terus mewanti-wanti agar dakwahnya itu terus berjalan.


Pembangunan rumah ngaji yang di lakukan dua tahun ini juga hampir jadi, kalau sampai ngajinya berhenti bagaimana dengan bangunan itu, tentu tidak akan ada gunanya lagi kan?


"Kesehatan Abi juga sering naik turun, tidak bisa selalu datang. Kalau hanya mengandalkan Abi, takut saja anak-anak jadi malas."


Kanaya semakin keras berpikir. Memang benar yang di katakan oleh Opa Hasan, dia tidak mungkin akan selalu datang kalau kesehatannya tengah menurun.


"Hem, tidak usah cari pengajar baru, Abi. Biar Naya yang teruskan."


"Tapi, Nay. Kamu sangat sibuk. Kamu harus mengurus ini itu, bagaimana kalau kamu kecapean. Umi tidak mau kamu sampai sakit, Nay." Oma Uswah berbicara.


"Tidak, Umi. Nay tidak mungkin sakit. Nay pasti bisa melakukan semua, Nay akan bagi waktu. Lagian ada mas Arifin yang bisa bantuin Nay di kantor."


Tekat Kanaya sudah sangat besar sepertinya untuk meneruskan perjuangan dari suaminya, lagian mengajar juga salah satu mimpinya dulu. Apalagi waktunya juga tidak begitu panjang hanya dari habis magrib sampai isya'.


"Baiklah, kalau kamu bersikeras. Nanti Umi juga pasti bantu kamu.".


"Apakah masih ada yang dibicarakan Abi?"


"Tidak, pergilah kalau mau istirahat."


Kanaya mengangguk, dia pamit undur diri dari sana. Namun kepergian Kanaya bersamaan dengan Dirga yang masuk, ternyata dia belum juga pulang.


Kanaya hanya melirik sebentar sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu, tapi tetap saja tidak menyapa.


Kanaya begitu buru-buru, dia harus mulai menyiapkan segalanya mulai sekarang. Bertambah satu lagi tanggung jawabnya dan itu juga sama besarnya dengan tanggung jawab seperti yang lainnya.


Kanaya tidak bisa mengabaikan mimpi suaminya yang itu yang sebenarnya juga adalah mimpinya. Mimpi yang sempat tertunda dan sekarang harus di tekuni dengan benar supaya bisa tercapai dengan indah.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2