Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Mood yang hilang


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Rasanya begitu canggung ketika harus mengajar Hazel mengaji untuk yang pertama kalinya. Siapapun memang bisa belajar dengannya tetapi Kanaya belum pernah belajar orang dewasa seperti Hazel sekarang.


Memang tidak hanya mereka berdua yang ada di sana karena begitu banyak anak-anak juga masih ada Bu Patmi yang menemani dan memastikan Hazel belajar dengan baik.


Memang masih terlihat sangat susah bagi Hazel untuk bisa belajar hal yang baru yang belum pernah dia pelajari sebelumnya, tetapi dia terlihat begitu serius untuk bisa belajar.


Sesekali wajah Hazel terangkat, memandangi Kanaya yang menjelaskan apa yang harus dia pelajari dan bagaimana caranya. Bukan hanya berniat untuk belajar saja tetapi Hazel juga ingin bisa selalu bersama dengan Kanaya.


Ini adalah salah satu cara untuk dia bisa mendapatkan perhatian dari Kanaya bahkan untuk dia bisa mendapatkan hati dan cintanya. Setiap kali Hazel memandang membuat Kanaya semakin ragu untuk mengajarkan apa yang diajarkan kepada anak-anak yang lain.


Ada rasa yang sangat berbeda ketika mengajar anak-anak kecil dan juga mengajar Hazel yang sudah dewasa. Bukan berarti Kanaya tidak ingin mengajarkannya, tetapi kenapa harus dia dan bukan orang lain.


"Maaf, aku belum terbiasa, jadi akan sangat susah untukku. Aku harap kamu tidak akan menyerah untuk mengajarkanku sampai bisa." ucap Hazel.


Kanaya tersenyum kaku, bagaimana bisa ini akan berlangsung dalam waktu lama. Memang tidak masalah, tapi apa kata orang-orang nanti.


Seharusnya Hazel meminta orang laki-laki yang mengajarkannya, bukan dirinya yang seorang perempuan dan juga berstatus janda. Apalagi Hazel juga masih lajang, bagaimana kalau ada tanggapan miring untuk mereka berdua.


"Kenapa, sepertinya kamu tidak ikhlas? Apakah sebenarnya kamu terpaksa?"


Gelagat Kanaya terlihat jelas oleh Hazel, tentu dia akan berpikir seperti itu, tapi dia tak masalah, karena meski Kanaya menolak dia akan terus datang karena tadi sudah mendapatkan izin darinya


"Ti_ tidak. Saya tidak terpaksa kok." jawab Kanaya begitu gagu.


Tubuhnya bergetar, ada rasa gak tenang dengan kebersamaan mereka ini. Meski mereka tidak hanya berdua saja tapi rasanya dunia begitu sempit, menghimpit tubuh Kanaya hingga membuat dia terasa sesak.


"Ayo Om, om pasti bisa. Syifa saja langsung bisa saat umi yang mengajarkannya. Om pasti juga akan bisa."


Begitu antusias Syifa memberikan semangat pada Hazel membuat Hazel menjadi bangga dan juga semangat. Setidaknya dia sudah mendapatkan dukungan dari anaknya kan?


"Iya, ajarin Om ya." jawab Hazel yang sudah menoleh.

__ADS_1


"Ya kalau Syifa nggak bisa lah, Om. Yang bisa kan Umi. Besok datang lagi ya, Om."


"Siap," Hazel akan selalu bersedia untuk datang.


Dengan seperti itu bukankah dia akan mendapatkan berkali-kali kesempatan untuk bisa dekat dengan Kanaya maupun dengan Syifa.


Kembali Hazel serius dengan buku Iqra yang ada di tangannya, dia menunduk memperhatikan huruf demi huruf hijaiyah yang baru kali ini dia kenal.


Begitu juga dengan Kanaya yang ikut dengan tangan memegang penunjuk yang letakkan di atas satu persatu dari huruf hijaiyah tersebut.


"Mas," panggil Kanaya kepada Hazel yang malah serius memandangi wajah gurunya daripada huruf yang seharusnya dia pelajari.


Hazel hanya meringis begitu manis karena telah ketahuan memandangi wajah Kanaya dan bukannya memperhatikan huruf yang dijelaskan oleh Kanaya.


"Hehe, ternyata mengenali gurunya lebih mudah daripada mengenali huruf yang harus dipelajari," ucap Hazel yang membuat Kanaya membulatkan matanya.


"Mas," jika Hazel terus seperti ini lama-lama Kanaya akan kesal juga, bisa jadi dia akan malas untuk mengajari Hazel.


"Iya, maaf. Soalnya wajah gurunya lebih menarik daripada huruf yang susah dikenali," kembali Hazel berbicara dan membuat Kanaya hanya bisa menggeleng juga tangan yang mengelus dada.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Tangannya terus menggandeng tangan Kanaya, namun setelah dia melihat Oma juga Opanya dia langsung berlari dengan cepat.


"Assalamu'alaikum, Oma, Opa!" teriaknya. Kakinya begitu cepat ingin dia sampai dengan waktu yang singkat.


"Wa'alaikumsalam, eh, cucu ku sudah pulang." Oma Uswah begitu senang. Padahal dia terlihat begitu lelah karena sepertinya baru pulang, namun lelahnya terasa hilang setelah melihat Syifa.


Syifa langsung duduk di tengah-tengah mereka berdua. Dia sepertinya sudah siap untuk menceritakan semua yang dia alami hari ini.


"Assalamu'alaikum, Umi, Abi." Kanaya pun juga menyapa dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam, Nay. Maaf ya kami pulang terlambat jadi tidak bisa membantu kamu mengajar." Opa Hasan yang menjawab.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Abi. Semua berjalan lancar kok."


"Oma oma, sekarang Om Hazel juga ikutan ngaji loh. Dia sudah sholat seperti kita." Syifa mulai bercerita.


Opa Hasan juga Oma Uswah yang memang sudah tau keyakinan Hazel masih melongo mendengarkan. Mereka masih mencerna dan belum percaya begitu saja dengan apa yang bocah kecil itu katakan.


"Tadi Om Hazel belajar iqra satu bersama Umi. Umi hebat, Oma. Bisa mengajari Om Hazel." Ceritanya lagi.


"Benar itu, Nay?" tanya Opa memastikan.


Kanaya mengangguk tak semangat, moodnya terasa terkoyak gara-gara kelakuan Hazel yang kadang tak wajar sebagai murid pada gurunya.


"Iya, Abi. Alhamdulillah, mas Hazel menjadi mualaf sekarang, dan dia ikut belajar mengaji bersama kita."


Kedua orang tua itu saling pandang. Ada rasa bingung tapi juga ada rasa lain yaitu bahagia. Mereka tentu ikut senang dengan perubahan Hazel yang menjadi mualaf.


"Terus, kenapa kamu cemberut seperti itu, Nay. Bukankah seharusnya kamu bahagia?" Oma bertanya.


"Umi lagi kesal, Oma. Tadi Om Hazel gangguin Umi terus." Syifa kembali yang menjawab.


"Mengganggu, maksudnya?"


"Apa Oma mau tau, tadi itu Om Hazel...,"


"Syifa, sudah malam. Sekarang belajar atau istirahat." ucap Kanaya, sepertinya dia tidak ingin Syifa mengatakan semuanya pada kedua orang tua itu.


"Baik, Umi." Syifa menunduk tak semangat, dia juga langsung turun dari tengah-tengah keduanya dan berjalan menuju kamar dengan menunduk.


"Nay, jangan terlalu keras padanya."


"Maaf, Umi. Nay lelah," Kanaya juga ikut pergi, dia masih tidak ingin menceritakan semua yang terjadi. Hatinya masih tertutup begitu keras dan tak mudah untuk terbuka meski Hazel terus menggodanya.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2