Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Dia membutuhkan mu


__ADS_3

»»————><————««


Begitu bahagia Hazel saat ini. Kakinya terus mengayun langkah keluar dari kediaman Kanaya setelah mendapat apa yang dia ingin. Tujuannya sebentar lagi akan tercapai dan dia bisa membahagiakan Kanaya juga Syifa. Semoga saja tidak akan ada halangan lagi untuk kedepannya.


"Alhamdulillah, mama pasti sangat senang." gumamnya tak sabar untuk segera pulang. Segera memberikan kabar gembira itu pada Kristin yang ada di rumah menunggunya pulang.


Dengan motornya dia pulang, dengan terus tersenyum dan membayangkan kebahagiaan yang akan dia dapatkan sebentar lagi. Hidupnya akan sempurna dengan bersatunya dia dan Kanaya dalam ikatan yang suci, ikatan pernikahan.


Angin terus berhembus menyapanya, seolah mereka juga tau akan kebahagiaan Hazel yang begitu besar.


Hatinya terus berbunga-bunga, hingga menghadirkan rasa-rasa yang kian membesar. Itu adalah perasaan cinta untuk Kanaya.


"Akhirnya akhirnya," ucapnya lagi dengan begitu girang. Tak henti-hentinya dia tersenyum, dia sudah sangat tidak sabar.


Jika saja bisa, pastilah dia akan menikahi Kanaya saat ini juga, tapi tidak! Semuanya harus dengan jalan yang memang sudah menjadi semestinya. Semua pakai waktu tidak bisa langsung instan.


Sorot lampu dari mobil begitu jelas mengenai matanya, seharusnya mobil itu berjalan di arah sebelahnya tapi kenapa malah berbelok kearah Hazel, apakah sopirnya ngantuk? Ataukah sopirnya memang sengaja?


Tin tin!


Hazel terus membunyikan klakson untuk membuat mobil itu berhenti atau mungkin kembali pada jalurnya tapi kenapa malah semakin mempercepat laju mobilnya?


Tinnn!


Brak!!


"Akk!" Hazel terpental ke pinggir jalan dengan sangat keras, sementara motornya terseret mobil tersebut yang tetap melaju cepat. Hazel tak sadar lagi setelah itu, bahkan dia tidak tau bagaimana keadaannya apalagi sampai mana motornya sekarang.


»»————><————««


Di dalam kamar Kanaya sekarang. Berdiam diri dengan memikirkan dirinya yang tiba-tiba saja menerima lamaran dari Hazel.


Benarkah dia yang melakukan atau dia hanya bermimpi saja tadi? Tapi tidak mungkin itu hanya mimpi karena dia sadar sepenuhnya.


Menatap semua foto-foto kenangan dengan mendiang suaminya, benarkah dia harus melupakan segalanya? Benarkah dia harus mengubur semuanya dalam-dalam bersamaan dengan kepergiannya?


Kanaya memang terlihat ragu, tapi dia tidak sedih. Tidak seperti dulu saat menikah dengan mendiang Dirga yang terus menangis.


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk tetap setia padamu. Aku minta maaf," ucapnya.


Tangannya bergerak dan mengambil foto yang terdekat dan itu ada di atas nakas. Melihat dengan lekat wajah Dirga yang tersenyum seolah tersenyum kepadanya.


"Apakah kamu tersenyum di atas sana mas sekarang? Apakah kamu ridho aku menikah lagi?" ucapnya.


Semakin lekat Kanaya menatap, kenangan-kenangan dulu hadir lagi bahkan juga janji untuk setia pun juga kembali terngiang dalam kepalanya. Tapi, dia juga tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Syifa, dia butuh sosok seorang ayah.


Mungkin Kanaya bisa saja bertahan sendiri sampai tua, tapi bagaimana dengan Syifa, apakah dia benar-benar tidak akan memberikan kesempatan untuk bisa merasakan kasih sayang seorang ayah?

__ADS_1


Dia anak yang sama seperti yang lain, butuh kasih sayang kehangatan, dan perlindungan dari seorang ayah, dia sangat butuh. Kanaya tidak bisa egois terlalu lama meski dia sebenarnya tidak ingin.


"Maafkan aku, Mas. Maaf," kembali dia minta maaf. Dia tak kuasa untuk tetap bertahan.


Kanaya ambruk di atas ranjang dengan terus memeluk foto Dirga, membiarkan untuk kali ini dia terus memeluknya dan melepaskan kerinduan sebelum dia harus menjaga hati Hazel setelah menikah nanti.


Mungkin, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi saat dia sudah sah menjadi istri dari Hazel.


"Benarkah aku sudah ikhlas?" gumamnya. Matanya kian terpejam namun tidak tidur, dia hanya sebatas memejamkan matanya saja seolah ingin menenangkan diri.


Baru beberapa saat matanya terpejam terasa ada angin yang menyapa wajahnya, terasa begitu dingin tapi sangat menenangkan.


Kanaya membuka mata perlahan, dia sangat terkejut melihat laki-laki yang baru saja dia lihat hanya dari fotonya saja.


"Mas Dirga?!" mata Kanaya membulat, dia juga langsung duduk untuk meyakinkan apa yang telah dia lihat sekarang.


Kanaya begitu tidak percaya, bagaimana mungkin Dirga datang padanya, tidak mungkin itu nyata. Apakah Kanaya hanya berhalusinasi?


"Mas," tangannya terangkat, menyentuh pipi yang terlihat begitu pucat namun bercahaya. Dia tersenyum dengan sangat manis dan tangannya meraih tangan Kanaya yang sudah menempel pada permukaan wajahnya.


Dingin. Ya! Tangan Dirga terasa sangat dingin di tangan Kanaya.


Air mata jatuh pada Kanaya, kenapa harus seperti ini lagi. Kenapa harus bertemu lagi? Membuat Kanaya menjadi merasa bersalah karena telah menerima Hazel. Apakah Dirga marah makanya dia datang?


"Jangan menangis, tetaplah tersenyum dan berbahagialah." ucapnya.


"Lanjutkan hidupmu, dan tetaplah tersenyum. Aku tidak mau melihat kamu yang rapuh, aku ingin kamu dan Syifa bahagia." ucapnya lagi.


Kini beralih tangan Dirga yang mengusap air mata Kanaya yang terus terjun bebas, Kanaya memejamkan matanya, merasakan tangan dingin itu menyapa wajahnya yang basah akan air mata.


"Tersenyumlah, izinkan aku melihat senyummu," pintanya.


Kanaya tersenyum kecil, sangat kecil itupun terasa begitu susah. Bagaimana Kanaya bisa tersenyum di saat orang tercinta meminta dia berbahagia dengan laki-laki lain. Bagaimana bisa.


Meski bibirnya tersenyum namun air mata juga tidak berhenti. Kanaya begitu rapuh di saat seperti ini.


"Datangi dia, dia sangat membutuhkan mu." ucap Dirga, jelas saja membuat Kanaya bingung siapa yang harus di datangi malam-malam seperti sekarang ini.


"Apapun yang terjadi, tetaplah tersenyum dan bahagia. Tetaplah berjuang untuk kebahagiaan mu. Aku tau ini sangat berat, tapi inilah jalan mu." ucap Dirga lagi.


Kring...


Baru saja mereka serius dalam bicara ponsel Kanaya berbunyi, rasanya sangat enggan untuk menoleh untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Kanaya sangat takut kalau dia menoleh dan Dirga akan pergi.


"Apakah mas marah?" tanya Kanaya dan Dirga menggeleng. "Apakah mas memberikan izin?" Dirga tersenyum saja.


"Mas, kenapa tidak mas saja yang bersama ku?"

__ADS_1


"Tidak, Nay. Tidak. Jemputlah kebahagiaan mu. Kamu harus ikhlas, ikhlas." Hanya kata ikhlas yang selalu Dirga tekankan.


Kring...


"Pergilah, dia sangat membutuhkan mu." ucap Dirga. Semakin tak ingin Kanaya menoleh, dia masih ingin terus melihat Dirga, dia sangat merindukannya.


Kanaya menggeleng, dia menangis semakin menjadi hingga akhirnya Dirga langsung memeluknya. Kanaya ikut membalas dengan sangat erat hingga matanya kembali terpejam merasakan kerinduan yang kian terobati.


"Pergilah, dia sangat membutuhkan mu." kembali Dirga mengucapkan.


Kanaya semakin erat memeluk Dirga, tak mau melepaskan, dia tak mau kehilangan. Tak peduli apapun yang Dirga maksud, dia tetap memeluknya dengan erat.


Kring... Kring...


Kembali ponselnya berbunyi, dan kali ini benar-benar sangat mengganggu dan sangat berisik. Kanaya membuka matanya, kedua tangannya ada di atas seolah memeluk tapi tak ada siapapun di depannya yang mendapatkan pelukannya.


"Mas, mas!" Kanaya terus menoleh mencari namun ternyata Dirga sudah pergi, meninggalkan dirinya seperti yang sudah-sudah.


"Mass!" teriakan Kanaya tertahan bersamaan tangis yang begitu deras. Sadar kalau semua memang tidak akan bisa dia genggam lagi, dia sudah kehilangan Dirga sejak lama, dia tidak akan bisa memilikinya lagi. Tidak bisa.


Kring!


Kembali ponsel berbunyi dan kini perlahan Kanaya mengambilnya, dia membuka ponsel dan tertera nama Hazel di sana.


"Ma_ mas Hazel?" ucapnya bingung. Untuk apa Hazel malam-malam seperti ini menghubunginya, padahal dia kan juga baru beberapa jam pergi dari rumahnya.


"Assalamu'alaikum." sapanya.


"Wa'alaikumsalam.. Maaf, apakah ini dengan calon istri dari pemilik ponsel ini?"


Calon istri? Kanaya mengernyit tapi dia juga bingung karena yang menghubungi adalah seorang perempuan, itu juga bukan suaranya Kristin ibunya.


"I_ iya," Rasanya sangat berat untuk mengakui.


"Saya hanya ingin memberitahukan pada anda, bahwa calon suami anda sekarang ada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan," ucapnya dari seberang.


Bagai tersambar petir rasa hati Kanaya. Apakah ini yang Dirga maksud untuk dia mendatanginya?


Semakin deras air matanya sekarang. Kenapa harus seperti ini jalannya. Apakah Kanaya akan kembali kehilangan orang yang sayang padanya seperti yang sudah-sudah.


Dia selalu kehilangan orang yang dia sayang dan menyayanginya. Pertama kedua orang tuanya, kedua Yuan yang dia pikir akan menjadi pendamping hidupnya dan ternyata dia menjadi pendamping orang lain, lalu Dirga suaminya. Apakah dia akan kehilangan Hazel juga?


"Ujian apa ini Ya Allah," ucapnya di tengah isak tangis.


»»————><————««


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2