Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Panas hati


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Begitu bahagia Syifa setelah melihat mobil Uminya yang di kendarai oleh Hazel. Dari tadi dia terus menunggu di depan rumah dengan sang tidak sabar, bahkan dia juga terus meminta sang umi menghubungi Hazel untuk bertanya kenapa belum sampai juga, tapi Uminya tidak bisa karena dia juga tidak punya nomor Hazel.


Dia terus mengerucutkan bibir tadi sebelum Hazel datang, tapi setelah datang, dia langsung berlari menghampiri dengan sangat bahagia bahkan dia juga langsung berteriak.


"Om Hazel!" teriakan Syifa begitu lantang. Dia menyambut kedatangan Hazel dengan perasaan yang entah tak bisa di gambarkan oleh para orang dewasa yang melihatnya, terutama Pak Danu juga Kanaya sendiri.


Mendengar teriakan dari Syifa yang memanggil Hazel semua yang ada du dalam juga keluar, Opa Hasan, Oma Uswah dan tentunya Dirga yang seolah tak punya kerjaan karena terus berasa di sana dari tadi.


Semua tertegun melihat antusiasnya Syifa dalam menyambut Hazel, bahkan anak kecil itu juga langsung mengangkat kedua tangan dengan wajah mendongak karena minta gendong.


Tidak banyak komentar dengan senyum manisnya, Hazel langsung mengangkat tubuh kecil itu pada gendongnya. Terlihat sekali bahwa keduanya sangat bahagia tidak bisa di sangka kalau mereka hanya baru beberapa kali saja bertemu, itupun kadang tidak sengaja.


"Om, kok lama banget sih! Syifa pikir nggak jadi dateng?" Wajah Syifa terlihat merajuk di hadapan Hazel, tapi sungguh lucu di lihatnya.


"Maaf, Sayang. Kan mobilnya harus di benerin dulu," jawab Hazel, dia sudah mulai berjalan untuk memasuki pekarangan rumah.


Nampak semua orang menunggu di emperan begitu juga dengan Dirga yang memasang berdiri di samping Kanaya, seolah menjelaskan bahwa dia akan menjadi pendampingnya.


Tapi Hazel tidak mau ambil pusing akan hal itu, dia lebih suka bermain dengan Syifa daripada menanggapi Dirga yang begitu terobsesi ingin memiliki Kanaya.


"Sore," sapa Hazel. Semua tersenyum karena sapaan yang di ucapkan oleh Hazel kepada mereka semua. Mereka begitu ramah menyambut kedatangan Hazel.


Meski dalam keadaan menggendong Syifa namun Hazel tetap menyalami mereka kecuali Kanaya. Meskipun sangat kesal demi bisa mendapatkan perhatian yang baik dari Kanaya dan juga anggota keluarganya Dirga tetap menerima uluran tangan dari Hazel.


Wajahnya terlihat jelas bahwa dia sangat tidak menyukai akan kehadiran Hazel di tengah-tengah mereka semua, karena dengan seperti itu dia akan mengganggu usaha Dirga untuk mendekatkan diri kepada keluarga Kanaya.


Sementara Hazel tetap tidak menanggapi hal itu dengan pusing karena dia menanggapi sambutan Dirga dengan tersenyum.


"Mari masuk," ajak Opa Hasan. Tangannya terangkat dengan ibu jari yang mengarahkan Hazel untuk masuk ke dalam rumah mereka.


Hazel mengangguk, dengan begitu sopan dan penuh tata krama dia masuk, berjalan di belakang Opa Hasan dengan menggendong Syifa. Rupanya Syifa sangat nyaman berasa di sana.


"Silahkan duduk," ucap Opa Hasan. Tangannya kembali mengarahkan pada Hazel tapi kali ini ke arah kursi yang akan di duduki oleh Hazel bersamaan dia yang juga duduk.

__ADS_1


"Terima kasih, Om," jawab Hazel. Dia langsung duduk dan tentu sudah otomatis langsung memangku Syifa.


"Syifa sayang, turun dari pangkuan Om Hazel, dia pasti sangat lelah. Sini sama om Dirga." Dirga menawarkan diri, siapa tau aja berhasil membuat Syifa berpindah padanya.


Syifa menggeleng, dia menolak untuk berpindah.


"Tidak mau, Syifa kan juga mau suapi Om Hazel. Dari pagi dia terus bermain dengan Syifa tangannya pasti capek, iya kan Om?"


Dengan wajah yang sangat menggemaskan Syifa berbicara membuat semua orang terpaku menatapnya. Bukan hanya karena cara bicaranya saja yang membuat orang terpaku, melainkan apa yang doa katakan.


"Kakek, tolong ambilkan yang tadi ya." pintanya.


"Iya, Neng," jawab pak Danu dan langsung undur diri.


Kanaya yang duduk di samping Oma Uswah terus saja melihat anaknya itu, sebenarnya dia tak enak pada Hazel karena Syifa terus bergelayut manja padanya. Tapi mau bagaimana lagi, Syifa pasti tidak akan mendengarkannya kalau lagi seperti ini.


Tak lama pak Danu keluar, membawa nampan yang berisi beberapa puding diatasnya. Barulah Syifa turun setelah melihatnya.


Begitu antusias Syifa menyambut pak Danu, mengambil satu cup puding buatannya sendiri. Bergegas dia kembali dan duduk lagi seperti semula, di pangkuan Hazel.


Semua seolah menjadi penonton, melihat drama yang mulai di mainkan oleh Syifa. Entah dapat keberanian darimana dia bisa melakukan semua ini. Bahkan dia tidak takut sama sekali bersama Hazel.


Netra Hazel memutar, dia merasa gugup juga mendapat perhatian lebih dari Syifa. Apalagi semua orang melihatnya seperti sekarang ini.


Dia mengangguk kecil dengan tersenyum, mulutnya mulai ternganga ketika Syifa mulai menyuapinya.


"Gimana, manis? Enak?"


"Sangat enak, tapi terlalu manis. Besok-besok kalau bikin lagi kurangin gulanya dikit saja biar Syifa kalau makan nggak akan sakit gigi atau batuk. Apalagi kalau kebanyakan,bisa diabetes."


Hazel seorang dokter, tentu dia akan sangat memperhatikan masalah kesehatan.


"Oke, Om. Tapi ini bagaimana, kan sudah terlanjur di bikin?"


"Yang sekarang ya makan saja, akk!" Kembali mulut Hazel menganga dan membuat Syifa kembali girang.

__ADS_1


Lagi-lagi Hazel melakukan sesuatu yang sangat dia jauhi dan juga tidak pernah dia lakukan. Dia memang sangat menjaga kesehatan, dia menjauhi kopi, makanan terlalu manis dan juga berkolesterol dan juga yang lainnya, entah apalagi yang akan dia lakukan hanya untuk membuat Kanaya ataupun Syifa bahagia.


"Enak banget ya, Om?"


Hazel mengangguk, "sangat. Ini sangat enak, apalagi yang bikin manis seperti ini apapun yang di bikin pasti akan tambah manis dan enak."


Semakin girang Syifa karena mendapatkan pujian dari Hazel. Seperti orang dewasa dia juga merasa malu ketika dalam posisi itu.


"Ah, Om bisa aja," ucapnya dengan pipinya yang merona malu, tapi dia usahakan dengan nada yang acuh.


Semakin panas hati Dirga. Dia sudah lama terus menemani Syifa tapi dia tidak pernah mendapatkan perlakuan spesial seperti Hazel sekarang. Bahkan dengan adanya Hazel seolah Syifa melupakannya dan sama sekali tidak menawarkan puding buatannya.


Memang tidak begitu berarti puding sederhana itu. Hanya puding berwarna hijau bercampur putih yang di tambah cream di atasnya juga berbagai buah, dia bisa membelinya. Tapi dia sangat menginginkannya bersamaan dengan perhatian Syifa padanya.


"Oh iya nak Hazel, terimakasih ya sudah menemani Syifa main tadi. Nak Hazel oasti benar-benar meluangkan waktu, apakah nak Hazel tidak bekerja?" ucap Opa.


"Kebetulan masuk malam, Om. Dan hari ini masuk sore, mungkin setelah dari sini langsung berangkat lagi." Hazel tersenyum.


Kanaya tertegun mendengarnya, dia bekerja semalaman, dan siang dia terus bermain dengan Syifa dan sore dia kerja lagi, apakah akan sampai pagi lagi? Terus istirahatnya kapan?


Kanaya menjadi tidak enak karena Hazel telah menyia-nyiakan waktunya yang seharusnya untuk istirahat dan malah bermain dengan Syifa. Sementara dia sendiri?


"Ya Allah, Nak. Apa nggak capek?"


"Capek nggak capek sih Om. Tapi mau bagaimana udah pengabdian."


"Pengabdian, emang nak Hazel kerja apa?"


"Opa, Om Hazel itu dokter. Syifa kalau besar juga pengen jadi dokter biar sama kayak Om Hazel. Bisa ngobatin semua orang, terutama bisa rawat umi kalau lagi sakit."


"Boleh, apapun mimpi Syifa pasti Umi akan dukung." Hazel melirik Kanaya tentunya juga dengan senyumnya yang begitu manis.


Kanaya tidak mengatakan apapun tapi dia hanya membalasnya dengan senyum tipisnya itupun hanya sekilas.


Panas, sungguh panas hati Dirga.

__ADS_1


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....


__ADS_2