
»»————><————««
Syifa begitu heboh ketika berada di dalam kamar Kanaya. Begitu semangat membersihkan juga menata kamar sang Umi yang sebentar lagi akan pulang.
"Umi pasti seneng kalau tau Syifa yang beresin," ucapnya. Terus tangannya bergerak liar, kakinya melangkah cepat kesana kemari ke tempat dimana matanya yang lebih dulu tertuju. Hingga akhirnya Syifa berhenti tepat di sebelah nakas.
Tangannya seketika meraih sebuah figura yang terdapat foto sang Abi yang tengah tersenyum, Syifa ikut tersenyum.
"Abi, Abi apa kabar di sana, Abi pasti bahagia kan?" tanyanya. Syifa beralih duduk di tepi ranjang, menatap lekat foto tersebut tanpa berkedip.
"Abi, Syifa sangat kangen sama Abi. Syifa juga sangat sayang banget sama Abi. Tapi maaf ya, Abi. Syifa pengen sekali bisa memiliki Abi seperti teman-teman yang lain hingga Syifa meminta Umi mencarikan Abi baru untuk Syifa."
"Tapi Abi tidak usah khawatir, Syifa akan tetap sayang kok sama Abi. Abi tidak marah kan?"
Seketika satu tangan Syifa menarik telinganya sendiri, "Syifa minta maaf ya, Abi. Abi tidak marah kan kalau Syifa punya Abi baru."
"Tapi Abi tidak perlu khawatir. Om Abi sangat baik kok, dia sangat sayang sama Syifa dan Umi dia juga sangat perhatian dan selalu menjaga kami dengan baik. Abi jangan marah ya."
Tanpa sepengetahuan Syifa pintu terbuka dan ternyata Kanaya yang masuk dengan di tuntun oleh Oma Uswah. Keduanya diam mendengarkan semua yang bocah kecil itu ucapkan.
"Om Abi baik banget, Abi. Syifa sangat menyukainya dan Umi juga. Tapi Abi jangan khawatir, Syifa dan Umi tidak akan melupakan Abi kok, sungguh!" Ucapnya lagi. Menggerakkan tangannya seperti sedang bercerita pada sang Abi.
Perlahan Kanaya mendekat, lalu duduk di sebelahnya dan Syifa baru sadar.
"Umi, Umi sudah pulang?" Wajahnya tampak begitu terkejut melihat kedatangan Kanaya.
Air mata menetes dari mata Kanaya Syifa yang melihat seketika menghapusnya dengan kelima jari-jarinya yang mungil.
"Kenapa Umi menangis. Apa Syifa melakukan kesalahan?" Kini wajahnya berubah sedih.
__ADS_1
Kanaya menggeleng, "tidak, Syifa tidak melakukan kesalahan. Umi hanya terlalu bahagia bisa melihat Syifa lagi." Kanaya tersenyum meski air mata masih terus menetes.
Sebenarnya bukan itu alasan yang sebenarnya yang membuat Kanaya menangis. Tapi melihat foto yang Syifa pegang dan diajak bicara. Itulah yang membuatnya merasa sedih.
Tanpa mengatakan apapun Syifa langsung memeluk Kanaya seolah memberikan kekuatan untuk sang Umi yang sepertinya benar-benar rapuh.
"Umi jangan menangis meski sedang bahagia. Syifa tidak suka melihat Umi menangis. Umi harus terus tersenyum." Ucapnya.
"Kalau Umi menangis nanti Abi marah sama Syifa karena Syifa tidak bisa menjaga Umi dengan baik." Imbuhnya lagi. Perlahan melepaskan pelukannya dan memperlihatkan foto yang dia pegang pada Kanaya.
"Lihatlah, Abi saja tersenyum, masak Umi menangis." Kembali Syifa menghapus air mata Kanaya.
Bukan hanya Kanaya yang menangis, bahkan Oma Uswah yang berdiri di belakangnya juga ikut menangis mendengar ucapan Syifa yang selalu saja menggetarkan hati semua orang.
"Hem," Kanaya mengangguk, menahan air mata supaya tak lagi keluar dan juga tersenyum.
"Nah begitu dong. Kalau tidak nanti Abi akan menjewer telinga Syifa karena tidak bisa membuat Umi tersenyum."
~``
Tidak hanya Opa Hasan dan juga Hazel yang ada di ruang tengah, tapi ada Arifin juga yang kebetulan datang karena pas jam istirahat.
Menikmati teh hangat yang asisten rumah buatkan juga menikmati cemilan yang menjadi temannya.
"Jadi, papa kamu sudah merestui hubungan kalian?" Opa Hasan memulai percakapan setelah tadi Hazel sudah menceritakan tentang kedatangan Davin ke rumah sakit kemarin.
"Iya, Om. Papa sudah memberikan restu pada kami." Jawab Hazel seraya menjauhkan cangkir dari bibirnya.
"Oleh karena itu, saya ingin membicarakan pernikahan kami kepada Om Hasan juga sekeluarga. Kalau dengan Naya, kami sudah sepakat untuk ikut saja saran dari Om dan Tante." Imbuhnya.
__ADS_1
"Kalau menurut saya sih, kalau semuanya sudah siap kenapa harus di tunda-tunda. Hal baik bukankah lebih baik jika di segerakan?" Arifin yang berbicara.
"Kalian yang akan menjalani mahligai rumah tangganya, kalau kalian berdua sudah siap kami hanya bisa mendukung saja, Nak." Jawab Opa Hasan.
Arifin mengangguk, sementara Hazel tersenyum simpul mendengar ucapannya.
"Kalau Om tinggal bagaimana baiknya. Kalau memang benar-benar sudah siap, bisa dilakukan secepatnya."
"Tapi, Nak. Saya tau Nak Hazel akan selalu membuat Kanaya bahagia, tapi dia tidak hanya sendiri, ada anak yang bersamanya. Saya hanya berpesan, tolong sayangi Syifa juga, jangan pernah patahkan hatinya, jaga hatinya sebagaimana Nak Hazel menjaga hati Kanaya." Opa Hasan sangat khawatir akan hal itu.
Ketakutan seorang kakek yang sangat wajar. Takut kalau cucunya akan mendapatkan perlakuan buruk atau ketidakadilan dari ayah tiri setelah menikah nanti atau bahkan setelah memiliki anak kandung.
"Om tidak perlu khawatir. Syifa bukan hanya anaknya Kanaya, tapi dia juga akan menjadi anak saya. Saya akan membahagiakan dan menjaganya sama seperti saya menjaga Kanaya. Tak akan pernah ada yang berubah meski apapun yang terjadi atau sampai kapanpun." Hazel begitu yakin.
Hazel sudah lebih dulu mendapatkan hati Syifa daripada Kanaya, lebih dulu memberikan kasih sayang pada anak itu daripada ibunya, bagaimana mungkin dia akan mengabaikan semua itu.
"Saya pegang kata-kata kamu Nak." Opa Hasan begitu menaruh harapan pada Hazel.
"Dan ya, setelah menikah Kanaya memang akan menjadi istri kamu. Dia berhak ikut kemanapun kamu pergi. Tapi, seandainya saya meminta kalian tetap tinggal di sini apakah kamu akan mengabulkannya?"
"Kami tidak punya siapapun lagi selain Kanaya dan Syifa." Kali ini Opa Hasan begitu sedih. Kanaya bukan lagi menantu bagi dirinya, tapi seorang putri. Jika Kanaya dan Syifa pergi pasti akan membuat dia dan sang istri kesepian.
Hazel terdiam sejenak.
"Saya akan bicarakan ini dengan Kanaya, Om. Kalau memang dia tetap mau tinggal aku tidak akan masalah. Dimanapun kami berada yang terpenting bisa membuat kita semuanya bahagia."
"Terima kasih," Opa Hasan begitu senang. Ternyata Hazel juga bukan laki-laki yang egois yang mementingkan dirinya sendiri.
»»————><————««
__ADS_1
Bersambung...