
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Syifa terlihat begitu senang ketika bisa diantar ke sekolah oleh Hazel. Dengan memakai helm berwarna ungu dia duduk di depan, tentu saja dia merasa sangat bahagia.
Ini adalah pertama kali dia bisa naik motor dengan posisi seperti itu, Hazel juga menjaga Syifa begitu baik.
"Om, ini sangat luar biasa," ucapnya girang. Tanpa menoleh dia bicara, dia terus fokus pada semua kendaraan yang ada di depannya. Melihat, bahkan akan mengomentari.
"Apakah Syifa suka?" Hazel juga akan suka jika Syifa menyukainya. Dia merasa begitu nyaman setiap kali bersama Syifa, dia juga merasa seolah dia memiliki kewajiban untuk membahagiakannya.
"Sangat suka, Om. Hem, besok antar Syifa lagi bisa kan om?" Syifa menoleh sedikit meski tak bisa sempurna melihat wajah Hazel yang tersenyum.
"Tentu, kalau Syifa suka Om pasti akan antar lagi."
"Syifa suka kok, Om." kembali Syifa fokus pada jalan raya. Dia biasa melihat suasana pagi seperti sekarang ini, tapi rasanya sangat berbeda ketika dia naik mobil dan juga motor. Lebih menyenangkan ketika naik motor ternyata.
"Siap, besok tunggu om lagi ya," ucap Hazel.
Syifa langsung mengangguk patuh, dia juga sangat semangat.
"Lihatlah, Om! itu ada bus besar! itu juga ada delman," Syifa mulai melihat-lihat, dia juga menunjukkan pada Hazel.
"Apakah kamu pernah naik delman?" tanya Hazel.
"Belum, Om." seketika Syifa menggeleng pelan, suaranya terdengar sangat lesu.
"Jangan sedih dong, besok hari minggu kita naik delman, oke? kalau bisa ajak Umi juga biar ramai."
"Beneran, Om?!"
"Beneran dong, masak om bohong." tentu tidak akan bohong kalau Hazel, apalagi kalau sampai Syifa berhasil mengajak Uminya juga, dia akan bisa mendekati dia juga kan?
ternyata lebih susah mendapatkan hati Uminya daripada anaknya. Anaknya sudah benar-benar nyaman dengan dirinya, tapi sang umi? dia masih sangat susah.
"Oke deh, besok hari minggu Syifa ajakin Umi juga untuk ikut naik delman. Kita bisa keliling kota jurga bisa jalan-jalan ke taman, bisa kan om?"
__ADS_1
"Tentu bisa, Sayang. Kita bisa naik delman sekalian kita jalan-jalan."
Keduanya nampak semakin senang dan juga semakin dekat dan juga akrab.
Bukan hanya bercerita saja tapi mereka juga menyanyi bersama, menambah keakraban mereka berdua dan juga hubungan mereka semakin dekat.
Sementara di belakang mereka ada mobil Kanaya, Kanaya bukannya tidak percaya kalau Hazel akan mengantarkannya sampai sekolah tapi Kan hanya ingin memastikan saja kalau mereka akan sampai dengan selamat.
Terus saja Kanaya melihat apa yang terjadi pada keduanya, mereka begitu dekat dan nyaman. Senyum yang keluar begitu jelas kebahagiaannya juga begitu tulus. Apakah benar seperti itu?
Kanaya bisa melihat ketulusan Hazel untuk Syifa tapi kenapa hatinya sendiri masih belum bisa menerimanya. Kanaya belum bisa membuka hati untuk siapapun termasuk Hazel, dia masih begitu setia pada mendiang suaminya.
"Syifa terlihat begitu bahagia, terima kasih Mas Hazel, kamu bisa memberikan apa yang Syifa butuhkan, tapi maaf...," ucapan Kanaya terhenti.
Dia tidak mau terlalu berharap juga untuk bisa mendapatkan hal yang lebih dari Hazel. Biarkan saja semua mengalir sebagaimana mestinya jika memang itu adalah sebuah takdir.
Kanaya bisa tenang, Hazel benar mengantarkan Syifa sampai ke sekolah setelah berputar-putar sebentar. Dengan begitu sabar dia menurunkan Syifa, melepaskan helmnya dan juga kini dia hendak menuntun Syifa untuk mengantarkan masuk.
"Sayang," Kanaya turun dari mobil. Panggilannya tentu membuat Syifa juga Hazel berhenti dan menoleh.
"Hem," Kanaya mengangguk pelan, dia juga tersenyum pada Syifa.
Hazel tau, Kanaya sangat khawatir pada Syifa, mungkin dia belum percaya sepenuhnya padanya yang benar-benar memiliki niat untuk mengantarkan Syifa.
"Maaf, bukan maksud saya...," ucapan Kanaya begitu pelan. Kanaya menundukkan pandangan dari Hazel karena itu memang yang harus dia lakukan.
"Tidak apa-apa, aku paham kekhawatiran mu. Semoga saja perlahan kamu bisa percaya padaku dan juga bisa menerimaku." ucap Hazel.
"Hem?" Kanaya mengangkat wajahnya, Menerima? apakah Hazel benar-benar sudah sangat yakin pada Kanaya?
"Syifa, ayo masuk." ajak salah satu teman Syifa.
"Iya," jawabnya.
"Umi, Om, Syifa masuk dulu ya, Assalamu'alaikum," pamit Syifa.
__ADS_1
Padahal niatnya Hazel akan mengantarkan sampai dalam tapi malah Syifa sudah keburu masuk dengan temannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Kanaya dan juga Hazel bersamaan.
Keduanya memandangi Syifa yang semakin jauh, tanpa sadar mereka berdua berdiri berdampingan benar-benar seperti kedua orang tua bagi Syifa.
Hazel menoleh, dia melihat Kanaya yang masih melihat Syifa. Hazel tersenyum, hatinya begitu bahagia bisa berdiri tepat di samping sang pujaan hati. Hatinya jelas saja menghadirkan getaran yang sangat asing namun terasa sangat membahagiakan.
"Seandainya selamanya bisa seperti ini ya, pasti akan sangat membahagiakan." celetuk Hazel. Tatapan matanya tak berpindah sama sekali dari wajah Kanaya. Hazel begitu terpana dengan wanita berhijab warna hijau itu.
Kanaya menoleh, menatap sejenak lalu kembali menundukkan pandangannya.
"Jangan terlalu berharap, Mas. Karena aku belum tentu akan bisa mewujudkan harapan itu." Kanaya hendak pergi.
"Belum, bukan berarti tidak kan? Ini hanya masalah waktu saja, aku yakin harapan itu akan terwujud." ucap Hazel yang membalik dengan cepat untuk melihat kepergian Kanaya, tapi Hazel tidak mengejarnya.
Kanaya tidak menoleh, tapi dia menghentikan langkah.
"Semoga Allah memberi kebahagiaan untukmu, Mas. Meski bukan denganku." ucap Kanaya, dia kembali berjalan dan masuk ke mobilnya untuk pergi.
"Tidak, Allah akan memberikanku kebahagiaan dan itu bersamamu. Kita akan bersama, Aku, kamu dan Syifa." Hazel begitu yakin. Tapi sayang, Kanaya sudah tidak bisa mendengar akan ucapan yang penuh dengan keyakinan.
Memandangi mobil yang semakin jauh. Tak sengaja Hazel melihat ada mobil lain yang berjalan di belakang mobil Kanaya, jelas itu bukan hanya kebetulan tapi dia memang membuntuti.
"Dia siapa? apakah tuan Dirga?" perasaannya menjadi tidak tenang, Hazel segera pergi ke motornya dan bergegas untuk mengejar mobil Kanaya.
Jika memang itu Dirga dia hanya ingin memastikan kalau Kanaya tidak akan apa-apa, Hazel tidak mau sampai terjadi sesuatu dan itu karena Dirga.
Mobil Kanaya terus berjalan, begitu juga mobil di belakangnya. Tak mau kalah, Hazel juga menjalankan motornya di belakang mobil itu, tak mau disadari oleh Kanaya ataupun pengendara mobil itu Hazel berjalan dengan sedikit jarak aman.
"Aku harus memastikan Kanaya baik-baik saja," gumam Hazel.
Motornya terus berjalan, sepertinya Hazel menjadi lupa akan pekerjaan sendiri. Seharusnya dia menuju ke rumah sakit sekarang, bukan malah membuntuti Kanaya.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
__ADS_1
Bersambung....