Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Ungkapan Hati Hazel


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Pergi dari kantor setelah kedatangan Ziana bukan berarti karena Kanaya terpengaruh akan semua perkataannya. Dia memang sudah akan keluar sebelum dia datang, dia ingin pergi ke makam mendiang suaminya.


Sebelum sampai di makam, Kanaya sempatkan diri lebih dulu membeli bunga, ada buka mawar yang akan dia tabur, juga dia beli yang berupa buket itupun juga mawar merah. Tapi sangat berbeda karena yang di tabur agak ke merah jambu sementara yang di buket merah pekat.


Tak pernah dia pikir apa yang di katakan oleh Ziana, dia sangat fokus dengan mengendarai mobilnya karena dia ingin cepat sampai.


Setelah hampir dua puluh menit perjalanan akhirnya Kanaya sudah menghentikan mobilnya di depan pemakaman umum, dia menepikannya laku dia baru turun.


Cukup sepi hari ini, tak seperti biasanya ketika Kanaya datang. Biasanya akan ada beberapa orang yang juga pergi untuk ziarah, tapi kali ini tidak ada, hanya ada dirinya saja dan juga beberapa petugas yang ada di jauh.


Tak lupa Kanaya mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk. Menyapa semua ahli kubur yang ada di sana.


Tak ada rasa takut, Kanaya langsung memasuki area pemakaman dan bergegas ke tempat dimana suaminya di makamkan.


Biasanya akan ada Syifa yang menemani, tapi tidak dengan sekarang. Kanaya hanya ingin sendiri saja.


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Kanaya. Perlahan Kanaya duduk, mencabut rumput liar sebelum dia menaburkan bunga yang dia beli.


Tak lama dia berhasil membersihkannya, dan setelah itu baru dia menaburkan bunga dan juga meletakkan buket bunganya di atas nisan.


Doa seketika Kanaya panjatkan, dia begitu khusuk hingga tidak melihat keadaan sekitar, juga yang jelas tidak melihat orang yang datang.

__ADS_1


Seorang laki-laki yang baru saja datang dan kini berdiri di belakangnya. Dia adalah Hazel, entah kenapa dia tiba-tiba datang ke makam Dirga Gantara, apakah ada kepentingan? Tidak mungkin kan dia datang karena Kanaya juga ada di sana.


Hazel tersenyum begitu manis, berdiri dengan tenang dengan kedua tangan yang ada di kedua saku celana. Terus mengamati Kanaya, hatinya begitu berbunga-bunga, dia begitu bahagia.


'Aku benar-benar telah menyukainya. Tuan Dirga, apakah aku boleh berjuang untuk meneruskan perjuangan anda untuk membahagiakan dia? Membahagiakan istri dan juga anakmu?' batin Hazel.


Hati Hazel sudah begitu terpaut akan wanita yang ada di hadapannya, hingga dia mengatakan dalam hati ingin berjuang untuk melanjutkan perjuangan Dirga. Apakah dia datang memang untuk itu? Bisa jadi sih.


'Tidak pernah aku merasakan jatuh cinta yang begitu besar seperti ini sebelumnya, aku tidak pernah. Tapi sekarang? Ya! Mungkin aku memang sudah gila. Aku gila karena jatuh cinta pada wanita yang berstatus janda beranak satu. Apalagi dia adalah seorang muslim, dan tidak sama dengan ku. Ya! Aku memang sudah gila. Aku gila karena cinta.' kembali Hazel hanya bisa membatin.


Kanaya sama sekali tidak tau dia masih terus sibuk dengan apa yang menjadi tujuannya datang.


Setelah doa selesai Kanaya ingin kembali pergi, dia masih ada kerjaan.


"Tuan, aku menerima tanggung jawab yang telah engkau berikan. Sekarang, bantu aku untuk mewujudkan tanggung jawab itu," ucap Hazel.


Kanaya menghentikan langkah, dia berhenti karena mendengar ucapan dari Hazel. Kanaya sangat terkejut, dia tidak melihat kedatangan Hazel, bagaimana bisa tiba-tiba ada di sana?


"Mas Hazel?" panggil Kanaya, sebenarnya masih tidak percaya.


Hazel menoleh, namun tangannya masih menyentuh baru nisan suami Kanaya itu. Hazel tersenyum, dia pikir Kanaya tidak akan tau karena dia memang menginginkan hal itu.


"Mas kenapa di sini?" Kanaya kembali mendekat.

__ADS_1


"Aku datang untuk mengatakan pada suamimu bahwa aku menerima tanggung jawab yang telah dia berikan."


"Maksudnya?"


"Di hadapan makam suamimu, aku mengatakan, bahwa aku akan melanjutkan perjuangannya, perjuangan untuk bisa membuat kamu dan Syifa bahagia. Aku akan menikahi_mu."


Mata Kanaya membulat, dia tentu tidak percaya dengan yang Hazel katakan. Tidak mungkin kan itu terjadi.


"Hem... maaf mas. Saya tidak suka bercanda. Dan ya! Saya harus pergi." Kanaya kembali membalik.


"Aku tidak bercanda, Nay. Aku akan membahagiakan mu! Aku janji!" suara Hazel sedikit berteriak.


Hati Kanaya belum bisa menerimanya, di samping karena perbedaan keyakinan, hati Kanaya juga belum bisa menerima siapapun, dia juga tidak mau kalau tuduhan dari Ziana tadi akan di anggap benar oleh semua orang.


Jika Hazel suka padanya itu atas kemauannya sendiri, bukan karena Kanaya yang merayunya dan juga menginginkannya.


"Kanaya! Aku suka padamu! Aku cinta padamu!" teriak Hazel begitu lantang, jelas Kanaya sangat mendengarnya tapi dia sangat enggan untuk berhenti. Kanaya terus berjalan menuju mobilnya berada.


Kanaya menggeleng kasar, dia tidak percaya dengan apa yang Hazel katakan.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2