
»»————><————««
Kebahagiaan kembali sempurna di hati Davin setelah istri dan anaknya kembali ke rumah. Bisa berkumpul bersama, makan bersama dan tentunya tinggal bersama. Makan malam yang biasanya sendiri saja kini sudah kembali lengkap dengan pulangnya keduanya.
Davin terus tersenyum, melihat keduanya bergantian di sela-sela menyuapkan nasi untuknya sendiri. Makannya juga lahap dan juga habis banyak, bagaimana tidak! Itu adalah makanan yang Kristin masak sendiri seperti biasa. Dan tentunya memasaknya dengan cinta.
"Pa, Papa kenapa?" tanya Kristin, menoleh karena menyadari di pandang oleh suaminya.
"Apakah makanannya tidak enak?" Kembali Kristin bertanya. Ditatap begitu lekat tentu menghadirkan pikiran-pikiran curiga.
Hazel yang mendengar tentu ikut menghentikan acara makannya dan melihat Davin. "Papa kenapa?" Hazel juga penasaran.
"Tidak apa-apa. Makanannya juga enak." jawab Davin. Kembali tersenyum dan menatap keduanya bergantian.
"Tapi kenapa Papa menatap mama seperti itu?" Kristin mengernyit.
Hazel tersenyum, "Papa tentu kangen sama mama lah. Tenang, Pa. Sekarang Papa tidak akan kedinginan lagi." gurau Hazel. Sebenarnya ragu dia mengatakan itu tapi nyatanya tetap keluar juga.
"Apa sih!" Kristin menunduk, pipinya terasa panas karena gurauan anaknya sendiri.
Hazel tak lagi bicara, dia kembali senyum dan juga kembali memakan nasinya.
Kristin melirik, menoleh ke arah suaminya yang juga tersenyum. Benar, dia sangat merindukan istrinya. Dia begitu menyesal dengan semua yang sudah dia perbuat.
Makan malam berlangsung dengan begitu nikmat dan juga hangat dengan kebersamaan yang sudah kembali lagi. Hingga akhirnya makan malam selesai.
"Hazel, kamu sudah memutuskan harinya untuk acara pertunangan kamu dan Kanaya?" tanya Davin.
Hazel yang hendak beranjak menjadi urung, dia kembali duduk dan memandang fokus pada Davin.
__ADS_1
"Sudah, Pa. Rencananya minggu ini akan mengadakan pertunangan, dan untuk pernikahan mungkin dua minggu lagi. Bagaimana? Papa setuju kan?"
"Asal kamu bahagia, kenapa Papa tidak setuju. Lakukanlah." kata Davin.
Hati Hazel begitu lega, akhirnya Davin benar-benar merestuinya, dia benar mengizinkan Hazel untuk menikah dengan Kanaya. Davin juga sudah berbesar hati menerima keputusan Hazel yang mengubah kepercayaannya.
"Alhamdulillah, terima kasih, Pa." Hazel tersenyum dan di balas dengan hal yang sama oleh Davin.
Melihat keduanya sudah kembali baik Kristin begitu bahagia. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari semua ini. Anak dan suaminya bisa kembali akur dan bisa duduk berhadapan dengan saling tersenyum.
'Terima kasih Ya Tuhan.' batin Kristin.
»»————>
Tak sabar Hazel untuk menceritakan semua yang Davin katakan tadi pas makan malam. Setelah sampai di kamar Hazel langsung mengambil ponsel, dia segera menghubungi Kanaya. Dia ingin menceritakannya.
"Aku yakin Kanaya pasti senang mendengarnya." gumam Hazel. Gegas dia mencari nomor Kanaya dan segera menghubunginya.
Kanaya nampak serius menghadap layar laptop. Jari-jari tangannya juga terus terus bergerak lincah di atas keyboard untuk mengetikkan sesuatu.
"Aku harus bisa menyelesaikan pekerjaan ini," gumamnya.
Baru saja tangannya meraih berkas, ponselnya berbunyi. Kanaya langsung mengambilnya.
"Mas Hazel?" ucapnya. Kanaya gegas mengangkat.
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumsalam, Nay. Lagi apa?" tanya Hazel dari seberang. "Kok belum tidur?"
__ADS_1
"Iya, lagi kerja, Mas. Ada apa, apa ada yang mau di bicarakan?"
"Apa aku mengganggu?"
"Tidak. Bicaralah, Mas." Ucapan Kanaya selalu saja membuat Hazel terasa nyaman.
Mampu membuat Hazel tersenyum dan hatinya begitu berbunga-bunga, membuat Hazel ingin bisa langsung datang dan bicara dihadapannya.
"Papa sudah setuju dengan semua rencana kita. Aku akan datang melamar mu dan akan segera menikahimu."
Jantung Kanaya berdetak tak menentu, mulai gugup, mulai resah dengan ucapan Hazel. Benarkah sebentar lagi dia akan menjadi istrinya Hazel?
"Nay, kamu dengar kan?" Diamnya Kanaya membuat Hazel berpikir kalau ponselnya sudah mati, tapi tidak! Kanaya kembali bicara.
"Iya, Mas. Saya mendengarnya."
"Bagaimana, kamu senang?"
"Hem," Kanaya berdehem sebagai jawaban. Dia memang begitu senang tapi dia juga jadi gelisah.
"Alhamdulillah. Aku hanya ingin bicara itu saja. Istirahatlah, Nay. Jangan sampai larut malam kerjanya."
"Iya, Mas. Ini sebentar lagi selesai."
"Ya sudah, selesaikan dengan cepat. Kalau sudah tidak kuat jangan di paksakan. Aku tutup ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," Telefon pun terputus, sebenarnya Hazel masih ingin bicara, tapi karena Kanaya banyak pekerjaan hingga membuat dia menutupnya karena tak mau mengganggu.
"Calon istriku memang luar biasa." puji Hazel sebelum akhirnya dia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan terlentang dan menatap langit-langit. "Sebentar lagi aku akan ada untukmu selalu, Nay. Aku tak akan biarkan kamu berjuang sendiri."
__ADS_1
»»————><————««
Bersambung..