Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Bimbang


__ADS_3

»»————><————««


Davin sudah begitu bahagia, dia pikir usahanya untuk memisahkan Kanaya dan juga Hazel sudah berhasil padahal kenyataannya Hazel tidak bisa di pisahkan.


Di rumahnya kini dia tengah bersantai, menikmati kopi yang di buatkan oleh asistennya. Berpikir bahwa anak dan istrinya pasti sebentar lagi akan kembali dan mereka bisa berkumpul lagi.


"Aku sudah tau, wanita itu tidak akan pantas dengan Hazel. Bagaimana bisa dia menyerah begitu saja, heh!" bibirnya menyungging setelah menyeruput kopi.


Semakin tenang duduknya, bersandar pada sofa dengan satu kaki menopang pada satunya. Dia terus tersenyum.


"Halo, Om," kedatangan Ziana yang langsung masuk membuat duduknya beralih posisi. Satu kakinya turun dan duduk dengan tegak.


"Halo juga, Zi," tentu kedatangan Ziana membuat dia senang karena memang dia yang mengundang.


Dengan begitu bahagia Ziana menghampiri, duduk di salah satu sofa di hadapan Davin.


"Bagaimana, Om." Ziana begitu tak sabar, ingin tau apa tujuan Davin mengundangnya.


Sudah begitu lama Ziana tidak datang karena hubungannya dengan Hazel memang renggang namun dia masih tetap mengejarnya meski datang di tempat Hazel kerja.


"Begini, om sudah berusaha membantu kamu untuk memisahkan Hazel dengan perempuan itu, sekarang hanya tinggal usaha kamu untuk membuat Hazel kembali. Om yakin kamu pasti bisa."


Davin begitu yakin kalau Ziana akan berhasil membuat Hazel kembali. Bukan hanya karena dia lebih setuju jika Hazel sama Ziana saja tapi Davin ingin Hazel juga bisa kembali pada keyakinan awal setelah menikah dengan Ziana.


"Saya janji akan membuat Mas Hazel kembali pada saya, Om. Saya yakin akan berhasil." Jawabnya penuh keyakinan.


"Aku suka semangatmu." ucap Davin membuat Ziana bahagia.

__ADS_1


»»————>*


Kanaya terus diam meski sudah begitu lama jalan bersama dengan Hazel dan juga Syifa. Hanya menjadi pendengar saja keduanya yang terus bicara dan bercanda dengan begitu akrab.


Hatinya masih begitu bergemuruh antara ragu untuk melanjutkan hubungan dengan Hazel tapi juga ragu untuk mengakhiri. Dia sangat berharap untuk bisa menjadikan Hazel pengganti Dirga dalam hidupnya, menjadikannya sebagai abi untuk Syifa tapi dia juga tidak tega dengan Davin yang terlihat begitu sedih saat memohon padanya.


'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?' batinnya begitu bingung. Keputusan apa yang harus dia ambil hingga dia terus diam dari tadi.


Hazel menoleh melihat Kanaya yang diam dengan tatapan kosong ke depan.


"Nay, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya.


"Hah! i-iya, aku baik-baik saja," jawaban Kanaya tergagap wajahnya juga terlihat bingung.


"Sudah, jangan pikirkan apa yang orang lain katakan tentang hubungan kita. Kita yang akan menjalaninya bukan mereka," Hazel sangat yakin kalau ada hal di terima oleh Kanaya, sebuah perkataan yang pasti sangat menekan.


"Hem, tidak," Kanaya tersenyum kecil. Berusaha menyembunyikan kegelisahan yang terus ada di dalam hatinya.


"Om, Syifa lelah," ucap Syifa yang ada di gandengan tangan Hazel.


"Ya sudah, sini om gendong," dengan tersenyum manis Hazel langsung berjongkok dan mengangkat tubuh Syifa dan setelah sampai Syifa seketika menyandarkan kepala pada pundak Hazel dan memeluk lehernya. Sepertinya Syifa benar-benar sudah lelah.


"Aku antar kalian pulang," ucap Hazel dan Kanaya mengangguk.


'Ya Allah, apa yang akan terjadi pada Syifa jika hubungan ini berakhir.' batin Kanaya.


'Ya Allah, apakah aku egois jika tetap mengharapkan Mas Hazel meski Om Davin telah melarangnya? apakah aku akan berdosa jika tetap mempertahankan hubungan ini dan membuat mereka semakin jauh?' imbuhnya lagi yang tak berani mengatakan secara lisan.

__ADS_1


"Nay, apa kamu masih keberatan jika kita pulang?" Hazel menoleh setelah sudah beberapa langkah karena tak ada pergerakan dari Kanaya. Ternyata benar, Kanaya masih diam namun sangat jelas kalau tengah memikirkan sesuatu.


"Ti-tidak," Kanaya langsung berjalan.


Keduanya berjalan berdampingan, begitu serasi seperti sebuah keluarga bahagia. Apalagi Syifa yang ada di gendongan Hazel dan kini sudah tertidur.


»»————>*


"Om Davin sudah membantuku, aku harus lebih semangat lagi untuk mengejar Mas Hazel. Aku harus bisa berhasil membuat dia kembali di pelukan ku," gumam Ziana.


Terus dia menjalankan mobilnya, berniat untuk mendatangi Hazel di rumah sakit. Mendapatkan dukungan Davin membuat dia semakin semangat lagi, dia harus bisa berhasil.


"Tunggu aku, Mas. Aku akan datang untukmu," mobilnya melaju semakin cepat, dia begitu tak sabar untuk bertemu Hazel, laki-laki yang menjadi pujaan hatinya.


Hingga akhirnya mobilnya berhasil terparkir sempurna di depan rumah sakit, dia bergegas keluar, berlari masuk dan menuju ke tempat ruangan Hazel. Dia begitu yakin kalau Hazel ada di sana.


Namun ternyata tidak! senyumnya di hentikan oleh seorang perawat yang berpapasan di depan ruangan Hazel.


"Maaf, Dokter Hazel tidak ada di tempat. Anda bisa datang lagi nanti." ucapnya saat Ziana baru saja mau bertanya.


"Tidak ada di tempat, jam gini?" Ziana begitu tak percaya, bagaimana mungkin Hazel belum datang di saat jam kerja.


"Benar, Mbak. Dokter Hazel izin keluar dan ada dokter Rangga yang menggantikannya." jawabnya lalu bergegas pergi.


"Mas Hazel kemana? apakah dia masih mengejar perempuan itu?" gumam Ziana yang berasumsi sedemikian rupa.


"Sial."

__ADS_1


»»————><————««


Bersambung...


__ADS_2