
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Alhamdulillah, meski begitu banyak kesibukan akhirnya Kanaya bisa memulai lagi mengajar mengaji yang dulu menjadi mimpinya. Tak banyak yang berubah, semua terlihat masih sama. Hanya anak-anak saja yang sudah tumbuh dewasa dan juga bertambah anak-anak baru yang begitu menggemaskan.
Sekalian mengajar anak-anak kampung sekalian juga Kanaya mengajak Syifa, dengan seperti itu dia juga seperti meluangkan waktu untuk anaknya itu.
Syifa juga terlihat begitu bahagia, mendapatkan teman-teman baru meskipun dia yang paling kecil sekarang. Tapi, meski dia paling kecil semua terlihat menyayanginya, semua malah senang dengan kedatangan Syifa.
"Umi, Syifa ngaji juga?" tanyanya dengan begitu polos. Dia mengambil posisi duduk paling depan, tentunya bisa dengan mudah bicara dan juga di dengar oleh Kanaya yang ada di depannya.
"Iya dong. Sama seperti kakak-kakak semua Syifa kesini juga harus ngaji. Tidak boleh hanya main saja, Syifa ngerti?" Begitu lembut Kanaya berbicara.
Antara Syifa juga anak-anak yang lain tidak di bedakan sama sekali oleh Kanaya, dia tetap berbicara dengan lembut. Jangan sampai ada orang yang berkata kalau Kanaya hanya akan lembut jika dengan anaknya saja.
Di tempat itu sekarang posisi mereka sama, bukan Syifa bukan anak-anak didiknya, jika melakukan kesalahan tentu juga akan mendapatkan hukuman seperti biasanya.
"Yah! Syifa kan belum bisa, Umi."
"Maka dari itu, kalau belum bisa harus belajar. Ngajinya sama kok seperti ketika di rumah sama Umi."
Perlahan Kanaya memberikan pengertian hingga akhirnya Syifa paham dengan dia mengangguk antusias.
Kanaya tidak sendiri di sana kali ini ada Opa Hasan juga Oma Uswah yang menemani. Sesuai perkataan mereka, mereka tidak akan meninggalkan Kanaya sendiri mereka akan membantu sebisa mereka.
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh." Kanaya mulai membuka. Padahal Kanaya sudah meminta Opa Hasan yang membuka, tapi Opa Hasan malah menyerahkan pada Kanaya.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh!" Jawab semua serentak.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Doa di lanjutkan setelah menjawab salam, dan semuanya tampak duduk rapi di tempat masing-masing, menyilang tangan mereka di atas meja panjang dengan wajah yang menunduk.
Gemetar hati Kanaya, dia bisa merasakan lagi bagaimana bahagianya berada di antara anak-anak. Mereka yang memberikan kekuatan untuk Kanaya dulu, dan sekarang juga akan seperti itu.
TPA As-Syifa. TPA yang di dirikan oleh mendiang suaminya. TPA yang akan selalu menjadi obat sedih di hatinya, memberikan kebahagiaan untuknya sama seperti anaknya yang juga di beri nama As-Syifa.
__ADS_1
Suara riuh terdengar sampai di jalan Kampung, setiap mobil ataupun sepeda motor yang melintas tentu akan mendengarnya. Begitu juga dengan seseorang yang dengan sengaja menghentikan mobilnya setelah melihat siapa yang telah menjadi pengajarnya.
Orang itu terus mengawasi aktivitas di sana, bagaimana anak-anak begitu menghormati guru mereka, dan begitu tertib dan tak ramai atau asyik sendiri dengan mainannya. Mereka terlihat tawaduk.
"Betapa bahagianya bisa berada di tengah anak-anak seperti itu. Apalagi semuanya begitu menghormati. Dia benar-benar perempuan luar biasa, di semua kesibukan mengurus segalanya dia masih menyempatkan diri untuk membagi ilmunya dengan anak-anak."
Orang itu hanya bisa mengagumi tanpa berniat turun. Mengawasi dari jauh tanpa ada niat untuk mendekat.
Kekaguman yang sangat besar sangat terlihat dengan jelas, seandainya ada orang yang melihat tentu mereka akan tau kalau orang itu begitu mengaguminya.
Tak lama, hanya beberapa saat saja dia menghentikan mobil. Setelah merasa puas dia kembali menjalankan mobil untuk segera pergi dari sana.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Begitu bahagia Ziana sekarang, dia terus saja tersenyum sendiri di dalam kamarnya. Bagaimana tidak! Dia akan bertunangan besok dengan pria yang sangat dia idam-idamkan.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, Mas."
Di hadapan cermin rias di hadapannya Ziana berbicara. Tangannya terangkat dan mengulur-ulur rambutnya sendiri. Senyumnya tak pernah pudar, dia sangat bahagia sepertinya.
Setelah pertunangan maka tak lama pasti akan diadakan pernikahan, semakin dekat Ziana hidup bersama dengan Hazel.
"Aku jadi tak sabar untuk bisa bersanding dengan kamu, Mas."
Tidak hanya mimpi, semua yang terjadi malam ini adalah nyata, tapi tidak tau apa yang akan terjadi besok. Tapi Ziana sangat yakin semua akan berjalan dengan baik dan lancar. Dia akan menjadi tunangan Hazel.
Tangan satunya bergerak, mengambil sisir hitam yang ada di hadapannya. Menyisir pelan rambutnya hingga begitu rapi. Dia begitu memuji kecantikannya sendiri saat ini, dia begitu bangga.
"Aku akan selalu cantik untuk kamu, Mas. Apalagi besok, aku akan tampil sangat cantik di hadapanmu."
Selesai dengan rambutnya Ziana beranjak, berjalan menuju kasur dan langsung merebahkan tubuhnya. Dia ingin tidur untuk bisa mempersingkat waktu, kalau dia terus terjaga tentu waktu akan terasa semakin lama.
Dengan senyum Ziana memejamkan mata. Menyambut mimpi yang tak nyata dan akan nyata di hari esok. Semoga saja.
"Selamat malam, Mas. Selamat istirahat, tunggu kita bertemu besok aku pasti akan membuat kamu begitu terpana dengan kecantikan ku." Ziana begitu percaya diri.
__ADS_1
Dia mengatakan dengan mata yang sudah terpejam, dia sudah tidak sabar untuk bisa tidur dan cepat sampai di hari yang sangat membahagiakan besok.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Pertunangan yang hanya tinggal besok tapi Hazel malah sengaja tidak pulang ke rumah utama, jangankan rumah utama, rumahnya sendiri saja dia juga tidak.
Hazel sangat tau, kalau kedua orang tuanya pasti akan mencarinya ke rumah kalau dia tidak datang, itu sebabnya dia malah menginap di hotel setelah dari tempat Omanya.
Dia sangat ingin menginap di tempat Omanya tapi dia juga tau kalau kedua orang tuanya pasti akan menghubungi juga.
Sengaja di dalam hotel Hazel juga mematikan ponsel, dia benar-benar ingin menghilang dalam sekejap dari kedua orang tuanya, dia tidak ingin pertunangan itu berlangsung.
Biar saja orang berkata apa, kalau tidak suka ya tidak suka. Cinta tidak bisa di paksa, begitulah pendirian yang terus saja dia pegang.
Dengan kasar Hazel menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk di kamar salah satu hotel mewah itu. Rasanya sangat melelahkan.
Mengingat semua pekerjaannya saja dia sangat lelah dan di tambah dengan paksakan kedua orang tuanya, terutama ayahnya yang begitu bersikeras.
Hazel tidak akan pulang sepertinya.
"Astaga, apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padanya?" ucapnya tiba-tiba. Dia kembali duduk dengan mata yang menatap dirinya dari pantulan cermin.
Di tatapnya cermin tersebut, bukan wajah tampan dirinya yang terlihat tapi malah seorang wanita. Wanita berhijab yang tadi dia lihat tengah mengajar anak-anak. Wanita dengan hijab berwarna merah.
"Benar-benar sudah gila." ucapnya.
Kembali Hazel menjatuhkan diri, dia langsung menutup wajah dengan bantal. Dia buka lagi dan melihat kaca lagi dan tetap saja yang dia lihat adalah perempuan itu.
Perempuan yang tersenyum kepadanya, seolah memanggilnya untuk datang.
"Akk, aku nggak waras!" Teriaknya.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung...
__ADS_1