Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Rasa Yang Terbalas


__ADS_3

»»——⍟——««


"Key, sebenarnya?" Begitu ragu Arifin untuk berbicara pada Keyla saat ini. Di salah satu restoran, duduk saling berhadapan bahkan tangan Arifin juga perlahan mulai bergerak dan menyentuh tangan Keyla dan berhasil.


Dengan gugup Keyla melihat tangannya yang sudah di genggam oleh Arifin, jantungnya seketika bekerja lebih keras dari biasanya, bahkan sendok yang ada di satu tangannya mini sudah terlepas dengan sendirinya.


"Pa-pak?" Keyla tergagap. Sebenarnya apa yang Arifin lakukan? Apa tujuannya menyentuh tangannya saat ini? Apa yang Arifin lakukan membuat Keyla semakin gusar, dia begitu gelisah karena perasaannya kini berseru dalam hatinya. Keyla takut khilaf dan tak akan mampu mengendalikan diri nantinya.


"Key, sebenarnya aku?" Masih Arifin ragu untuk mengatakan, dia takut kalau Keyla akan menolaknya mengingat dia dengan masa lalu yang begitu buruk.


Keyla menatap lekat Arifin meski dengan tatapan yang ragu dan juga gugup.


Arifin tertunduk, namun tangannya tetap berada di tangan Keyla, bahkan menggenggam begitu erat sekarang.


"A-ada apa, Pak?" Keyla memberanikan diri bertanya, dia juga sudah sangat penasaran. Sampai kapan dia akan menunggu dan bisa mendengar apa yang akan Arifin katakan padanya.


"A-aku? Sebenarnya aku suka padamu Key," aku Arifin.


Mata Keyla membulat juga langsung berkaca-kaca, benarkah apa yang dia dengar barusan? Benarkah perasaannya terbalas?


"Hey, kenapa kamu malah menangis, apakah aku telah melukaimu?" tanya Arifin, dia terlihat begitu bingung karena Keyla yang malah menangis. Apakah dia sedih karena merasa ungkapan cinta dari Arifin? Apakah dia marah?


Ragu Arifin menghapus air mata Keyla, begitu lembut tangannya menyapa wajah Keyla hingga membuat sang empu memejamkan mata.


"Kalau kamu memang tidak menerima tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa, apapun yang aku katakan hari ini anggap saja tidak pernah kamu dengar, biarkan hubungan kita tetap__,"


"Sstt__ tidak, jangan katakan itu lagi." Seketika Arifin terdiam ketika Keyla membungkamnya dengan jari telunjuknya yang kini berdiri dan menempel di depan bibirnya. Kedua mata saling bertemu.


"Se-sebenarnya aku, aku juga menyukai bapak," ucap Keyla dengan wajah menunduk dan jari telunjuknya perlahan jatuh dari bibir Arifin. Tapi belum juga berhasil jatuh satu tangan Arifin menangkapnya.


Cup!


Kembali Keyla mengangkat wajahnya saat punggung tangannya terasa hangat saat Arifin mengecupnya. Keduanya terdiam, dengan hati yang sama-sama bahagia karena cinta yang saling terbalas.


»»————>*


"Nay," Panggil Oma Uswah.


Kanaya yang hendak masuk ke dapur seketika berhenti berjalan lalu menoleh, melihat Oma Uswah yang ternyata duduk bersama Opa Hasan di ruang tengah. Kanaya pikir mereka sudah tidur tapi ternyata belum.

__ADS_1


"Ya," Kanaya beralih berjalan ke arah keduanya lalu duduk di salah satu sofa yang ada.


Keduanya terus saja menatap Kanaya dengan lekat namun terasa begitu menenangkan. Seperti orang tua yang menatap anak dengan penuh teduh dan pengayoman, sungguh, kasih sayang benar-benar Kanaya dapatkan dari keduanya meski mereka bukanlah orang tuanya.


"Ada apa, Umi, Abi?" Kanaya terlihat bingung. Tatapan keduanya juga terlihat begitu banyak akan pertanyaan. Sebenarnya apa yang mereka ingin tanyakan padanya.


"Begini, Nay. Abi hanya mau tanya, bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan nak Hazel?" Opa Hasan mulai berbicara.


"Iya, Nak. Kalian tidak ada masalah apa-apa kan? Akhir-akhir ini Umi lihat kalian sedikit jauh." Imbuh Oma Uswah.


Kanaya terdiam dalam beberapa saat. Kembali terpikirkan akan semua perkataan dari Davin, apakah dia harus menceritakan semuanya pada mereka berdua?


"Nak, kenapa?" tanya Oma Uswah yang melihat kegelisahan Kanaya. Tangannya sontak mengelus lengan Kanaya


"Umi, apakah aku berdosa jika melanjutkan hubungan ini?"


"Maksudnya?" heran Opa Hasan yang mendengar Kanaya tiba-tiba bicara demikian.


"Aku takut saja abi, kalau hubungan ini akan membuat aku berdosa karena sudah membuat seorang ayah dan anak bertengkar dan kini saling menjauh." Kanaya tertunduk.


"Apakah ada seseorang yang mengatakan itu?" Oma Uswah begitu penasaran. Dia bertanya pada Kanaya dan menoleh melihat Opa Hasan dalam sekejap.


"Abi dan Umi dukung apa keputusanmu saja, Nak. Kami tau kamu tau yang lebih baik untuk hidupmu karena kamu yang akan menjalaninya." ucap Opa Hasan.


"Apapun keputusan yang kamu ambil kami akan selalu dukung." Imbuhnya lagi.


"Terima kasih, Abi, Umi." Kanaya begitu bersyukur bisa memiliki keduanya. Mereka sudah benar-benar seperti orang tua baginya.


"Iya, sekarang istirahatlah sudah malam." Pinta Umi Uswah.


"Kanaya mau ambil minum dulu. Abi dan Umi juga istirahat," ucapnya, tersenyum sebentar lalu beranjak pergi.


Menatap Kanaya yang menjauh dalam sesaat sebelum mereka juga beranjak dan bergegas untuk ke kamar sendiri, tentunya juga untuk istirahat.


Tak lama keduanya pergi Kanaya juga kembali keluar, menyempatkan berhenti dan menatap pintu kamar mereka yang sudah tertutup rapat. Hembusan nafas panjang keluar dari hidungnya, perasaannya sangat lega.


"Terima kasih, Abi, Umi." Ucapnya.


»»————>**

__ADS_1


Penuh keyakinan Kanaya berangkat ke kantor, seperti biasanya dia akan mengantar Syifa dulu ke sekolah. Baru saja dia hendak masuk ke mobilnya sudah ada suara bunyi klakson mobil yang terpaksa menghentikan pergerakan tangannya. Kanaya menoleh.


"Mas Hazel?" Kanaya seketika terpaku.


"Om Hazel!" Sementara Syifa yang sudah masuk kembali keluar karena melihat Hazel. Syifa langsung berlari dan menyambutnya bahkan juga langsung memeluknya.


"Assalamu'alaikum Syifa sayangnya Om," ucap Hazel.


"Wa'alaikumsalam, Om." Begitu antusias Syifa menjawab. Dia begitu sumringah di atas gendongan Hazel saat ini yang sudah berjalan menuju ke arah Kanaya yang sudah kembali menutup pintu mobil.


"Assalamu'alaikum, Umi." sapa Hazel. Tersenyum di hadapan Kanaya dengan sapaannya yang bahkan memanggil Kanaya dengan panggilan Umi.


"Wa- wa'alaikumsalam," jawab Kanaya gugup. Jelas saja dia akan gugup apalagi karena panggilan dari Hazel barusan.


Hazel kembali tersenyum.


"Mas Hazel ada apa kesini?" tanya Kanaya.


"Mau jemput kalian, mau antar Syifa sekolah juga antar kamu kerja."


"Tidak usah, Mas. Mas akan repot nantinya, mas kan juga harus kerja."


"Tidak apa-apa, itung-itung belajar jadi abi yang yang baik."


Pipi Kanaya seketika memerah, dia menunduk menyembunyikan bagaimana wajahnya sekarang sekaligus senyum malu-malunya.


"Sudah siap berangkat?"


"Su-sudah," Kanaya tetap menunduk.


Kanaya berjalan lebih dulu menuju mobil Hazel dan tentunya langsung di giring oleh Hazel di belakang yang juga masih menggendong Syifa.


Semua pergerakan tentu gak lepas dari pandangan Opa Hasan dan juga Oma Uswah yang sengaja mengintip dari jendela. Mereka memang tidak ada niat untuk menyapa karena memang mau melihat mereka yang terlihat begitu serasi.


"Abi, semoga mereka bisa bahagia ya."


"Iya, Umi. Semoga Kanaya bisa mengambil keputusan yang tepat."


»»————><————««

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2