
»»————><————««
Hazel begitu bahagia, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu sebentar lagi akan segera terlaksana. Ditemani Kristin dan juga Davin juga beberapa keluarga mereka akan segera berangkat di kediaman Kanaya untuk melamar secara resmi. Mereka akan bertunangan.
Dengan beberapa perlengkapan yang dibawa semua begitu antusias, sementara untuk Hazel sendiri dia sudah sangat tidak sabar untuk segera berangkat dan melihat sang pujaan hatinya yang pasti sudah menunggu kedatangan mereka.
''Ma, cepatlah sedikit! Kita sudah terlambat!'' teriak Hazel.
Terus saja dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Belum seberapa telatnya, baru beberapa menit saja. Tapi itulah Hazel yang sudah sangat tak sabaran.
''Iya sayang, sebentar,'' jawab Kristin sembari berjalan menapaki satu persatu anak tangga dengan dandanan yang sudah sangat cantik dengan kebaya berwarna biru juga selendang.
''Ayo, Pa. Kita harus cepat, kalau tidak anak kita pasti akan merengek seperti dia yang masih TK.'' ledek Kristin.
Kristin menoleh ke belakang dan melihat suaminya yang juga baru turun, Davin tersenyum, mengangguk membenarkan apa yang istrinya itu katakan padanya.
''Mama benar. Bisa-bisa dia akan meraung di sini seperti anak kecil,'' jawab Davin. Pria itu terlihat begitu gagah dengan baju batik dan celananya yang hitam pekat, rambut di tata rapi ditambah degan minyak rambut.
Hazel tersenyum melihat keduanya. Kedua tangan melipat di depan dada dengan tatapan fokus pada keduanya.
''Kenapa kamu menatap kami seperti itu?'' tanya Kristin. Tatapannya terlihat aneh di matanya hingga membuat Kristin salah tingkah.
Bukan hanya Kristin saja yang merasa sangat aneh tapi juga Davin. Keduanya sama-sama mengernyit di depan Hazel yang malah terpaku.
''Ada apa sih?'' tanya Davin, dia begitu penasaran dengan anaknya itu.
''Sepertinya di sini bukan aku deh yang akan melakukan acara, tapi Mama dan Papa. Kalian berdua sangat serasi, satu tampan dan satu cantik.'' puji Hazel.
''Sudah deh ya, jangan ada drama diantara kita. Kita harus secepatnya pergi, kalau tidak! nanti mempelaimu akan di bawa pergi orang,'' ujar Davin.
''Atau, bagaimana kalau Papa saja yang membawa mempelaimu itu kabur. Lumayan dapat istri kedua,'' gurau Davin. Matanya berkedip genit pada Hazel.
Bukan Hazel yang marah dan langsung melotot matanya, tapi Kristin yang sontak menoleh dan mencubit perut suaminya.
''Satu saja nggak habis mau nambah satu lagi, yakin bisa habis? Heh! Awas saja kalau Papa berani melakukannya,'' Kristin merajuk, jelas saja.
Kini Hazel yang tertawa melihat kedua orang tuanya. Dia tau itu hanya gurauan saja.
''Bukan Mama yang akan habis, tapi Papa. Sudah lah Pa, terima nasib aja ya.'' Hazel semakin terkekeh dengan perkataannya sendiri.
''Sudah yuk berangkat. Kalau tidak nanti Papa akan habis di sini sebelum melihat menantu Papa,'' ucap Davin, tak mau berlama-lama dan dia langsung merangkul sang istri.
Kanaya begitu gelisah setelah Oma Uswah meninggalkannya sendiri di dalam kamar. Duduk di depan meja rias dan melihat pantulannya sendiri yang terlihat berbeda. Entah, padahal bukan riasan dari salon dan hanya merias sendiri tapi Kanaya terlihat sangat berbeda.
__ADS_1
Jantungnya terus berdetak tak menentu di dalam sana. Bibir dan hati secara bersamaan memuji Sang Maha Pencipta, berharap akan di beri kedamaian untuk hatinya tapi belum juga dia dapatkan.
Merasakan perasaan yang sudah sangat lama tak lagi dia rasakan hingga terasa begitu asing sekarang. Perasaan yang sangat membuat dia takut, gelisah tapi juga bahagia. Perasaan yang begitu campur aduk yang tak akan habis di ucapkan dengan kata-kata.
''Ya Allah, beri aku kekuatan. Ya Allah, semua yang akan terjadi adalah kehendak dari-Mu. Hamba mohon, jadikan hubungan ini sebagai ladang pahala untukku. Aku kembali menikah hanya karena restu-Mu, Ya Allah. Tuntun dan temani aku dalam setiap langkah,'' ucap Kanaya.
Tok tok tok!
''Nay, Hazel dan keluarganya sudah datang,'' panggil Oma Uswah dari balik pintu setelah mengetuk.
''Iya, Umi,'' jawab Kanaya.
~~~~\`\`
Hazel terpaku melihat Kanaya yang datang dengan di tuntun oleh Oma Uswah dan juga Wak Ami. Mengabaikan gadis kecil yang ada di atas pangkuannya sekarang, Syifa.
''Om Abi, Umi cantik kan? Kalau dengan Syifa cantik siapa?'' tanya Syifa yang sepertinya tidak di dengar oleh Hazel.
Hazel masih terus melihat Kanaya yang berjalan dengan perlahan di apit kedua wanita yang sangat berjasa bagi Kanaya. Wanita yang sangat dia sayang dan sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Malu-malu Kanaya melihat Hazel, tersenyum begitu kecil sembari menempatkan diri duduk di kursi yang sudah di siapkan untuk acara yang akan berlangsung sekarang.
__ADS_1
''Ih! Om Abi ya, tadi katanya Syifa yang paling cantik tapi sekarang setelah Umi datang bahkan tidak menoleh ke arah Syifa lagi, bahkan juga tidak menjawab pertanyaan Syifa,'' gerutu Syifa, bocah kecil itu seketika memberengut begitu kesal.
Semua yang mendengar seketika tersenyum, bahkan ada dari beberapa yang sampai tertawa.
Bukan hanya Kanaya yang merasa sangat malu, tapi juga Hazel yang terlalu terpana dengan calon istrinya yang begitu cantik bak bidadari.
'Subhanallah, cantik sekali wanita yang Allah ciptakan untukku,' batin Hazel.
''Syifa sayang, sini duduk sama Opa,'' panggil Davin.
Syifa menoleh ragu, dia belum begitu akrab dengan Davin hingga dia menoleh lebih dulu pada Hazel seolah meminta izin. Hazel mengangguk pelan sembari mengedipkan matanya hingga membuat Syifa yakin dan langsung berlari, berpindah di pangkuan Davin dengan begitu anteng.
Kanaya begitu senang melihat Davin yang akhirnya bisa menerima dirinya juga bisa menerima Syifa dengan begitu baik.
'Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah untuk semua nikmat yang telah Engkau berikan untuk kami.' batin Kanaya.
Pertunangan di mulai, semua fokus dengan acara hingga semua berlangsung cukup baik. Terakhir, kini Kanaya benar-benar telah melepaskan cincin dari mendiang Dirga Gantara dan tergantikan dengan cincin dari Hazel yang baru saja di pakaikan oleh Kristin.
Setetes demi setetes jatuh dari mata Kanaya juga dari Oma Uswah. Keduanya sama-sama merasa sedih, teringat kembali akan Dirga yang sekarang hanya tinggal nama dan jasa-jasa juga semua kebaikannya. Tentu juga dengan semua kenangan yang tak akan pernah Kanaya lupakan seumur hidupnya.
'Maafkan Nay, Mas. Nay tidak bisa menepati janji untuk tetap setia padamu, maaf,' batin Kanaya.
~~~\`\`~~~
Bersambung
__ADS_1