Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Pembicaraan dengan Arifin


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Nay," Langkah Kanaya terhenti karena panggilan dari Arifin. Baru saja dia ingin masuk ke ruang kerjanya tapi dia menjadi berhenti di depan pintu dan sudah langsung menoleh.


"Iya, ada apa mas?" jelas saja Kanaya sangat penasaran.


"Boleh mas bicara sebentar?" Arifin berhenti di hadapan Kanaya dan memandangi adik sepupunya itu dengan begitu lekat. Tentu hal itu membuat Kanaya sangat penasaran.


"Hem, boleh," Kanaya tidak akan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Arifin jika dia tidak mengizinkan Arifin untuk berbicara kepadanya langsung meminta Arifin untuk ikut masuk juga di ke dalam ruangannya dan mereka bisa bicara di sana.


Keduanya duduk saling berhadapan ketika sudah berada di dalam ruangan Kanaya. Ragu-ragu Arifin bertanya juga Kanaya yang sudah sangat tak sabar untuk mendengar apa yang ingin Arifin tanyakan atau bicarakan.


"Ada apa mas, apakah ada masalah?" ucap Kanaya membuat Arifin terkesiap.


"Tidak, hanya saja...," Arifin menghentikan perkataannya karena dia masih ragu untuk bertanya kepada Kanaya. Dari awal kedatangan Hazel ke tempat itu juga bagaimana jika dekat Kanaya dengannya membuat Arifin sangat penasaran.


Arifin tahu, tidak akan mudah bagi Kanaya untuk membuka hati untuk pria lain mengingat begitu besar cintanya kepada suaminya, tetapi bukankah hidup harus tetap berjalan? Apalagi mengingat orang yang dicintai oleh Kanaya tidak akan pernah bisa dia miliki lagi di dunia ini.


Secara kebutuhan eksternal karena ia bisa mencukupi segala kebutuhan dirinya dan juga Syifa, tetapi bagaimana dengan kebutuhan internal mereka yang tetap membutuhkan sandaran. Tidak mungkin mereka akan selalu berdua saja untuk selamanya.


"Nay, Mas rasa kamu dan Hazel...," ucap Arifin memulai. Mata Kanaya sudah langsung tajam meski Arifin belum menyelesaikan satu kalimat saja. Kanaya pasti sudah tau arah pembicaraan Arifin saat ini.


"Tidak, Mas. Naya tidak akan lagi menerima siapapun," tandas Kanaya.


"Tapi kenapa, Nay. Kamu membutuhkan seseorang yang bisa melindungi_mu dan juga bisa selalu menemani_mu. Dan mas pikir Hazel cocok."


"Tidak, Mas. Kanaya tidak membutuhkan siapapun, Naya bisa jaga diri sendiri," ucapan Kanaya sudah dengan nada yang mulia serius.


Wajah Kanaya juga terlihat sudah sangat tegang, dia tak akan mudah untuk menerima perkataan ini dari Arifin atau siapapun.


"Lalu, bagaimana dengan Syifa? Dia membutuhkan sosok ayah, dia sangat butuh, Nay?"


"Tidak, Mas! Syifa tidak butuh siapapun. Aku sudah cukup baginya," Kanaya tetap kekeuh.


"Itu menurutmu, Nay. Coba sekali-kali kamu tanya keinginan Syifa, lihat dia bukan hanya dari luarnya saja, tapi juga hati dan semua keinginannya. Mas yakin, Syifa sangat membutuhkan ayah, Nay."


Tidak akan mudah, dan selalu seperti itu. Arifin atau siapapun tidak akan mudah mengubah hati Kanaya, membuka pintu hatinya yang sudah lama tertutup. Tidak akan mudah meluluhkan hati yang sudah kadung keras dengan urusan cinta.


"Mas yakin, Dirga juga tidak ingin kamu seperti ini, Nay. Dia juga pasti menginginkan kamu untuk bisa bahagia lagi dengan pasangan lain. Mas yakin itu," ucapan Arifin sudah lebih reda dari sebelumnya.


Arifin tidak bisa berbicara dengan kasar jika mengenai Cinta untuk Kanaya. Dia sangat ingin Kanaya bahagia, dia sadar, dia banyak salah dan dia hanya ingin bisa menebus kesalahan dengan membatu Kanaya keluar dari keterpurukan yang berkepanjangan.


Kanaya memang tidak pernah mengatakan pada siapapun, tapi semua itu tetap bisa Arifin lihat dari sorot matanya.


"Tidak, Mas. Naya dan Mas Hazel itu tidak cocok seperti yang mas Arifin katakan. Karena apa? Karena Mas Hazel itu non muslim, dia tidak sepaham dengan kita."


"Kanaya juga tidak akan mengkhianati Mas Dirga. Hanya ada dia di hati Nay, Mas. Tidak akan ada siapapun lagi."

__ADS_1


"Tapi, Nay?"


"Cukup, Mas. Mas boleh keluar, Naya masih banyak pekerjaan," ucap Kanaya mengusir.


Nafas panjang dengan sangat berat keluar dari Arifin, dia sudah tau akan seperti ini tapi tidak salahnya kan jika dia berusaha?


Satu hal yang baru Arifin ketahui, Hazel seorang non muslim. Benarkah mereka tidak akan cocok? Tapi tidak di mata Arifin.


Hazel rela meminum minuman yang sangat dia jauhi karena Kanaya, bukankah ada kemungkinan jika dia bisa merubah semua demi Kanaya?


Belum ada cinta di hati Hazel, dan Arifin melihatnya dengan jelas. Tetapi, mereka berdua sudah nyaman bersama-sama, bukankah itu adalah pondasi utama sebelum tumbuhnya cinta di hati mereka berdua?


"Baiklah," Arifin pasrah, dia langsung keluar meninggalkan Kanaya di sana. Kecewa, jelas Arifin sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa melakukan apapun.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Lumayan juga pukulannya," Hazel melangkah masuk ke rumah sakit, tangannya sesekali menyentuh sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan dari Dirga tadi.


Memang masih nyeri, tapi tidak seperti tadi. Sudah lumayan membaik setelah di obati oleh Kanaya tadi, dan Hazel merasakan itu.


"Pantes saja anda begitu cinta mata dengan Naya, Tuan. Dia benar-benar luar biasa menurutku. Dia cantik, baik, juga sangat peduli. Pasti dia begitu peduli dengan anda dulu. Tapi sayang, anda malah merahasiakan segalanya."


Hazel menggeleng sembari melangkah menuju ruangannya. Dia benar-benar memuja Kanaya yang sangat luar biasa baginya, perempuan hebat yang bisa menjadi motivasi untuk semua orang.


"Mas Hazel!" teriak seseorang.


"Ada apa sih, Zi?" Hazel sangat malas melihat Ziana yang sudah berhenti di hadapannya.


Perempuan itu memang cantik, sangat cantik malah, tapi urusan hati tidak hanya bisa memandang rupa saja kan? Ada hatinya juga yang lebih di perhatikan.


"Mas Hazel darimana saja sih! Aku sudah nungguin tau, aku juga bawakan makan siang untuk Mas Hazel," ucap Ziana dengan sikap manjanya.


Dia tersenyum begitu manis, menampilkan wajah imutnya dengan kemanjaan yang sangat jelas.


"Maaf, aku sudah makan siang," Hazel ingin cepat pergi, tapi Ziana dengan enteng menarik tangannya dan membuat Hazel tetap bertahan.


"Kok gitu sih, Mas. Kan Ziana sudah capek-capek bawakan makan siang untuk Mas, bahkan Zi masak sendiri loh. Nih lihat, kuku-kuku cantik Zi sampai rusak begini kan?"


Ziana semakin genit saja saat berbicara, memperlihatkan kuku-kukunya yang terlihat baik-baik saja. Meski Ziana begitu antusias memperlihatkan tapi Hazel juga tidak melihatnya, dia seakan tidak sudi melihat apa yang ada pada Ziana.


"Please, di makan ya, Mas," Ziana menangkap lengan Hazel mengombang-ambingkan dengan manja dan juga memasang wajah yang memelas.


"Tidak, saya sudah makan siang," tegas Hazel seraya memperhatikan wajah Ziana yang sok cantik.


"Astaga, Mas! Ini kenapa bibirnya?" Ziana begitu panik, tangannya terangkat untuk menyentuh bibir Hazel namun dengan cepat Hazel menipisnya.


"Ih, Mas Hazel kok gitu sih! Zi kan hanya mau lihat saja, atau mungkin biar Zi obatin ya, ya," Ziana tak akan menyerah begitu saja. Di tolak sekali dia tidak akan menyerah bahkan berkali-kali pun dia akan tetap berusaha.

__ADS_1


"Lepas Zi, jangan pernah sentuh saya!" Mata Hazel melotot, dia sangat tidak suka dengan sifat Ziana.


Sifat yang begitu labil, kadang marah-marah, kadang manja juga kadang suka ngadu, benar-benar seperti anak kecil dan Hazel tidak suka itu.


"Apa sih, Mas! Zi kan hanya ingin belajar jadi istri yang baik."


"Lepas Zi, ini rumah sakit," Hazel sangat tak enak juga karena terus di lihat orang-orang yang lalu lalang di sana. Siapapun yang lewat pasti akan menoleh.


"Terus kenapa kalau ini rumah sakit, toh aku akan menjadi istri kamu. Lagian kalau kamu malu kenapa tidak aku diizinkan masuk keruangan Mas Hazel."


"Ti_dak! Lebih baik sekarang kamu pulang," dengan paksa Hazel membalikkan tubuh Ziana, dan Ziana pun berusaha untuk tidak berhasil namun akhirnya Hazel yang menang.


"Oke, Zi akan pulang kalau Mas Hazel menerima makanan yang aku bawa."


"Tidak, Zi. Aku sudah kenyang." tolak Hazel.


"Ya sudah, aku akan tetap di sini," kekeuh.


Geram rasa hati Hazel, jika yang dihadapannya itu adalah seorang laki-laki tentu sudah babak belur dia oleh Hazel, tapi sayang sungguh sayang.


"Bagaimana, mau terima atau mau Zi tetap di sini."


Hazel mengacak rambutnya frustasi, perempuan itu emang tidak bisa main-main.


"Baik, saya terima makanannya." Cepat Hazel merebut rantang yang ada di tangan Ziana, "sekarang kamu pulang."


Senang hati Ziana karena makanannya di terima oleh Hazel, hatinya begitu berbunga-bunga dan bibirnya terus tersenyum.


"Sudah, sekarang kamu pulang," pintanya.


"Baik calon suamiku," jawabnya dengan begitu girang.


Perlahan Ziana berjalan meninggalkan Hazel, tak masalah dia tidak bisa makan siang bersama dengan Hazel setidaknya makanannya di terima.


"Andre!" panggil Hazel pada salah satu perawat laki-laki.


Ziana kembali menoleh karena mendengar suara Hazel memanggil seseorang. Ziana terdiam di tempat melihat apa yang akan di lakukan oleh Hazel dengan laki-laki itu.


"Kamu pasti belum makan siang kan? Ini buat kamu." kata Hazel.


Mata Ziana seketika melotot, bagaimana tidak! Dia berjuang keras untuk membuatnya tapi sekarang makanan itu akan di nikmati oleh orang lain.


"Ihh!" Ziana tentu saja sangat geram. Bukan itu saja, tapi setelah memberikan makanan itu Hazel dengan sengaja menoleh ke arahnya dan terlihat begitu acuh tak peduli, jelas saja Ziana semakin dongkol hatinya.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2