
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Mata Dirga sesekali memandang tajam ke arah Kanaya yang di sampingnya ada Hazel. Meski mereka tidak selalu melihat dan berbicara tetapi hati Dirga terasa begitu panas. Ingin rasanya Dirga menghampiri Hazel dan memaksanya berdiri dan dirinya yang menggantikan duduk di sana, tapi itu tidak bisa dia lakukan karena dia takut Kanaya akan semakin menjauhinya.
Makanannya hanya menjadi pelampiasan akan kemarahannya yang tidak bisa dilampiaskan kepada Hazel, dia semakin membenci laki-laki itu yang Dia pikir akan menjadi saingan terberatnya untuk mendapatkan Kanaya.
Hatinya semakin panas melihat Kanaya menoleh ke arah Hazel dan melontarkan senyum apalagi menanggapi perkataannya, dan ketika itu juga sendok juga garpu yang dia cengkram begitu erat.
"Berani sekali dia mendekati Kanaya, Kanaya hanya milikku," ucapnya dengan lirih.
Tidak terlalu jauh tempat duduk mereka hingga Dirga bisa mendengar semua yang mereka bicarakan, apalagi Dirga memasang telinganya lebar-lebar supaya bisa mendengar semua yang dikatakan. Entah itu dari Arifin, Kanaya atau dari Hazel sendiri.
Arifin yang sudah mengenal Hazel merasa cocok ketika berbicara, terlihat keduanya begitu klop membuat senyum hingga tawa itu hadir di tengah-tengah mereka.
"Oh, jadi kamu seorang dokter? Hebat juga ya ternyata. Aku pikir kamu sama seperti Kanaya, pengusaha muda yang sukses," ucap Arifin memuji Hazel setelah tahu pekerjaan Hazel yang sesungguhnya.
Sebelum menjawab Hazel terlebih dahulu tersenyum merasa tersanjung karena pujian dari Arifin barusan, dia merasa tidak sehebat itu?
"Biasa saja, Mas. Mas dan juga Kanaya yang lebih hebat. Apalagi Kanaya, dia sangat hebat karena bisa menjalankan perusahaan yang begitu besar dengan sangat baik."
Hazel menoleh kearah Kanaya yang merasa malu mendapatkan sanjungan dari Hazel, dia tidak sehebat itu karena semua yang terjadi sekarang hanyalah sebatas meneruskan saja yang sudah dimulai oleh suaminya.
Kanaya tidak menjawab apapun yang Hazel katakan, dia hanya tersenyum dengan wajah menunduk tidak berani menoleh ke arah Hazel yang saat ini sedang menatapnya.
Kejadian itu tentunya tidak terlepas dari pandangan mata Dirga. Dirga semakin kesal dengan pemandangan itu, rasanya ingin sekali ikut bergabung dengan mereka tetapi tidak ada tempat lagi untuk dia bergabung.
'Pantes saja mas Dirga begitu mencintai mu, Nay. Kamu memang sangat luar biasa. Bukan hanya baik tapi kamu juga pekerja keras dan bisa di andalkan dalam hal apapun,' batin Hazel.
Hazel tersenyum, memandangi Kanaya dengan penuh kekaguman yang sangat besar. Siapa yang tidak akan memuja wanita sepertinya, dia bisa sukses di usianya yang masih muda.
Kanaya juga sangat mandiri, tidak melulu mengandalkan orang lain dalam segala urusannya. Meski dia sangat sibuk dalam semua pekerjaannya tapi dia juga bisa mengurus anak dan keluarga baik, itu adalah nilai plus untuknya.
'Hem, sepertinya Hazel ini orang baik dia juga sepertinya tertarik pada Kanaya. Jika ada jodoh, semoga saja Kanaya bisa bahagia dengannya. Tapi? bagaimana mungkin, Hazel non muslim tidak mungkin mereka akan bisa bersatu. Ya Allah, Engkau yang Maha membolak-balikan hati manusia, semoga kelak yang terjadi adalah kehendak dari-Mu.' batin Arifin.
__ADS_1
Begitu besar harapan Arifin untuk kebahagiaan Kanaya, Dia sangat tahu bagaimana keadaan adik sepupunya tersebut. Meski dia masih belum bisa melupakan suaminya tetapi hidupnya harus tetap berjalan.
Kanaya bisa bahagia dengan kehidupannya sekarang hanya bersama Syifa saja, tetapi apakah itu yang diinginkan oleh mandiang suaminya? Pastilah tidak! suaminya pasti menginginkan kebahagiaan Kanaya meski harus bersama orang lain.
"Sudah selesai, saya permisi dulu." Kanaya bergegas.
Bukan hanya karena sudah selesai makannya saja, tetapi Kanaya beranjak karena mendengar suara adzan dan dia harus segera melakukan kewajiban kepada Tuhannya seperti biasanya.
Mereka bertiga masih berada disana dengan memandangi kepergian Kanaya.
Sementara Dirga, dia merasa memiliki kesempatan untuk mengejar Kanaya. Dirga bergegas dan benar-benar mengejar Kanaya yang sudah berlalu pergi untuk menuju ke masjid terdekat.
Tidak sengaja Hazel melihat Dirga yang mengikuti Kanaya, Hazel pun juga bergegas untuk pergi.
"Saya juga sudah selesai, saya permisi karena harus kembali ke rumah sakit," pamit Hazel. Hazel mengatakan akan pergi ke rumah sakit padahal yang sebenarnya dia ingin mengetahui apa yang dilakukan Dirga kali ini karena mengikuti Kanaya.
Kayla semakin diam dan tentunya semakin gugup karena hanya tinggal mereka berdua saja di sana, makanan Kayla sama sekali belum habis begitu juga dengan makanan Arifin yang masih setengah di atas piringnya.
"Kamu kenapa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Arifin.
Barulah Kayla memberanikan diri mengangkat wajahnya meski begitu pelan.
"Sa_saya baik-baik saja," jawab Kayla lalu kembali menunduk dan mulai menyuapkan makanannya lagi untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Arifin memang tidak peka dengan perasaan Kayla padanya, dia percaya begitu saja apa yang dikatakan Kayla dengan dia mengangguk dan kembali menikmati makanannya sama seperti yang Kayla lakukan.
Namun lama-kelamaan diamnya Kayla membuat Arifin terasa terganggu, ini bukan kebiasaan Kayla karena biasanya dia begitu banyak bicara, tapi kenapa sekarang tidak! Bukankah itu sangat aneh?
"Apakah kamu sakit?" tanya Arifin lagi. Arifin benar-benar sangat penasaran sekarang.
"Hem, ti-tidak. Saya tidak sakit," jawab Kayla semakin tak karuan perasaannya.
"Sepertinya kamu sedang tidak baik, apakah kamu ada masalah?"
__ADS_1
"Ti_tidak, saya tidak dalam masalah. Saya juga baik-baik saja," berusaha Kayla bertingkah biasa-biasa saja, berusaha keras menghilangkan rasa yang sangat menjengkelkan.
Tapi, semakin Kayla berusaha untuk menghilangkan rasa itu tapi perasaan itu malah semakin besar membuat dirinya menjadi frustasi.
"Sa_saya sudah kenyang, saya harus kembali," pergi dari sana adalah jalan terbaik yang harus Kayla ambil. Dia tidak akan bisa terus menahan diri ketika berada di hadapan Arifin, bisa-bisa dia akan pusing sendiri nantinya.
Arifin mengernyit, Kayla begitu aneh hari ini. Dia seperti menjauhinya padahal Arifin merasa tidak memiliki kesalahan apapun. Lalu?
"Kayla, tunggu!" Arifin tidak tinggal diam dia ikut beranjak dan mengejar Kayla. Dia merasa tidak tenang karena Kayla seperti ini, apakah Arifin memiliki kesalahan yang tidak dia sadari?
Mendapat panggilan dari Arifin membuat Kayla melajukan langkahnya dan semakin cepat, tentu dia tidak ingin sampai Arifin berhasil mengejarnya.
Tetapi, secepat apapun langkah dari Kayla Arifin tetap mampu mengejarnya dan menghentikan langkahnya dengan cepat meraih pergelangan tangan Kayla setelah mereka berdua sampai di luar Cafe tersebut.
"Kay, apakah kamu punya masalah dengan ku?" Arifin mengernyit.
"Ti_tidak, mas Arifin tidak ada masalah apapun. Saya hanya harus kembali saja, maaf," Kayla hendak melepaskan tangannya tapi Arifin malah semakin erat memeganginya.
"bohong, kamu marah padaku? katakan, apa kesalahan ku," hati Arifin benar-benar tidak tenang saat ini.
"Sudah saya katakan, mas Arifin tidak ada salah, saya juga tidak marah pada mas. Lagian tidak ada alasan untuk saya marah."
Kayla berusaha semakin keras untuk melepaskan diri dari Arifin dan akhirnya usahanya berhasil.
"Maaf, saya masih banyak pekerjaan. Assalamu'alaikum," Kayla benar-benar berlalu.
Arifin terpaku melihat kepergian Kayla, dua masih sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa tidak membuat masalah dengan Kayla, tapi kenapa perempuan itu sepertinya marah?
"Ada apa dengannya, apakah aku membuat kesalahan?" Arifin benar-benar sangat bingung.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung...
__ADS_1