Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Saling canggung


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Perlahan Kanaya mengoles sudut bibir Hazel dengan kapas yang sudah di kasih obat, sangat pelan karena Hazel terlihat meringis karena menahan sakit.


Bukan itu saja tetapi Kanaya juga sangat ragu untuk melakukan meski akhirnya tetap dia lakukan. Sebenarnya tidak pantas menurut Kanaya untuk melakukan hal itu, tetapi dia hanya ingin bertanggung jawab saja apa yang telah terjadi kepada hasil yang tidak secara langsung adalah karena kesalahannya.


Jika Hazel tidak menolongnya maka dia tidak akan mengalami hal ini, Bukankah dia memang seharusnya bertanggung jawab?


Kanaya tidak berani melihat ke arah mata Hazel yang terus melihatnya, Kanaya hanya fokus pada titik yang akan dioleskan obat saja. Setelah selesai cepat-cepat Kanaya menjauhkan tangannya dari Hazel karena tidak ingin ada yang melihatnya.


Ekhem...


Meskipun Kanaya berusaha untuk menyembunyikan apa yang sudah dia lakukan kepada Hazel tapi tetap tidak dapat dihindari dari pandangan mata Arifin yang sudah datang dari tadi.


Kanaya sama sekali tidak melihat kedatangan Arifin karena dia begitu fokus dengan pekerjaannya kedatangan Arifin membuat Kanaya menjadi gugup, sementara untuk Hazel dia merasa sedikit canggung namun dia usahakan untuk bersikap biasa saja.


"Mas," Kanaya begitu terkejut melihat Arifin, sementara Arifin sendiri sudah terus berjalan dan mendekati mereka berdua dan akhirnya berhenti juga duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


Arifin tersenyum dan terus melihat bagaimana wajah panik adik sepupunya tersebut. Ini adalah pertama kalinya bagi Arifin melihat tingkah Kanaya yang seperti ini, bahkan beberapa kali dia ketahuan dekat dengan Dirga namun tidak membuat Kanaya panik seperti saat ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Nay?" tanya Arifin.


"Hem..., i_itu...?" Kanaya benar-benar gugup.


"Tidak apa-apa, Mas. Hanya masalah kecil saja," Hazel yang berbicara, karena melihat Kanaya begitu gugup membuat Hazel yang memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Arifin.


Apalagi melihat Kanaya yang terus saja menggeser duduknya untuk menjauh dari dirinya, itu sangat menjelaskan betapa gugupnya Kanaya saat kedatangan Arifin di tempat itu.


"Masalah kecil? kalau hanya masalah kecil kamu tidak akan sampai seperti ini, jelaskan sebenarnya apa yang terjadi."


Arifin tidak mungkin percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Hazel, karena jika masalah hanya sepele saja tidak mungkin sampai membuat Hazel terluka juga membuat Kanaya terlihat begitu bersalah dengan apa yang telah terjadi kepada Hazel.


"Benar, Mas. Tidak apa-apa," Hazel tetap berusaha untuk meyakinkan Arifin.


"Oh," Arifin mengangguk pelan supaya terlihat dia percaya dengan apa yang di katakan oleh Hazel meski didalam hatinya sama sekali tidak percaya.


Disaat masih dalam suasana canggung Kayla masuk dengan membawa tiga cangkir.


"Te_terima kasih, Kay," ucap Kanaya untuk mengalihkan rasa gugupnya.


"Iya Bu, sama-sama," dengan perlahan Kayla mengatakan cangkir satu persatu di depan mereka bertiga, dan setelah itu dia hendak keluar lagi karena di sana juga sudah ada Arifin jadi tidak perlu ada dirinya bukan?

__ADS_1


Baru saja beberapa langkah untuk keluar langkah Kayla dihentikan oleh Arifin yang malah memintanya untuk duduk di sebelahnya. Kayla kembali parno.


"Kay, duduk sini," Arifin sendiri tidak sadar bahwa dia sudah meminta Kayla untuk duduk di sebelahnya. Kata itu seperti tiba-tiba keluar dari mulutnya dan berhasil menghentikan langkah Kayla.


"Sa_saya...," Kayla menjawab dengan gugup itu pun juga dengan menoleh ke arah Arifin. Melihat wajah Arifin membuat Kayla tidak berani untuk menolak dan dia akhirnya menurut dan berjalan hingga berhenti di samping tempat duduk Arifin dan duduk di sana.


Karena suasana semakin canggung di antara mereka semua membuat hasil berpikir untuk pergi saja dari sana, apalagi apa yang ingin dilakukan oleh Kanaya sudah sudah terjadi.


"Hem... Mas, saya pamit. Jam istirahat sudah hampir habis saya harus segera kembali ke rumah sakit," pamit Hazel.


"Hem..., apa kami mengganggu? Kok setelah kami datang malah tergesa-gesa untuk pergi?" gurau Arifin namun tidak dengan tersenyum sama sekali, dia tetap dengan wajah datarnya.


"Bukan-bukan! Ini benar-benar karena jam istirahat sudah habis," Hazel menoleh kearah Kanaya ketika menjawab, dan ternyata Kanaya juga terlihat begitu terkejut karena perkataan Arifin barusan.


Kanaya sangat tak percaya Arifin bisa mengatakan hal itu, Bukankah dia sangat tahu bagaimana Kanaya saat ini yang tidak pernah ingin dekat dengan laki-laki maupun. Tetapi kenapa sekarang Arifin terlihat begitu sengaja supaya Kanaya dan Hazel semakin dekat?


"Baiklah. Oh iya, nanti kalau lukanya belum sembuh datang saja kesini, Kanaya pasti akan bertanggung jawab," ucap Arifin lagi.


Kanaya membulatkan mata, sementara Hazel tersenyum simpul dengan melihatnya.


Melihat hal itu membuat Arifin menahan terus senyum dan tidak dia perlihatkan sama sekali pada Kanaya dan juga Hazel.


"Iya kan Nay?" Arifin semakin membuat Kanaya menjadi salah tingkah sendiri akibat perkataan yang selalu keluar dari Arifin yang selalu saja menyudutkannya.


Hal ini membuat Kanaya menjadi sangat kesal kepada Dirga, karena perbuatan dari Dirga membuat Kanaya harus dekat dengan laki-laki yaitu Hazel.


"Kalau begitu saya permisi," Hazel benar-benar beranjak.


"Jangan sungkan untuk main kesini ketika istirahat." kembali Arifin berbicara, seakan membuka celah untuk Hazel selalu datang.


"Pasti," Hazel pun menanggapi dengan senang. Ada rasa senang ketika dirinya benar-benar si perbolehkan untuk datang. Meski entah akan datang atau tidak sih.


"Nay, antar Hazel lah. Kan kamu yang ngajak kesini kan?" Arifin benar-benar ingin membuat mereka berdua dekat sepertinya.


"Ta_tapi Mas?..., iya," akhirnya Kanaya setuju meski pas awal ingin menolak apa yang menjadi keinginan Arifin.


"Eh, sebentar! Kamu tidak boleh pergi sebelum menghabiskan minum mu," cegah Arifin. Baru saja Hazel dan Kanaya ingin beranjak.


"Baiklah," Hazel kembali duduk dan mulai menenggak kopi yang Kayla buatkan.


Uhuk uhuk...

__ADS_1


Semua terlihat terkejut ketika Hazel tiba-tiba batuk saat minum kopi, dengan kilat Kanaya mengambil tisu dan memberikannya pada Hazel.


Arifin tersenyum, meski Kanaya selalu berusaha menjauh tapi dia tidak akan pernah tega jika ada orang sakit di sebelahnya, dia akan selalu reflek melakukan pergerakan untuk membantu meski itu siapapun, termasuk Hazel.


'Mereka terlihat sangat serasi. Apakah mungkin bisa mereka dekat?' batin Arifin.


"Terima kasih. Maaf, aku memang tidak biasa minum kopi, maaf," ucap Hazel. Pantesan Hazel langsung batuk, mungkin karena dia memang tidak biasa minum kopi jadinya seperti itu.


Apalagi Hazel seorang dokter, pastilah dia akan selalu menjaga kesehatan dan menjauhi makanan atau minuman yang tidak baik bagi kesehatan.


"Ma_maaf," Kanaya yang merasa menyesal.


Bukan hanya Kanaya, tapi Kayla juga merasa bersalah karena dia yang membuatnya.


"Tidak apa-apa, menghargai suguhan tuan rumah adalah pahala," Hazel tersenyum.


Kanaya masih saja melongo melihat wajah Hazel yang sedikit memerah karena batuk tadi.


Hazel tetap ingin menghabiskan meski dia sudah mengatakan tidak pernah minum kopi, entah apa yang dia pikirkan. Terlihat wajahnya terlihat aneh ketika meminumnya tapi dia tetap paksakan.


"Tidak usah di minum nggak apa-apa kok, Mas," Kanaya sangat takut.


"Hem, nggak apa-apa," Hazel pun meminumnya sampai benar-benar habis hingga tidak tersisa.


Demi apa Hazel rela menghabiskan minuman yang sama sekali tidak pernah dia minum sebelumnya, bahkan sampai tak tersisa.


Hazel benar-benar pergi setelah kopinya habis tentunya dia tidak sendiri ketika keluar tapi ada Kanaya yang mengantarkan.


"Saya permisi, Mas," Kayla pun juga akan pergi, tapi belum juga dia benar-benar berdiri tangannya kembali di tarik oleh Arifin dan membuat dia bertahan lagi di sana.


"Disini dulu sebentar, temani aku menghabiskan kopiku."


"Ta_tapi, Mas?" Kayla selalu saja berusaha untuk menjauh dari Arifin tapi Arifin sendiri, dia seakan-akan sengaja membuat dia selalu dekat.


Berusaha untuk selalu melupakan perasaannya, melupakan keinginan yang sudah muncul sejak awal. Tapi, dengan apa yang selalu di lakukan Arifin apakah dia akan bisa melakukannya?


"Hanya sebentar saja," Arifin malah tersenyum begitu manis. Senyum yang semakin mengaduk-aduk hati Kayla. Semakin lama, semakin besar perasaannya untuk bisa bersanding dengan Arifin, tapi juga semakin sakit mengingat perasaannya yang tidak terbalas.


Cinta itu memang membahagiakan jika cintanya terbalas dan memiliki cinta yang sama besarnya. Tapi jika tidak terbalas? Sakit.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2