Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Di tentang sang Papa


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Hazel!" teriak pak Davin dengan sangat keras. Memanggil anaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Hazel terlihat sangat buru-buru, ini sudah sore dan dia harus cepat bergegas karena sebentar lagi akan maghrib, dia harus mengikuti acara mengaji dengan Kanaya kan?


Hazel yang belum tau akan keberadaan papanya langsung menoleh karena sangat terkejut, papanya datang kenapa tidak memberitahu dia, bahkan dia juga tidak sadar kalau mobil sang papa ada di depan juga.


Apakah Hazel terlalu bersemangat hingga dia tidak menyadari?


"Pa, sudah dari tadi?" Hazel yang ingin pergi ke kamar menjadi urung, dia langsung menghampiri sang papa yang terlihat sangat marah. Entah apa yang membuat dia marah seperti itu.


"Sendiri saja, Pa?" kembali Hazel bertanya. Dia sudah berhenti di hadapan Davin yang juga berdiri memandanginya dengan mata tajam. Hazel mengerutkan wajah, apa kiranya yang membuat Davin marah?


Plak!


Satu tamparan keras seketika mendarat di pipi Hazel, Hazel terhuyung tapi tidak sampai jatuh. Tangan Hazel juga sontak memegangi pipinya yang mendapat cap lima jari dari papanya.


Dengan berani Hazel berdiri lagi dengan tegak, memandang Davin dengan bingung, apakah papanya sudah tau tentang dirinya yang berpindah keyakinan? Tapi dari siapa?


"Ada apa, Pa?" Hazel nampak basa-basi lebih dulu sebelum dia mengatakannya nanti, dia hanya ingin tau apakah Davin marah karena itu atau tidak.


"Apa yang kamu lakukan, Hazel? Kamu mengubah keyakinan mu!?" suara Davin begitu menggelegar.


Ternyata benar, Davin sudah tau akan apa yang Hazel lakukan. Dia yang berpindah keyakinan tanpa minta persetujuan orang tua pasti bakal menimbulkan masalah baru, dan ternyata benar kan?


"Kenapa, Hazel? Apakah karena perempuan itu, iya!?" suaranya semakin lantang.


Tatapannya semakin bengis, meminta jawaban dari anaknya yang dia anggap sudah sangat keterlaluan itu. Bukan hanya membangkang karena kemarin tidak datang di acara pertunangan dan sekarang malah membuat masalah baru dengan mengubah keyakinannya.


"Papa tidak mau tau, Hazel. Kamu harus kembali lagi pada keyakinan mu yang dulu. Kamu tidak boleh berpindah keyakinan!"


Tentu, keputusan Hazel akan sangat di tentang oleh Davin yang sangat taat pada keyakinannya. Dia tidak mau kalau anak satu-satunya itu berbeda keyakinan dengannya sekarang atau nanti.


"Maaf, Pa. Hazel tidak bisa. Hazel sudah memilih jalan hidup Hazel sendiri, Pa. Setuju atau tidak Hazel tidak akan pernah kembali."

__ADS_1


Tekat Hazel sudah sangat bulat, dia tidak akan kembali lagi pada keyakinan yang lama. Dia sudah percaya, bukan karena dia yakin saja tapi dia ingin mendapatkan cintanya.


"Kamu berani menentang papa!" ucapan Davin kian menggelegar.


"Maaf, Pa. Sebenarnya Hazel tidak berani, tapi Hazel mohon, Pa. Hargai keputusan Hazel."


Plak!


Lagi tamparan keras mendarat di pipi yang sama pada Hazel. Begitu sadis Davin memperlakukan, dia benar-benar tidak rela kalau Hazel berpindah keyakinan.


"Semua ini pasti gara-gara perempuan itu, iya kan!"


"Tidak, Pa. Bukan karena dia. Tapi Hazel sendiri yang menginginkannya!"


Tidak ada amarah yang terpancing dalam diri Hazel, dia tetap tenang meski sudah dua kali mendapat tamparan keras dari Davin. Dia juga terlihat tenang meski kata-kata yang keluar dari Davin dengan nada yang sangat kasar.


"Kamu harus kembali, Hazel."


"Maaf, Pa. Hazel tidak bisa. Hazel akan tetap pada keyakinan yang sekarang. Setuju atau tidak Hazel tidak akan pernah kembali." Hazel begitu yakin.


Harapan besar, mimpi indah ada di hadapannya, dan dia harus bisa menggapai itu. Dia tidak akan bisa menggapainya jika dengan keyakinannya yang lama.


"Kalau begitu, mulai sekarang, kamu bukan lagi anakku, Hazel. Kita bukan siapa-siapa lagi dan jangan pernah datang lagi dan juga jangan pernah memanggil ku papa, karena aku bukan papamu lagi!"


Sakit. Tentu hati Hazel sangat sakit, dia di buang sekarang, tidak di akui sebagai seorang anak. Di tinggalkan oleh orang tua yang selalu melimpahkan kasih sayang.


Tapi Hazel juga tidak bisa kembali, dia sangat mencintai Kanaya dan akan terus berjuang, dia tidak akan mundur meski sekarang dia telah di buang oleh papanya.


Davin keluar dari rumah Hazel dengan amarah yang sangat besar. Dia tak peduli telah menyakiti hati anaknya, dia tidak peduli dengan membuat anaknya sedih dan tak lagi mengakui sekarang.


Brak!


Davin membanting pintu dengan kasar, dia sangat marah.


Sementara Hazel, dia terduduk lemas di sofa. Bohong kalau dia tidak sedih anak manapun pasti akan sedih setelah tidak di akui lagi sebagai seorang anak.

__ADS_1


Tapi Hazel sangat tau kalau ini akan terjadi, dia sudah memikirkan ini sebelum dia mengubah keyakinannya kemarin.


"Maaf, Pa. Hazel tetap tidak bisa kembali meski papa memintanya. Meski papa tak lagi mengakui Hazel, Hazel tetap tidak akan menyerah, Hazel akan tetap teguh pada pendirian Hazel." gumam Hazel.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Kanaya tengah bersiap untuk pergi ke tempat mengajar. Rasa lelah tak dia rasakan dan terus saja di abaikan.


Semua itu demi bisa mengajar anak-anak, membagikan ilmu yang dia dapat dan juga menjalankan amanah dari mendiang suaminya.


"Umi, Syifa sudah siap. Ayo berangkat." Anak kecil berumur lima tahun itu langsung masuk, dia berlari menghampiri sang Umi yang tengah membenarkan hijabnya.


"Sebentar lagi ya, Sayang." jawab Kanaya dengan begitu ramah. Mengelus sejenak pipi anaknya yang sudah berdiri di sebelahnya dan memandangi dia yang kembali membenarkan hijab.


"Umi, hari ini Om Hazel datang lagi nggak ya?" tanya Syifa.


Seketika Kanaya menghentikan pergerakannya, dia tertegun sesaat mendengar nama Hazel yang anaknya ucapkan.


Perasaannya langsung aneh, ada rasa tidak tenang dan kenyamanan akan terganggu sepertinya.


"Oh iya, Sayang. Oma dan opa ikut juga tidak?" tanya Kanaya mengalihkan. Kalau mereka berdua ikut tentu Kanaya tidak akan takut karena akan ada Opa yang mengajari Hazel.


"Ikut kok, Umi. Oma dan opa sudah menunggu di ruang tengah." Syifa menjelaskan.


Kanaya bernafas lega karena mereka ikut, dia tidak perlu takut lagi sekarang.


"Umi kenapa diam saja, apakah ada yang umi pikirkan? Ayo kita berangkat Umi." Syifa begitu tidak sabar.


Sebenarnya bukan hanya karena ingin mengaji saja yang membuat Syifa tidak sabar ingin cepat berangkat, tapi dia ingin bertemu dengan Hazel.


"Iya, kita berangkat sekarang." Kanaya setuju, dia langsung beranjak dan menggandeng tangan mungil Syifa dan segera berangkat.


'Semoga saja Om Hazel datang malam ini. Syifa sangat ingin bertemu dengan nya, Syifa kangen.' batin Syifa.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2