Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Perasaan Tak Enak


__ADS_3

»»————><————««


"Om Davin benar-benar keterlaluan, kenapa dia harus menghalangiku melenyapkan janda itu. Seandainya tidak mungkin dia sudah pergi bersama suaminya ke alam yang berbeda dan aku bisa memiliki Mas Hazel secepatnya." Gerutu Ziana.


Tangannya tak henti-hentinya memukuli setir meski mobil terus berjalan, matanya melotot seakan akan mau keluar dengan kemarahan yang sangat besar. Begitu susah untuk mendapatkan cintanya lagi sekarang.


"Apa lagi yang harus aku lakukan, apapun itu aku harus bisa menyingkirkan janda itu. Tidak akan aku biarkan dia merebut Mas Hazel dariku, tidak!"


Hatinya sungguh buruk, meski sudah di peringatkan dan juga aksinya sudah di hentikan namun dia tetap berusaha menyusun rencana baru. Tak ada habis-habisnya untuk tetap berniat buruk pada Kanaya.


"Tunggu saja, aku bisa melakukannya kapanpun. Tidak sekarang tak masalah, nanti, besok atau lusa aku bisa melakukannya. Dan pada waktunya kamu tidak bisa menghindar dari celaka," Ziana menyungging sinis, penuh keyakinan akan keberhasilannya.


"Hem, siapapun yang menghalangi aku untuk bisa bersatu dengan Mas Hazel, dia juga harus aku singkirkan."


~~~~``


Malam semakin larut, namun Syifa belum juga bisa tidur. Entahlah tapi dia terus saja membuntuti kemana uminya pergi tanpa sepengetahuannya.


"Umi," Akhirnya dia keluar dari persembunyian, memanggil Kanaya yang sedang ada di dapur untuk mengambil minum yang akan di bawa ke kamar.


"Loh, Syifa kok belum tidur, bukannya tadi?" Ya! Kanaya sudah melihat sendiri tadi bahwa Syifa sudah tidur tapi ternyata?


"Syifa tidak bisa tidur, Umi. Bolehkan kalau Syifa bobok sama Umi?" ucapnya. Suaranya terdengar begitu lesu, kedua tangan juga memeluk boneka dengan erat.


"Hem, tentu saja boleh," Kanaya tersenyum. Berjalan menghampiri putrinya setelah botol yang dia bawa penuh dengan air.


"Ayo," ucapnya. Tangannya menuntun Syifa merekapun berjalan menuju kamar Kanaya dengan sama-sama tersenyum.


Terlihat Syifa begitu bahagia di gandengan Kanaya, sesekali saling melihat hingga sampai di dalam kamar.


"Ayo naik," pinta Kanaya. Tanpa menjawab dengan kata Syifa pun langsung naik ke atas ranjang, hanya dengan senyum juga anggukan kecil saja untuk menjawab dan itu sudah cukup.


Kanaya pun ikut naik juga, menarik selimut untuk menyelimuti dirinya dan juga Syifa.

__ADS_1


"Umi, pengen peluk," pintanya.


"Eh, tumben anak Umi manja sekali. Ada apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Kanaya khawatir. Tak biasanya Syifa seperti ini.


Syifa menggeleng cepat, "tidak. Syifa hanya ingin di peluk sama Umi."


"Baiklah, sini Umi peluk. Jangan lupa berdoa dulu ya sayang," Dengan penuh kelembutan Kanaya bicara.


"Iya," Langsung tangan Syifa terangkat keduanya berdoa dengan suara lantang tentu dengan di tuntun Kanaya juga.


Seketika tangan memeluk dengan erat, yang satunya juga mengelus kening Syifa supaya cepat terlelap.


'Ada apa dengan Syifa, tak biasanya dia seperti ini?' batin Kanaya. Dia sangat penasaran karena memang tak biasanya seperti itu. Jika Syifa ingin biasanya Kanaya yang akan tidur di kamar Syifa tapi sekarang?


Rasa kantuk juga menyerang mata Kanaya, entah sejak kapan tangannya Sus berhenti bergerak, Kanaya ikut terlelap bersamaan dengan Syifa yang juga sama.


~~~~``


"Baik, Bu." jawab Pak Danu patuh.


"Umi, Umi tidak bisa antar Syifa ke sekolah? Tapi kalau jemput bisa kan?" Syifa pun juga menghentikan tangannya sembari menoleh ke arah Kanaya yang tepat di sebelahnya.


"InsyaAllah, nanti Umi jemput kamu sepulang sekolah." Kanaya tersenyum, tangannya mengelus rambut Syifa dan bisa menghadirkan bulan sabit di bibirnya.


"Baiklah, tapi jangan sampai telat ya, Umi. Hem, Om Hazel bisa jemput juga nggak?"


"Hem, Umi tidak tau kalau Om Hazel, tapi Umi akan coba tanya nanti." Lagi perkataan Kanaya membuat senyum Syifa semakin merekah, dia begitu senang hanya mendengar jawaban seperti itu saja.


"Sekarang cepat habiskan sarapanmu, Umi berangkat dulu ya, maaf." Cup!


Kanaya beranjak, tak lupa meninggalkan kecupan pada puncak kepala Syifa si sambung dengan menyalami Oma Uswah dan juga Opa Hasan.


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, hati-hati, Nay." jawab Oma Uswah. Kembali dia fokusnya ke sarapannya setelah menoleh melihat kepergian Kanaya.


"Sayang, ayo habiskan sarapanmu," sambungnya. Tersenyum pada Syifa dan dibalas dengan hal yang sama.


'Ya Allah, jaga Umi Syifa Ya Allah. Hati Syifa tidak enak.' batin Syifa kembali melihat ke arah pintu dimana Kanaya keluar dari sana.


~~~~``


Waktu sudah begitu mepet tapi mobil Kanaya malah mogok di tengah jalan. Padahal dia harus segera sampai di kantor tapi kini dia di buat pusing karena tak bisa sampai tepat waktu.


Berkali-kali dia menghubungi Arifin supaya bisa menjemputnya tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Mas Arifin di mana sih?" Kanaya begitu bingung. Terus wajahnya melongok ke arah jalan siapa tau ada taksi ataupun tukang ojek yang bisa mengantarkannya ke kantor tapi semua yang datang hanya mobil pribadi yang jelas tak akan berhenti.


Hingga akhirnya Kanaya melihat seseorang yang akan menyebrang, Kanaya mengernyit sembari mengamati dengan serius.


"Itukan Om Davin?" gumamnya. Melihat tak henti, melihat bagaimana Davin yang masih menunggu jalanan sepi dari kendaraan dan dia bisa menyebrang.


Seketika mata Kanaya melotot, ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat saat Davin sudah berjalan menyebrang. Kanaya yang begitu panik namun tidak dengan Davin yang tidak menyadari.


"Om, awasss!" Kanaya berteriak sekuatnya bersamaan dengan dia yang berlari untuk menyelamatkan Davin yang malah menoleh ke arahnya. Terlihat Davin sangat bingung karena Kanaya berlari dengan begitu panik.


Hingga akhirnya, tepat di saat Davin melihat ke arah satunya di saat itu juga dia terpental.


Brakk!!


Mata Davin seketika menoleh, dia selamat namun tidak dengan Kanaya yang sudah menggantikan dirinya hingga tertabrak mobil. Dengan tak ada tanggung jawabnya mobil itu langsung kembali berjalan, dia melarikan diri.


"Hey, berhenti!" Teriak Davin namun mobil itu tak peduli.


»»————><————««


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2