
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Usaha untuk terus melanjutkan pekerjaan dengan serius nyatanya tidak bisa Kanaya lakukan, di tengah-tengah pekerjaannya dia begitu gelisah karena mengingat Syifa yang entah bagaimana dia sekarang.
Dia sadar bahwa dia begitu sibuk dengan pekerjaan, seolah melupakan anaknya. Bukan melupakan, tapi menomorduakan.
Anak yang seharusnya menjadi nomor satu di hari-hari seorang ibu tapi Kanaya belum bisa melakukan itu. Dia selalu mengutamakan pekerjaannya.
"Bagaimana keadaan, Syifa? Dia benar pergi atau tidak?" gumam Kanaya. Tangan menghentikan pekerjaannya meraih ponsel yang ada di depannya di sebelah laptop yang menyala.
"Semoga saja Syifa tidak rewel," gumamnya lagi. Tangan segera menyalakan ponsel mencari nomor Oma Uswah untuk segera menghubunginya dan menanyakan keadaan Syifa.
"Assalamu'alaikum, Umi," sapa Kanaya.
"[Wa'alaikumsalam, ada apa, Nay?]"
"Umi, bagaimana dengan Syifa? Dia tidak rewel kan?"
"[Syifa..., Syifa pergi ke taman bersama pak Danu.]"
"Hanya dengan pak Danu?"
"[Iya, Nay. Sebenarnya tadi Umi dan Abi ingin mengantarkannya tapi dia menolak. Syifa hanya ingin pergi bersama pak Danu saja.]"
"Terima kasih, Umi. Nay akan menyusulnya. Assalamu'alaikum."
"[Wa'alaikumsalam.]"
Jika bersama Oma Uswah juga Opa Hasan perginya Kanaya bisa tenang, tapi sekarang? Syifa hanya pergi bersama Pak Danu saja, entah bagaimana dia sekarang.
Bergegas Kanaya membereskan pekerjaannya, memasukkan ponsel juga barang lainnya yang memang biasa di bawa kedalam tas. Kanaya terlihat sangat buru-buru, dia sangat tidak tenang karena memikirkan Syifa.
__ADS_1
Bagaimana kalau dia bersedih atau menangis?
Bagaimana kalau dia hanya menyendiri tak ada teman yang menemani?
Bagaimana dan bagaimana, semua ada di dalam kepala Kanaya. Dia sungguh tidak tenang dan ingin secepatnya menyusul Syifa.
Bayangan bagaimana Syifa sekarang begitu memenuhi kepala Kanaya, dia harus secepatnya datang kan?
"Maafkan Umi ya, Nak. Umi selalu saja mengabaikan mu," gumamnya. Tangannya menyambar tas dan menggantungnya di bahu kiri, bukan itu saja, tapi Kanaya juga mengambil kunci mobil yang juga dia letakan di atas meja. Bergegas Kanaya keluar.
"Nay, kamu mau kemana?" Arifin langsung memanggilnya setelah tau Kanaya yang ingin pergi. Menghentikan langkah Kanaya yang terlihat sangat buru-buru.
"Mas." Kanaya sudah berhenti melangkah, berdiri menghadap kearah Arifin yang sudah berjalan menghampirinya.
"Mau kemana? Kamu terlihat sangat buru-buru." Arifin menghentikan langkah di hadapan Kanaya yang masih terdiam.
"Hem, Nay mau ke taman, Mas. Syifa pergi ke sana dan hanya bersama pak Danu saja. Naya takut kalau dia kesepian."
"Akhir-akhir ini Nay selalu saja sibuk," Kanaya menunduk.
"Nay pergi dulu ya, Mas. Assalamu'alaikum," Kanaya cepat bergegas.
"Wa'alaikumsalam." Ditatapnya kepergian Kanaya yang terlihat buru-buru. Kasihan, itulah yang Arifin rasakan sekarang.
Di usia Kanaya yang masih terbilang muda dia sudah harus sesibuk ini. Mengurus semuanya termasuk mengurus perusahaan besar juga keluarganya. Apalagi juga ada anaknya yang sangat membutuhkan perhatian.
"Kamu pasti sangat lelah, Nay. Maaf, hanya ini saja yang bisa mas lakukan."
Ya! Hanya dengan membantu mengurus perusahaan saja yang bisa Arifin lakukan, tak ada yang lain yang bisa dia lakukan lagi. Seandainya bisa, dia pasti akan melakukan segalanya demi Kanaya, demi menebus semua kesalahan yang dulu pernah dia lakukan.
"Kayla!"
__ADS_1
Langkah Kayla terhenti dengan mendadak, dengan perasaan yang kembali campur aduk. Kenapa Arifin selalu saja membuat jantungnya seakan ingin berhenti berdetak.
Langkah kaki dengan sepatu pantofel hitam yang Arifin pakai semakin jelas Kayla dengar. Kayla memang tidak melihat tapi dia tau kalau jarak Arifin semakin dekat.
Perlahan Kayla menoleh, mengubah posisi berdiri kearah Arifin setelah Arifin berhenti. Nafas Kayla sempat panjang dalam beberapa kali, menandakan dia benar-benar tengah berusaha keras untuk bisa terlihat biasa-biasa saja.
"Ya," jawab Kayla. Alhamdulillah, dia berkali-kali mengucap syukur meski hanya dalam hati, dia bisa menjawab Arifin dengan suara yang tak gugup lagi.
"Sebentar lagi istirahat, aku ingin mengajakmu ke taman," ucap Arifin. Hal itu tentu membuat Kayla langsung melongo bingung sekaligus terkejut.
"Begini, Syifa anaknya Kanaya ada di taman, Kanaya juga sedang ke_sana sekarang. Aku hanya ingin menemuinya saja. Kamu tidak masalah kan kalau menemaniku? Atau mungkin kamu ada acara lain?"
Kayla menggeleng, tak ada acara apapun tapi sebenarnya dia sangat malas jika berhadapan dengan Arifin dia takut tidak bisa menahan diri dan bertingkat bodoh di hadapan Arifin. Tentunya Kayla tidak mau perasaannya di sadari oleh Arifin.
Kayla sedang dalam proses melupakan semua perasaannya, mengubur dalam-dalam untuk jauh dari harapannya.
Benar, kata orang patah hati itu sangat sakit, tapi bagi Kayla patah hati tidak lebih sakit daripada memendam perasaan pada orang lain dan orang itu tidak membalasnya, apalagi kalau sampai perasaannya bertepuk sebelah tangan, bukankah itu lebih menyakitkan?
"Bagaimana?"
"I_iya, saya akan temani."
Meski tadi sudah biasa tapi sekarang Kayla kembali gugup. Dia juga menjawab Arifin dengan kata-kata formal.
"Hem, baiklah. Aku tunggu di mobil nanti." Arifin tersenyum. Memandangi Kayla sejenak lalu berlalu.
"Ya Allah, sampai kapan aku akan selalu berada di sekitar pak Arifin terus. Tidak mungkin kan aku keluar dari pekerjaan ini hanya untuk menjauh darinya? Kamu pasti bisa Kayla, kamu pasti bisa."
Kayla hanya bisa menyakinkan dirinya sendiri, dia juga tidak perlu keluar dari pekerjaannya. Dia harus bisa mengendalikan semua perasaannya. Dia harus kuat hati untuk menghadapi Arifin yang seolah selalu sengaja membuat dia hampir kehilangan detak jantungnya.
"Lama-lama aku bisa jantungan," gumamnya. Kakinya langsung pergi dari sana setelah Arifin tak lagi terlihat.
__ADS_1
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung...