Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Harapan Opa Hasan


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Nay, Abi bisa bicara sebentar?" ucap Opa Hasan. Kedatangannya di ruangan kerja Kanaya di rumah membuat Kanaya menghentikan pekerjaan.


Jari tangannya yang tengah menari-nari di atas keyboard seketika berhenti dan kini serius menatap pada opa yang sudah berjalan masuk.


"Hem," Kanaya mengangguk, mempersilahkan opa untuk bicara padanya. Entah apa yang ingin dibicarakan hingga membuat opa datang langsung padanya.


Kanaya sedikit heran, pastilah hal yang sangat penting, kalau tidak tidak mungkin akan mendatanginya.


Opa Hasan duduk di hadapan Kanaya, tersekat meja kerja yang ada di tengah-tengah mereka berdua. Opa Hasan terlihat ragu, hembusan nafasnya terasa agak berat.


"Abi, apakah ada masalah?" tanya Kanaya. Dia sangat bingung karena ini bukan hal yang biasa.


Biasanya kalau opa Hasan seperti ini pasti ada masalah yang tengah dia alami, tapi apa? Kalau ada masalah kenapa Kanaya sampai tidak tau.


"Abi," Kanaya terlihat begitu tak sabar, dia sangat ingin tau apa yang sebenarnya opa Hasan pikirkan saat ini.


"Nay, maaf sebelumnya jika yang akan abi katakan akan membuat kamu tersinggung, tapi abi mengatakan ini hanya untuk kebaikan kamu dan juga Syifa."


Semakin Kanaya penasaran, apa yang sebenarnya menjadi arah pembicaraan opa Hasan padanya saat ini.


Kanaya tetap diam, dia tidak mengatakan apapun tapi tatapannya begitu fokus pada opa Hasan. Dia sangat penasaran dan sangat tidak sabar ingin tau.


"Nak, Syifa sudah besar. Dia juga anak seperti pada umumnya. Dia juga butuh sosok seorang ayah."


Kanaya mulai tau arah pembicaraan opa Hasan sekarang. Apakah itu artinya opa Hasan menginginkan Kanaya untuk menikah lagi?


"Kalau Abi lihat, Syifa begitu nyaman dengan Hazel, dia juga sangat sayang padanya. Apakah kamu tidak berpikir untuk membuat mereka berdua benar-benar bersatu sebagai ayah dan anak?"


"Aku tau, kamu masih belum bisa melupakan Dirga. Kamu masih mencintainya, tapi Abi yakin, Dirga tidak mau kamu seperti ini, Nak."


"Maaf, Abi. Ini sudah pernah kita bahas kan? Dan Nay tidak mau membahasnya lagi."


"Tapi, Nak. Lihatlah Syifa, dia sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Abi tau, kamu bisa memberikan apapun yang dia mau, tapi tidak dengan kasih sayang sebagai ayah. Kamu tidak akan bisa, Nak."


"Buka hati kamu, Nak. Pikirkan kebahagiaan Syifa, abi sudah tua, sewaktu-waktu bisa saja abi atau umi akan menyusul Dirga. Abi hanya ingin ada orang yang tepat yang bisa menjaga kalian berdua."


Kanaya terdiam, kenapa harus seperti ini. Apakah dia tidak bisa tenang tanpa harus memikirkan untuk kembali menikah?


Dari dulu apapun yang dia dapat akan selalu pergi, Kanaya tidak mau kalau dia kembali sakit jika itu kembali terulang. Sudah cukup sekali saja dia merasakan sakitnya di tinggal orang yang sangat dia cintai, dia tidak akan sanggup menahan duka lagi.


"Pikirkan baik-baik, abi hanya bisa mengatakan apa yang menjadi keinginan abi dan juga umi. Semua keputusan ada pada dirimu."


"Kamu harus ingat, Nak. Meski kamu kembali membina hubungan baru, kamu akan tetap menjadi anak kami. Tidak akan ada yang berubah, dan semua juga akan tetap sama."

__ADS_1


Opa Hasan terdiam sesaat.


"Sudah malam, jangan selalu begadang, tidak akan baik untuk kesehatan mu."


Opa Hasan beranjak, dia meninggalkan senyuman penuh kasih pada Kanaya yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Istirahatlah, pekerjaan bisa besok-besok lagi," imbuhnya sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu.


"Iya, Abi." Jawab Kanaya. Dia masih terus mengamati Opa Hasan sampai keluar dan pintu tertutup lagi dengan begitu rapat.


Punggungnya seketika bersandar dengan berat, tubuhnya terasa lelah acap kali dia harus memikirkan hal tentang membuka hati kembali.


Sangat berat baginya, itu tidak akan mudah.


Tangannya perlahan menutup laptop, dia beranjak dengan pelan dan benar keluar dari ruangan itu. Bukan menuju kamarnya sendiri, melainkan menuju kamar Syifa.


Dibuka perlahan pintu kamar anaknya itu, ternyata dia sudah tidur dengan memeluk beberapa mainan yang tadi diberikan oleh Hazel.


Kanaya duduk di sebelahnya, mengelus kening Syifa dengan sangat pelan, beralih menarik selimut untuk menutupi tubuh Syifa supaya lebih hangat.


Pikirannya begitu berperang, benarkah dia harus membuka hati untuk seseorang? Apakah dia harus menerima Hazel?


"Maafkan Umi ya, Nak. Umi belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Maaf," Dikecup kening Syifa dengan sangat pelan dan penuh kasih.


Pandangannya seketika tertuju pada buket bunga yang di berikan oleh Hazel, Kanaya mendekatinya, menyentuhnya dalam sesaat tanpa mengangkat dari meja rias itu.


Hembusan nafas panjang terdengar keluar dari hidungnya.


"Kenapa semua orang begitu yakin denganmu, Mas? Apakah kamu sungguh-sungguh menyayangi Syifa?" tanyanya.


Beralih matanya pada pigura yang terdapat foto dirinya dan juga mendiang suaminya. Ditatap begitu lekat, dielus pelan wajah suaminya itu yang masih sangat jelas dan tidak memudar sama sekali.


"Apa yang kamu inginkan untukku juga Syifa, Mas?" Kanaya berjalan, dia duduk di kasur dan perlahan naik. Menyandarkan punggungnya dan menyelimuti kakinya.


Terus Kanaya melihat foto itu, semua kenangan masih terekam jelas didalam kepalanya. Dia masih mengingat semuanya, tak ada sedikitpun yang hilang.


Perlahan tubuh Kanaya luruh rasa kantuk mulai menyerang hingga akhirnya dia tidur dengan memeluk pigura itu.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Kesibukan kembali menjemput ketika pagi hari, semua akan sibuk kembali dengan pekerjaan masing-masing. Bukan hanya Kanaya, tapi semua orang.


Suara dentingan sendok dan piring terus beradu di meja makan, keluarga Kanaya tengah menjalankan rutinitas sarapan sebelum kesibukan yang melelahkan akan kembali mereka jalankan.


"Assalamu'alaikum!" Sapa seseorang begitu ramah.

__ADS_1


Semua menoleh, dan melihat siapa yang datang. Dirga.


"Wa'alaikumsalam... Nak Dirga, sini sekalian sarapan bersama kami," Opa Hasan begitu ramah menyambut kedatangan Dirga.


Pria itu tersenyum, jelas dia akan sangat senang karena mendapat sambutan yang begitu ramah.


Opa Hasan menoleh kearah Kanaya, tampak jelas kalau Kanaya tak begitu menyukai akan kedatangan Dirga. Opa tau betapa Dirga terus berusaha untuk mendapatkan hati Kanaya, tapi mau bagaimana lagi, urusan hati tidak bisa di paksa.


Jika semalam opa menyarankan Hazel bukan berarti Kanaya harus menerima Hazel, bisa saja siapapun termasuk Dirga jika Kanaya mau. Siapapun yang Kanaya pilih nantinya Opa akan selalu mendukungnya.


"Terima kasih, Om. Tapi saya sudah sarapan, terima kasih tawarannya." jawab Dirga, dia ikut duduk di sana meski tidak ikut sarapan.


"Nak Dirga ada perlu apa?" tanya Oma Uswah. Jelas saja kan bertanya seperti, ini begitu pagi dan seharusnya Dirga pergi ke tempat kerjanya bukan malah datang ke rumah.


"Hem, saya berniat untuk mengantarkan Syifa sekolah, Tante. Sudah lama tidak mengantarkannya," jawab Dirga.


"Mengantarkan Syifa, Om?" Syifa bertanya, dia sedikit terkejut.


"Iya, mau kan?"


"Tapi, Om. Syifa sudah janji akan di antar oleh Om Hazel. Sebentar lagi om Hazel pasti datang." Jawab Syifa.


Semua terpaku, tak ada yang tau kalau Hazel akan mengantarkan Syifa ke sekolah, tidak tau kalau mereka berdua ada janji.


"Kapan Syifa janji sama om Hazel?" Kanaya sangat penasaran.


"Semalam, Umi. Om Hazel ingin mengantarkan Syifa sekolah dengan mengendarai motor, dia juga akan mengajak Syifa keliling dulu. Boleh kan Umi?"


Kanaya terdiam, menoleh ke arah opa Hasan dan juga Oma Uswah. Keduanya juga tertegun karena mereka juga tidak tau.


"Oh, gitu ya," Dirga nampak lesu, dia kembali kalah cepat dengan Hazel. Akan semakin susah dia bisa mengambil hati Syifa ataupun Kanaya sekarang.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," Jawab semuanya seraya menoleh.


"Om Hazel!" Syifa begitu girang, dia langsung turun dari kursi dan berlari menyambut Hazel.


Assalamu'alaikum?


Dirga tertegun, Hazel mengucap salam?


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2