
»»————><————««
"Pa, apa yang terjadi pada Kanaya! Kenapa dia bisa seperti ini?" Hazel terus mencerca pertanyaan pada Davin yang juga ikut mendorong brangkar yang membawa Kanaya masuk ke rumah sakit.
Hazel begitu panik, bagaimana tidak! Baru saja dia datang dan kini sudah langsung dihadapkan dengan kekasih hatinya yang terbaring tak sadarkan diri di atas brangkar juga dengan beberapa luka yang mengeluarkan darah.
Kepanikan Hazel terus berlanjut, dia terus bertanya namun Davin belum juga mau bicara, dia masih begitu shock karena kejadian barusan. Seandainya Kanaya tidak menyelamatkannya maka dirinyalah yang ada di posisi Kanaya sekarang.
"Hazel butuh penjelasan dari Papa setelah ini," ucapan Hazel begitu menekankan.
Matanya membulat terang melihat Davin yang tetap setia menunduk dengan rasa bersalah. Tubuh Davin masih gemetar karena kejadian tadi hingga dia langsung bersandar lemas di dinding ketika Kanaya sudah di bawa masuk ke ruang IGD.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan," ucapnya. Kedua tangannya menyeka wajahnya yang terasa frustasi.
Bukan hanya takut terjadi sesuatu pada Kanaya saja, tapi Davin sangat takut kalau Hazel akan semakin membenci dirinya.
Tubuh Davin merosot begitu saja, duduk di lantai dengan menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan.
~~~~``
Uhuk uhuk uhuk!
Pak Danu langsung menoleh ketika tiba-tiba saja Syifa batuk, padahal Syifa juga tidak makan apapun barusan.
"Aw!" Syifa memekik, batuknya juga menyebabkan lidahnya tergigit.
"Non, Non baik-baik saja?" Pak Danu begitu khawatir dia juga langsung menghentikan mobilnya supaya lebih fokus melihat keadaan Syifa.
__ADS_1
Syifa menggeleng, dia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya tapi yang jelas dia langsung gelisah tanpa sebab.
"Syifa tidak mengerti, Kakek. Tapi kenapa sekarang aku jadi deg-degan gini ya," ucapnya dengan suara yang begitu polos. Tangannya juga langsung memegang dadanya sendiri.
"Apakah sakit?" tanya pak Danu yang seketika menjadi khawatir. Cepat dia mengambil botol minum dan membukanya, "minum dulu, Non. Mungkin karena tadi habis sarapan belum minum."
"Iya kali ya," Syifa mengangguk, mengiyakan apa yang Pak Danu katakan. Dia benar-benar tak mengerti dan percaya begitu saja pada Pak Danu.
'Ya Allah, ada apa ini? Semoga tidak ada sesuatu yang terjadi.' batin Pak Danu. Terus memperhatikan Syifa yang sedang minum.
"Terima kasih, Kakek." Setelah dirasa cukup Syifa kembali menyerahkan botol itu pada Pak Danu.
Pak Danu mengangguk pelan, tersenyum dengan begitu manis di hadapan Syifa. "Kita jalan lagi?"
"Iya, kita harus cepat kakek, nanti takut terlambat," Syifa mengangguk.
~~~``
"Sebenarnya apa yang terjadi, Pa. Kenapa Kanaya bisa sampai mengalami kecelakaan seperti ini?" tanya Hazel. Begitu menegaskan saat bertanya pada Davin.
Davin yang masih berjongkok langsung berdiri, melihat anaknya yang baru saja keluar dari ruangan dimana Kanaya di bawa.
"Zel, bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa kan? Tidak ada yang serius padanya kan?" cerca Davin dengan sangat khawatir. Meski sebenarnya dalam hatinya masih tak menyukai Kanaya namun dia merasa bersalah, dia merasa berhutang nyawa dengan Kanaya.
"Ada beberapa luka, memang tak ada luka dalan namun yang menimpanya cukup serius."
"Jelaskan pada Hazel, Pa. Sebenarnya apa yang terjadi, bagaimana bisa papa bersama dengan Kanaya?" Hazel begitu tak sabar, dia sangat butuh penjelasan dari Davin.
__ADS_1
"Semua ini tidak akan terjadi kalau Kanaya tidak menyelamatkan Papa dari mobil yang akan menabrak Papa, Zel. Tadi Papa baru saja akan menyebrang, tak tau darimana datangnya Kanaya dan dia langsung menolong Papa. Kejadian itu begitu cepat," Mata Davin mulai berembun ketika bercerita akan kronologi yang terjadi.
"Percayalah, Zel. Ini bukan kesalahan Papa. Dia sendiri yang berniat menolong Papa. Ini juga bukan keinginan Papa," Jelas Davin begitu takut kalau sampai Hazel tidak akan percaya dan malah membencinya.
Begitu sakit hati seorang ayah ketika anak benci padanya.
"Memang, Papa tidak menyukainya, tapi Papa juga tidak mau sampai ini terjadi." Imbuhnya kian gelisah.
"Terus mobil yang menabrak?"
"Mobil itu melarikan diri, Zel. Papa juga tidak bisa mengenali mobil itu, Papa begitu panik setelah melihat Kanaya."
Hazel terdiam, berpikir apakah mobil ity murni dari orang yang tak sengaja lewat saja atau memang orang yang sudah merencanakan niat buruknya pada Kanaya.
"Zel, kamu percaya kan sama Papa?" Tatapan matanya begitu mengisyaratkan kejujuran juga terselip sebuah penyesalan yang begitu besar.
Davin begitu tak kuat hati melihat wajah penuh amarah dari Hazel. Apakah kemarahan itu untuk dirinya, atau untuk orang yang menabrak Kanaya?
"Hazel percaya sama Papa. Meski Papa tidak menyukai orang tapi Papa tidak mungkin berencana mencelakai orang itu." Jawab Hazel begitu yakin.
Davin tersenyum dua begitu senang karena Hazel percaya padanya.
"Iya, Papa tidak akan mungkin melakukan hal itu. Tidak mungkin."
»»————><————««
Bersambung...
__ADS_1