Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Bermain bersama Hazel


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Meski dengan sangat kecewa Syifa tetap jalan-jalan sesuai yang sudah di rencanakan dan juga sesuai yang sudah di katakan dengan teman-temannya. Memang acara bukan acara sekolah, hanya karena pas libur saja jadi mereka pada berinisiatif sendiri.


Sebenarnya Syifa akan di temani Oma juga Opanya, tapi dia tidak mau dan seolah marah juga dengan mereka, Syifa lebih memilih jalan di temani oleh Pak Danu saja.


Pak Danu yang sudah ikut dengan keluarga Syifa sejak lama dan juga sudah seperti kakek juga pada Syifa tentu tidak menolak, dia malah merasa sangat senang karena bisa menuruti keinginannya.


Pak Danu benar-benar mengabdikan diri pada keluarga Syifa, berawal dari dia ikut dengan suaminya Kanaya dan sekarang sama sekali tidak berniat untuk keluar meski usia juga sudah tidak lagi muda.


Tidak jauh-jauh mereka berjalan-jalan, hanya di taman kota saja. Semua teman-teman Syifa berjalan di tengah-tengah karena di gandeng oleh orang tua mereka, sementara Syifa, dia berjalan di gandeng oleh pak Danu.


Cemburu? Ya! Jelas Syifa memiliki perasaan itu. Semua teman-teman komplit dengan kedua orang tua mereka. Bisa bercanda gurau dan juga bermain dengan orang tua, sementara Syifa? Dia hanya bersama pak Danu saja.


"Neng, Neng mau main apa?" tanya Pak Danu. Melihat wajahnya yang terus di tekuk membuat Pak Danu menjadi sangat iba. Tentu dia sangat kasihan dan ikut bersedih.


"Tidak, Kek. Syifa hanya mau duduk saja," jawabnya.


Syifa melepaskan diri dari Pak Danu, berjalan lebih dulu dengan setengah berlari menuju ayunan besar yang saling berhadapan. Syifa duduk di sana.


Sesekali matanya mengusap matanya, padahal tidak ada apapun, juga tidak ada air mata yang keluar. Entah, apa yang dia rasakan sekarang.


Matanya begitu fokus kearah teman-temannya, memang mereka bilang akan bermain bersama-sama tapi mereka yang pergi dengan orang tuanya pastilah tidak akan datang dan mau bermain dengannya, iya kan?


"Syifa, kamu ngapain di sini sendiri? Kamu tidak datang dengan papa dan mama kamu?"


Syifa menoleh, salah satu teman laki-lakinya yang datang itupun dengan di gandeng oleh mamanya sementara di belakang ada papanya.


Syifa menggeleng. Sedih rasa hatinya dia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan temannya itu.


"Kenapa mereka tidak mau ikut kamu, mereka tidak sayang ya sama kamu?"


"Ssttt..., Kevin, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Siapa tau orang tua temanmu sedang sibuk," Mamanya langsung menegurnya.


"Maaf, Ma. Maaf ya, Syifa," Langsung dia meminta maaf, menyalami Syifa dengan wajahnya yang datar.


"Nggak apa-apa kok, Syifa nggak marah," jawab Syifa seraya menerima uluran tangan dari Kevin.


"Aku pergi dulu ya, Fa. Dah!"


Syifa tidak menjawab, namun dia terus melihat kepergian Kevin bersama kedua orang tuanya. Kembali Syifa merasa sedih karena tidak bisa menikmati hari liburnya bersama kedua orang tua, bahkan Uminya pun juga tidak.

__ADS_1


Begitu tersayat hati pak Danu melihat gadis kecil itu yang begitu diam, tidak ada senyum sama sekali yang keluar dari bibirnya. Liburannya benar-benar tidak bisa di nikmati dengan kebahagiaan karena kebahagiaannya seolah tidak berpihak kepadanya.


Pak Danu ingin mendekat tetapi langkahnya terhenti melihat seorang laki-laki berseragam putih yang mendekati Syifa dengan membawa dua balon dan juga permen lollipop.


"Dia siapa?" gumam pak Danu.


Melihat bahwa laki-laki terlihat sangat baik pak Danu tidak jadi mendekat, dia membiarkan saja laki-laki itu menghampiri Syifa apalagi dengan kedatangannya Syifa terlihat bahagia bahkan langsung tersenyum.


"Apakah Syifa mengenalnya?" gumamnya lagi. Tapi tidak mungkin Syifa tidak mengenal dan dia terlihat bahagia seperti itu. Tentu saja Syifa mengenalnya, namun pak Danu tetap waspada meskipun berdiri dan mengawasi di tempat yang lumayan berjarak.


"Hallo cantik, kenapa cemberut terus nih. Lihat Om bawa apa?" Laki-laki itu tidak lain adalah Hazel yang kebetulan saja baru pulang dari rumah sakit.


Di saat melintas di jalan dia tidak sengaja melihat Syifa yang berada di ayunan seorang diri dengan wajah yang cemberut membuat hatinya bergerak dan langsung menghentikan mobilnya.


Hazel juga membelikan balon juga permen lollipop kepada Syifa sebelum dia mendekatinya, dan ternyata apa yang dia bawa berhasil membuatnya tersenyum dan terlihat begitu bahagia.


"Ini untuk Syifa, Om?!" Ucap Syifa. Tangannya bergerak meraih dua balon tersebut dan juga permen lollipop yang Hazel bawa. Wajahnya begitu sumringah dan kesedihan tadi hilang begitu saja dari wajahnya, hal itu juga yang membuat pak Danu membiarkan Hazel mendekati Syifa.


"Tentu, Om kan tidak makan permen, gigi om sedang ngilu," jawab Hazel dengan mimik wajah yang membuat Syifa tersenyum semakin lebar, bahkan sudah bisa di katakan tertawa karena terdengar ada suaranya.


"Syifa sama siapa kesini?" tanya Hazel. Matanya mengedar, mencari seseorang yang mungkin dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Kanaya.


"Sama kakek Danu," jawab Syifa. Tangannya mulai sibuk membuka permen besar yang di bawa Hazel tadi tapi dia sempatkan menunjuk pak Danu yang berdiri di belakang mereka berdua dengan jarak tak terlalu jauh.


Pak Danu pun juga mengangguk, mengizinkannya karena dia rasa tidak masalah. Toh Syifa juga terlihat sangat bahagia dengan kehadiran laki-laki yang sama sekali belum dia ketahui namanya itu.


"Om, Syifa nggak bisa bukanya, bisa tolongin Syifa nggak?" ucap Syifa. Dia sudah nyerah karena dari tadi juga tidak berhasil, wajahnya bahkan terlihat sudah geram sendiri.


"Hem?" Hazel menoleh cepat, dia sempat terkesiap karena saat itu dia masih melihat pak Danu dan seolah berbicara dengan bahasa isyarat mata.


"Syifa nggak bisa, tolongin dong," ucapnya mengulangi.


"Baiklah, sini biar Om bukain."


Hazel menerima permen itu kembali dari Syifa, tapi bukan untuk di minta lagi tapi hanya di buka saja bungkusnya.


"Om, Om tidak kerja? Padahal Umi saja kerja, masak Om tidak?" katanya. Tangannya sudah menerima kembali permen yang di buka oleh Hazel.


"Om juga kerja, tapi Om baru saja pulang," jawab Hazel.


"Kok masih pagi sudah pulang, Om bolos ya? Hayo, kata bu guru tidak boleh suka bolos," celoteh nya.

__ADS_1


Hazel tersenyum geli sendiri mendengar perkataan Syifa, tau apa nih anak kecil dengan pekerjaan orang dewasa.


"Hem..., om tidak bolos tapi om sudah pulang karena om mendapatkan sif malam."


"Oh, terus Om kesini untuk nemenin Syifa main?" terlihat Syifa begitu berharap kalau Hazel akan menemaninya.


"Hem, emang boleh?"


"Boleh dong, Om."


Syifa semakin ceria, dengan percakapan itu tentulah dia tidak akan sendiri dan akan ada Hazel yang menemani dia main.


"Oke, sekarang kita main apa?" Kening Hazel mengerut, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk keningnya seperti tengah berpikir. Bibirnya yang terus bergerak membuat Syifa tertawa karena merasa sangat lucu.


Dalam sesaat Hazel mampu membuat Syifa tertawa menghilangkan semua keluhan yang ada di dalam hatinya.


"Main perosotan!"


"Ah, tidak-tidak! Om takut jatuh, atit."


"Hem, main kejar tangkap!"


"Tidak-tidak! Om takut jatuh juga."


"Terus main apa dong?" Syifa terlihat bingung.


"Main apa ya...," Hazel menyeringai, dia turun dari ayunan itu dan langsung mengangkat Syifa dari belakang dengan gerakan cepat.


"Om! Syifa takut jatuh!" pekik Syifa.


"Terbang!" Dengan gerakan kilat Hazel membuat Syifa tidur tengkurap di kedua tangannya, berlari kesana-kemari seolah menerbangkan Syifa.


"Hahaha, Om! Syifa..., hahaha!"


Begitu bahagia Syifa dengan Hazel, dia begitu bisa membuat Syifa terus tertawa.


Melihat Syifa seperti itu tentu pak Danu juga ikut tersenyum, bahkan pak Danu sampai menitikkan air mata karena begitu haru.


"Lihatlah, Tuan. Putri Tuan sangat bahagia, dia bisa tersenyum begitu lepas dan itu hanya dengan laki-laki ini saja. Apakah Tuan yang mengirimkannya untuk Syifa?" gumam pak Danu.


Cepat telapak tangannya menghapus air mata yang sudah meluncur, tentu tidak ingin sampai ada yang melihatnya.

__ADS_1


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung.....


__ADS_2