Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Semua Khawatir


__ADS_3

»»————><————««


Hingga begitu larut Kanaya menemani Hazel, namun setelah Kristin datang dia bergegas untuk pulang. Tak pantas saja kalau dia terus di sana, yang jelas orang rumah juga sangat khawatir kepadanya.


Setelah berpamitan Kanaya pulang dengan pak Danu, sangat berat sejujurnya untuk Hazel mengizinkan dia masih sangat ingin Kanaya ada di sana menemani, tapi tidak! Dia belum bisa menahannya untuk tetap tinggal.


Hazel terus cemberut setelah kepergiannya, seakan semangatnya juga ikut pergi dan membuat Kristin terheran hingga dia menggeleng.


"Kenapa, kamu tidak rela Kanaya pulang?" tanya Kristin. Jelas saja Hazel tidak rela, tidak ikhlas.


"Belum pantas, Nak. Besok kalau kalian sudah resmi baru boleh bersama terus."


"Hem, memangnya bagaimana, di terima kan?" Kristin menatap lekat Hazel.


Hazel mengangguk, kini dia kembali tersenyum karena membayangkan lamarannya yang Kanaya terima. Sungguh, itu adalah kebahagiaan yang sangat besar dan juga sangat nyata. Tak ada kebahagiaan yang lebih besar selain mendapatkan cintanya, itulah bagi orang yang tengah kasmaran.


"Akhirnya, sebentar lagi anak mama akan melepaskan masa lajangnya," Kristin membelai lembut rambut Hazel, dia juga sangat bahagia.


"Ma, bagaimana dengan papa?" Hazel mengkhawatirkan itu, bagaimana kalau Davin tidak akan menerimanya dan malah akan berbuat sesuatu untuk menghancurkan hubungan mereka. Bagaimana kalau tidak akan membiarkan Kanaya juga Hazel bersatu?


Kristin terdiam sejenak, dia juga takut, was-was akan suaminya yang sangat keras kepala.


"Ma, bagaimana?" Hazel menegaskan.


"Sudah, jangan kamu pikirkan tentang papamu. Papa biar jadi urusan mama, apapun yang terjadi kamu harus bahagia," jawab Kristin.


Tak akan mungkin seorang ibu membiarkan anaknya akan kehilangan senyumnya. Bahkan apapun akan ibu lakukan untuk mempertahankannya.


"Tapi, Ma."


"Sudah, kamu tidak usah takut. Yang terpenting kamu pikirkan bagaimana dan kapan kamu akan mengesahkan hubungan kamu. Mama juga sudah tidak sabar pengen punya mantu." Kristin tersenyum.

__ADS_1


Entah benar-benar lepas senyumnya atau mungkin hanya dia usahakan untuk terlihat baik supaya Hazel tidak kepikiran hal yang tidak-tidak.


»»————><————««


Opa Hasan juga Oma Uswah masih terus menunggu Kanaya yang belum juga pulang. Mereka juga sangat khawatir dengan keadaan Hazel yang mereka sendiri juga belum tau bagaimana keadaannya.


Terus keduanya gelisah, kadang duduk kadang juga berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan tatapan terus melihat ke arah pintu, siapa tau akan segera terbuka dan Kanaya masuk.


"Kira-kira bagaimana keadaan Hazel ya, Bi?" tanya Oma Uswah dengan rasa gelisah yang sangat besar.


"Tau lah, Umi. Kita hanya bisa berdoa semoga Hazel baik-baik saja." Opa Hasan kembali duduk setelah berdiri. Duduk tepat di sebelah Oma Uswah.


"Semoga kejadian ini tidak membuat Kanaya berpikir yang tidak-tidak ya Abi. Umi takut kalau nanti Kanaya malah akan menyalahkan diri sendiri karena kejadian ini."


Ketakutan Oma sangat besar, bagaimana kalau Kanaya akan berpikir seperti itu? Bagaimana kalau dia malah berpikir kalau semua ini terjadi karena Hazel dekat dengannya?


"Semoga saja tidak, Umi." Opa Hasan menoleh sebentar, mengelus pundak Oma dengan pelan.


Untung saja Syifa juga sudah tidur, kalau dia masih terjaga pasti keadaan akan semakin tegang karena Syifa pasti akan sangat sedih jika takut Hazel mengalami kecelakaan.


"Assalamu'alaikum," sapa Kanaya. Tangannya yang membuka pintu dengan sangat perlahan, dia juga menyapa dengan pelan karena dia pikir semua orang sudah tidur dan tidak mau kalau sampai mengganggu istirahat.


Kanaya tertegun sejenak melihat opa dan Oma yang ternyata masih terjaga dan menunggunya. Mereka langsung berdiri setelah dirinya datang. Kanaya berjalan mendekat.


"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya bersamaan.


Wajah keduanya begitu serius juga terlihat tak sabar, mungkin mereka akan bertanya pada Kanaya tentang keadaan Hazel sekarang.


"Bagaimana keadaan Hazel, Nay?" tanya Opa.


"Alhamdulillah, Abi. Mas Hazel hanya mengalami luka-luka kecil, tak ada yang serius." jawab Kanaya.

__ADS_1


"Alhamdulillah," Keduanya bersamaan.


"Kalau begitu istirahatlah, kamu pasti sangat lelah kan?" Oma Uswah berbicara.


"Hem, " Kanaya mengangguk. "Abi dan Umi istirahat juga ya, sudah malam."


"Iya."


Sangat lelah rasanya, juga sudah mengantuk untuk Kanaya. Dia cepat bergegas pergi ke kamar untuk segera istirahat.


»»————><————««


Semua diam ketika berada di meja makan dan sarapan bersama. Tapi tidak dengan Syifa, dia yang begitu bahagia terus bicara di sela-sela makannya.


"Umi, nanti kita bertemu sama om Hazel lagi ya." ucapnya.


Setelah kedatangan Hazel semalam membuat Syifa begitu tak sabar, dia selalu saja ingin bertemu bahkan terus bersama dengan Hazel. Begitu juga dengan sekarang.


"Hem?" Kanaya tertegun.


"Umi, bisa kan?" Syifa mengulang dengan sangat heran karena Kanaya masih begitu enggan untuk menjawab.


"Umi, kok malah diem sih! Nanti bisa kan bertemu dengan om Hazel?"


Kanaya menoleh ke arah opa dan oma, melihat keduanya yang sama-sama mengangguk kecil.


"Hem, baiklah. Nanti kita pergi bertemu om Hazel."


Entah bagaimana reaksi Syifa kalau sampai tau Hazel berasa di rumah sakit pasti dia akan sangat terkejut, bisa saja dia akan begitu sedih.


"Ye! Nanti bertemu dengan om Hazel!" Syifa begitu girang, senyumnya begitu lebar memandangi semua orang dengan bergantian.

__ADS_1


»»————><————««


Bersambung....


__ADS_2