
»»————><————««
Semakin berani Hazel untuk terus mendekat Kanaya juga Syifa. Dia terus datang, dengan selalu membawa buah tangan juga senyuman yang tak pernah tertinggal.
Alasannya hanya mampir saja setelah pulang ngaji, tapi entah apa yang sebenarnya.
Tapi tidak untuk sekarang, dia datang bukan hanya untuk mampir saja, tapi ada hal yang sangat ingin dia bicara. Dengan begitu serius yapi kuga sangat tegang Hazel masuk ke dalam rumah Kanaya setelah di persilahkan.
Ada keraguan besar, tapi juga ada tekat yang juga tak bisa di lupakan.
"Sini, Nak." ajak Opa Hasan dengan begitu ramah. Berjalan lebih dulu di depan Hazel dan menuntunnya hingga sampai ke ruangan tengah.
"Terima kasih, Om." jawab Hazel. Dengan tunduk sopan dia melangkah di belakangnya, tubuhnya sedikit membungkuk memberikan kosan kesopanan yang telah doa lakukan.
Keduanya duduk. Hazel terlihat gugup namun Opa Hasan terlihat biasa-biasa saja. Menatap fokus kearah Hazel yang masih terdiam.
"Umi, tolong buatkan minum," perintah Opa.
"Baik, Abi." Oma Uswah langsung setuju, dia juga langsung berjalan masuk ke dapur sementara Kanaya, dia juga mengikutinya tanpa mengatakan apapun.
Sejenak Kanaya melihat Hazel, berpikir apa yang ingin dia lakukan di rumahnya dan kenapa dia terlihat begitu serius, apakah ada masalah? Pikirnya.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Oma memergoki Kanaya yang terdiam bingung.
"Hem!" Kanaya terperanjat, dia langsung tersadar dan menggeleng. "Tidak apa-apa, Umi." jawabnya.
"Mau bantuin Umi?"Oma Uswah menawarkan dan Kanaya hanya mengangguk kecil juga tersenyum kecil kemudian ikut masuk ke dapur.
"Eh, Om Hazel kesini lagi?" Syifa tidak tau kapan Hazel akan datang. Dia malah bersantai dengan teman-temannya dan di temani oleh Danu.
"Iya," jawab Hazel.
Syifa langsung duduk di sebelahnya, membuat sang Opa tersenyum melihat cucunya itu yang lebih nyaman berasa di dekat Hazel. Hubungan yang masih sangat sulit di katakan tapi jelas bisa terlihat.
"Om Hazel mau nginep di sini ya?" tanyanya. Wajahnya menoleh dengan menggemaskan kearah Hazel yang sudah merangkul dan menariknya untuk lebih dekat dengannya.
"Tidak, Om hanya mampir."
Jawaban Hazel sepertinya tidak terlalu di sukai oleh Syifa yang kii terlihat mengerutkan kening juga bibirnya yang manyun. "Ih, jelek sekali kalau begini." Gurau Hazel.
"Padahal Syifa pengen main sama Om Hazel, bahkan Syifa juga pengen bobok di peluk om Hazel, pasti akan sangat hangat kan? Sama seperti teman-teman yang bobok di peluk papa mereka."
__ADS_1
"Hazel juga Opa Hasan saling lempar pandang, mereka juga langsung tersenyum gagu.
Hazel sangat ingin, tapi hubungan mereka yang belum sejauh itu yang menjadikan penghalang. Sementara Opa Hasan, dia juga sangat menginginkan hal itu tapi dia tidak berani meminta Hazel secara langsung apalagi mengingat Kanaya, entah dia sudah mau membuka hati atau belum.
"Hem, kapan-kapan ya," jawab Hazel.
Kanaya datang begitu juga dengan Oma Uswah dengan masing-masing membawa nampan. Kanaya membawa nampan berisi beberapa cangkir sementara Oma Uswah membawa nampan berisi sua piring yang ada kuenya.
Perlahan cangkir di turunkan, di letakan di depan masing-masing oleh Kanaya begitu juga dengan piring tersebut.
"Ayo di minum, Nak." Pinta Opa Hasan.
"Terima kasih, Om. Maaf malah jadi merepotkan." ucapnya begitu sungkan.
Semua hanya tersenyum menanggapi, Kanaya juga Oma ikutan duduk di sana mereka benar-benar serius sekarang. Sementara pak Danu? Dia duduk di luar dengan harapan besar.
'Semoga kedatangan Mas Hazel saat ini membawa kabar baik,' batinnya.
Sejenak mereka saling menikmati minuman dan setelahnya saling diam. Dalam diam Hazel melirik sebentar kearah Kanaya melihat betapa penasarannya wanita itu dengan kedatangannya. Hazel tersenyum dan membuat Kanaya menunduk.
"Om, sebenarnya kedatangan saya kesini.. Yang pertama untuk silaturahmi, dan yang kedua..."
'Apa maksud kedatangan mas Hazel?' batin Kanaya.
"Saya ingin melamar Kanaya." sambung Hazel begitu jelas.
Deg! Detak jantung langsung cepat pada Kanaya perasaannya begitu tak karuan dengan niat Hazel dan apa yang sudah dia katakan barusan, matanya juga membulat dengan terang menatap Hazel semakin tajam namun laki-laki itu hanya tersenyum menanggapi.
"Ya, saya menyukai Kanaya, Om. Saya ingin menjadikan Kanaya sebagai pendamping hidup saya untuk selamanya."
Hazel beralih menunduk melihat Syifa yang diam mendengarkan, melihat Hazel mes dia belum begitu tau apa yang di bicarakan.
"Saya juga sangat ingin membahagiakan Syifa, saya ingin menyempurnakan hidup Syifa." Imbuhnya lagi.
Opa Hasan juga Oma Uswah terdiam, melihat Kanaya yang terdiam. Semua tergantung dengan Kanaya, meski mereka sangat ingin melihat Kanaya dan Syifa bahagia tapi mereka juga tidak bisa memaksakan kehendak mereka.
"Nak, apa jawaban mu?" tanya Opa Hasan. Menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Kanaya. Mereka juga bukan orang tuanya jadi tak ada hak untuk memutuskan.
"Om, Om mau jadi abinya Syifa?" ternyata Syifa paham dengan semuanya. Hazel mengangguk dan membuat Syifa tersenyum girang.
"Yee!" teriaknya bungah. Padahal Kanaya juga belum menjawab tapi Syifa sudah sangat bahagia.
__ADS_1
Syifa turun dari kursi, berlari kearah Kanaya dan berdiri di hadapannya dengan menarik tangan Kanaya.
"Umi, boleh ya Om Hazel jadi abinya Syifa. Boleh ya," Syifa begitu memohon. Wajahnya begitu memelas sekarang.
"Syifa janji tidak akan nakal, Syifa janji akan selalu menjadi anak baik. Boleh ya umi?" Syifa kian memohon menambah bingung Kanaya yang terdiam menatapnya.
Semua orang terdiam, menunggu jawaban dari Kanaya. Apakah dia akan menerima atau malah sebaliknya? Semua terlihat begitu was-was dengan tak sabar.
Semua begitu berharap Kanaya akan membuka hati untuk Hazel, mau membina rumah tangga baru lagi dan melupakan semuanya. Bukan melupakan, lebih tepatnya menyisihkan semua yang telah terjadi sebelumnya dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik.
"Boleh ya, Umi?"
'Apa yang harus aku katakan, Mas. Apakah aku harus menerimanya?' batin Kanaya.
"Umi," Syifa begitu tak sabar dia sangat ingin mendengarkan jawaban dari Kanaya.
Kanaya menoleh ke arah Opa Hasan, dia mengangguk dan juga tersenyum mengizinkan. Menoleh lagi pada Oma Uswah, dia juga melakukan hal yang sama. Beralih pada Syifa, dia yang lebih antusias dan sangat semangat. Menoleh lagi pada Hazel, dia begitu berharap akan di terima.
Oma Uswah menyentuh pundak Kanaya membuatnya kembali menoleh ke arahnya.
"Berbahagialah, jemput bahagia mu. Dia pria yang baik, Umi yakin Dirga yang menginginkannya." ucapnya.
Benarkah apa yang Oma Uswah katakan? Kanaya masih terdiam mendengarnya, mencerna dan berpikir apa yang akan menjadi keputusannya.
"Lihatlah Syifa, dia sangat berharap dia sangat bahagia karena akan punya abi. Wujudkan keinginannya, Nak. Umi Yakin kalian akan bahagia." ucap Oma lagi.
"Tak akan ada yang berubah setelah ini, kamu tetap anak Umi dan juga Abi. Dan di sinilah rumah mu. Semua akan tetap sama."
Bagi Oma Uswah dan juga Opa Hasan Kanaya lah anaknya setelah kepergian Dirga, dan hubungan mereka akan tetap sama meski Kanaya akan menikah lagi.
Bruk!
Kanaya langsung memeluk Oma Uswah, dia menangis di pelukannya.
"Terima kasih, Umi. Terima kasih," ucap Kanaya.
"Berbahagialah."
»»————><————««
Bersambung....
__ADS_1