
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
"Syifa, Sayang. Bangun yuk." Tangan Kanaya perlahan menyenggol pundak Syifa, membangunkannya dengan sangat hati-hati karena takut nanti dia bangun dengan terkejut dan menjadi rewel.
Semua melihat Kanaya yang masih berusaha. Arifin, Pak Danu juga Kayla hanya terus berdiri dengan terus memandangi Kanaya dan beralih ke Syifa dan Hazel yang masih tertidur.
"Sayang." Kembali Kanaya membangunkan.
Mendengar suara yang memanggil Syifa Hazel yang malah perlahan membuka matanya. Membuka lebar-lebar matanya yang masih sayu-sayu hingga akhirnya bisa melihat dengan sempurna.
Hazel begitu terkejut, melihat semua orang datang melihatnya, bukan hanya itu saja tapi juga Syifa yang tidur di sebelahnya dengan memeluknya.
Hazel yang sudah akan buru-buru bangun menjadi sangat perlahan karena tidak mau sampai Syifa terbangun.
Posisinya tidak berubah masih tetap sama, padahal dia ingin beranjak karena malu di lihat Kanaya dan semuanya. Tapi keberadaan Syifa yang membuatnya tetap bertahan.
"Kamu datang? Kata Syifa..."
"Hem, memang tadinya ada meeting dan juga pekerjaan yang sangat banyak tapi sekarang sudah selesai," jawab Kanaya. Padahal pekerjaannya masih banyak sebenarnya tapi dia takut daja kalau sampai Syifa dengar dan akan kembali kesal padanya.
Cukup sekali tadi pagi saja, dan tidak mau lagi. Hati seorang ibu tidak akan sanggup jika di benci oleh anaknya sendiri.
"Biar saya bangunkan saja," ucap Kanaya.
"Hem, sebaiknya jangan dulu. Syifa baru saja tidur, dia pasti sangat lelah karena dari pagi dia tidak berhenti bermain."
__ADS_1
Hazel mencegah Kanaya membangunkan Syifa apalagi melihat wajah si kecil itu yang terlihat begitu lelap karena lelah. Hati Hazel merasa tidak tega jika membangunkannya.
"Tapi, Mas?" Kanaya yang merasa tidak enak jika Syifa terus berada dalam posisi itu, Hazel pasti sangat lelah karena terus menemani Syifa, Kanaya sangat merasa tidak enak.
"Sebentar saja, biarkan dia tidur sebentar lagi dan nanti kota bangunkan." Begitu lembut Hazel berbicara, begitu perhatian pada Syifa yang bukan siapa-siapanya.
Arifin begitu senang melihatnya, tapi dia juga sangat kecewa karena Kanaya masih saja menutup hati. Bukan itu saja tapi karena mereka berdua yang tidak seiman.
Seandainya saja mereka seiman pastilah Arifin akan terus berusaha untuk mendekatkan mereka, tapi dia juga tidak mungkin membuka adik sepupunya itu akan bersatu dengan laki-laki yang tidak bisa menjadi imam untuk dunia hingga akhirnya.
"Nay, karena kamu sudah bertemu dengan Syifa dan dia juga tengah tidur aku pamit dulu ya, mau cari makan siang lalu kembali kekantor," ucap Arifin seraya pamit.
"Iya, Mas. Hati-hati."
"Iya, jamu juga hati-hati. Dan sampaikan salam_ku juga pada si kecil."
Bergegas Arifin juga Kayla pergi dari sana. Selang gak lama kepergian mereka berdua pak Danu juga pamit pergi untuk mencari toilet, dari tadi dia sudah menahan hajat yang sekarang tak bisa di tahan lagi.
"Bu, saya permisi sebentar ya. Mau cari toilet," pamit pak Danu.
"I_iya, Pak." Kanaya sudah langsung gugup, dengan pak Danu juga pergi otomatis hanya tinggal dia dan Hazel yang ada di sana, ada Syifa juga sih, tapi dia masih tidur kan?
Keheningan terjadi di antara keduanya. Kanaya duduk di tepi tikar dan membiarkan Hazel tetap berada dalam posisi yang tadi untuk membuat Syifa tetap nyaman dalam tidurnya.
Hembusan angin yang bercampur udara panas membuat Kanaya merasa semakin gerah. Bukan karena cuaca saja, tapi juga keberadaan dia bersama Hazel.
__ADS_1
Aneh, Kanaya sudah sangat lama tidak mengalami hal ini. Tapi sekarang? Apa ini.
"Bagaimana pekerjaanmu, beres?" tanya Hazel. Memecah keheningan siang di bawah terik matahari namun tidak sampai pada mereka berdua karena ada pohon rindang yang menghalanginya.
Hazel harus berterima pada wali kota atau mungkin pada presiden karena telah menyediakan tempat yang sangat nyaman seperti tempat itu.
"Hem, al_alhamdulillah," jawab Kanaya. Kanaya sama sekali tidak menoleh dan terus saja melihat arah-arah lain yang bisa membuat dia tenang.
"Syukurlah." Hazel kembali diam. Matanya ingin terpejam lagi.
Sebenarnya Hazel masih mengantuk, baru beberapa menit saja dia tidur tapi sudah bangun lagi. Biasanya dia akan butuh berjam-jam untuk bisa menghilangkan rasa lelahnya.
"Mas, terimakasih sudah menemani Syifa," sekarang giliran Kanaya yang memulai.
"Tidak masalah, aku senang melakukannya. Aku sangat senang melihat dia terus tersenyum bahagia."
Hazel tidak jadi menutup matanya mengganti posisi tidurnya menjadi miring kearah Syifa dan melihat wajah menggemaskan itu.
"Dia sangat cantik ya, Nay. Persis seperti Uminya," ucap Hazel mulai terang-terangan mengagumi meski sebenarnya dia masih tidak sadar dengan apa yang dia katakan barusan.
Kalau Hazel sadar entah apa yang akan dia lakukan.
Bukan Hazel yang merasa sahabat malu tapi malah Kanaya yang merasakannya. Sudah begitu lama tak ada laki-laki yang mau memujinya dengan suara yang terdengar sangat tulus seperti mendiang suaminya. Tapi sekarang? Hazel bisa menyamainya dan membuat jantung Kanaya berdetak dalam sesaat.
"Apalagi kalau sudah besar, pasti sangat cantik juga. Sudah cantik pintar lagi," imbuh Hazel yang sama sekali tidak memandang Kanaya dan tidak melihat bagaimana wajahnya sekarang.
__ADS_1
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung...