
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Sudut bibir Hazel memang sudah mengeluarkan sedikit darah segar karena sedikit terluka akibat pukulan dari Dirga, namun tidak membuat dia lantas marah dan mengeluarkan emosinya untuk membalas. Hazel masih terlihat santai dan begitu biasa-biasa saja.
Menghadapi orang seperti Dirga tidak bisa dengan kekerasan, semakin Hazel melawan pastilah kerasnya Dirga akan semakin bertambah.
Menghadapi orang yang begitu emosian seperti Dirga bukan baru satu dua kali bagi Hazel, tapi ini sudah yang kesekian kalinya jadi Hazel tau bagaimana menyikapinya. Tapi bukan berarti dia akan mengalah ataupun kalah, dia tidak akan biarkan Dirga berhasil untuk memukulnya lagi.
"Berani sekali kamu membawa pergi Naya dariku!" Dirga masih saja terlihat sangat marah. Matanya begitu melotot dengan amarah yang sangat besar.
Terus saja Dirga menggerutu marah namun Hazel terlihat begitu santai.
"Naya harus pergi dengan ku!" ucapnya lagi.
"Pergi denganmu, dengan memaksanya begitu? Kalau dia memang mau ikut dengan mu silahkan, saya tidak akan menghalanginya lagi. Tapi, jika dia tidak mau maka maaf, saya tidak akan biarkan kamu membawanya."
Begitu santai Hazel berbicara, dia sama sekali tidak ada rasa takut ataupun gentar sama sekali. Dia tetap saja terlihat biasa meski Kanaya sudah sangat takut.
"Ingat ya Tuan Dirga terhormat. Anda tidak punya hak atas Kanaya, mau dia memilih siapapun atau tidak anda juga tidak bisa mencegahnya, karena semua itu adalah hak Kanaya, bukan hak anda."
"Saya bisa memaafkan anda sekarang karena anda berbuat kasar dengannya, tapi jika sekali lagi Anda melakukannya, saya tidak akan segan-segan untuk membalas," Hazel begitu menegaskan.
"Hem, siapa berani kamu menentang saya!" Dirga tidak terima.
"Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya! Saya sudah mendapatkan amanah dari mendiang suaminya untuk selalu menjaganya. Jadi, entah anda atau siapapun tidak akan pernah saya biarkan menyakitinya!" Tangan Hazel terangkat, dan satu jari telunjuknya berdiri tegak di hadapan Dirga di tengah-tengah antara mereka berdua.
Di beri amanah? Benarkah apa yang Hazel katakan? Benarkah dia mendapatkan amanah dari suaminya untuk menjaga Kanaya juga Syifa ataukah itu hanya akal-akalannya saja?
Dirga terdiam antara percaya juga tidak, benarkah yang Hazel katakan? Kalau benar seperti itu maka Dirga akan semakin susah untuk mendapatkan Kanaya.
Kembali Hazel menangkap pergelangan tangan Kanaya dan mengajaknya pergi dari sana. Tak mau berlama-lama berhadapan dengan orang seperti Dirga tentunya.
Kali ini Dirga tidak melakukan apapun, tapi matanya melihat kepergian mereka berdua tentunya dengan sangat tidak enak untuk di lihat, jelas Dirga sangat marah besar.
"Arghhh!" teriak Dirga. Tangannya mengepal dan melayang ke udara. Melampiaskan kekesalan dan amarah pada udara yang tak bisa di gapai, seperti cinta Kanaya yang sangat susah untuk dia gapai.
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
__ADS_1
Hazel melepaskan tangan Kanaya dengan begitu pelan, menghentikan langkah di saat sudah ada di depan gedung yang begitu menjulang.
"Terima kasih, Mas," ucap Kanaya. Keduanya berhenti di depan perusahaan Kanaya yang lalu lalang orang-orang sudah mulai masuk.
Wajah Kanaya terus menunduk, hanya akan melirik kecil saja kearah Hazel itupun hanya sebentar saja.
"Sama-sama," jawab Hazel. Tangannya masih sibuk menyentuh sudut bibirnya yang sedikit robek, seakan Hazel tengah menahan darahnya supaya tidak kembali keluar.
"Sa_saya akan kembali," Hazel gugup sendiri, melihat bagaimana Kanaya juga tatapannya saat melihat dirinya yang terluka.
Hazel ingin menyembunyikannya, dia kan kuat hanya pukulan dari Dirga tidak akan berpengaruh apapun padanya.
"Ma_mas terluka, lebih baik masuk dulu dan di obati," Mata Kanaya menatap penuh sesak juga rasa bersalah. Semua ini karenanya, kalau Hazel tidak berusaha menolongnya dia tidak akan terluka seperti ini kan?
"Ti_tidak usah, saya kan dokter, saya bisa melakukannya sendiri," jawab Hazel seraya menolak.
"Apakah dokter jika sakit akan mengobati sendiri? Jika butuh operasi akan operasi sendiri, tidak kan? Dokter pun membutuhkan orang lain juga. Masuklah dan jangan buat saya merasa bersalah," ucap Kanaya kekeuh.
"Hem...?" Hazel masih saja berpikir, "baiklah."
Keduanya terus berjalan, menuju ruang tamu yang memang susah menjadi tempat untuk Kanaya saat menemui para tamu-tamunya.
"Kayla!" Akhirnya, Kanaya sedikit lega karena melihat ada Kayla.
"Iya, Bu!" Kayla langsung menghampiri.
"Hem, temani saya di ruang tamu," pinta Kanaya. Kayla pun mengangguk, mengerti karena ada Hazel di belakang Kanaya.
Sementara Hazel? Hazel mengernyit, kenapa harus ada orang lain, apakah Kanaya akan meminta sekertarisnya itu yang akan mengobati Hazel, tidak mungkin kan?
"Mari, Mas," ucap Kanaya mengajak.
"Hem," Sekali anggukan Hazel menjawab, kakinya juga langsung melangkah masuk mengikuti Kanaya dan di belakang Hazel ada Kayla.
"Hem, Bu, saya buatkan minum dulu," Kembali Kayla berpamitan. Kanaya hanya menjawab dengan anggukan saja.
Mata Hazel mengedar ke seluruh penjuru sembari dia ingin duduk setelah Kanaya memintanya untuk duduk di sofa dengan isyarat tangannya, Kanaya tidak langsung duduk dia berjalan menuju meja dan membuka laci, ternyata Kanaya mengeluarkan kotak obat dari sana dan barulah mendekati Hazel.
__ADS_1
Ragu. Jelas Kanaya ragu untuk melakukannya. Benarkah dia akan mengobati Hazel?
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
"Kenapa mas itu ikut juga ke sini, dan kenapa dia terluka?" gumam Kayla sembari membuat minuman ketika di pantry.
Sejenak Kayla termenung memikirkan akan hal itu, lagian bosnya itu juga tidak pernah membawa masuk tamu laki-laki sendiri.
"Apa mas itu terluka karena menolong Bu Kanaya?" pikirnya.
"Mas siapa yang terluka?"
Kayla terkesiap mendengar ada suara yang datang dari belakangnya. Kayla menoleh dan mendapati Arifin yang masuk dengan membawa cangkir kosong, sepertinya dia ingin mengisinya lagi.
"I_itu, Mas..." Kayla kembali gugup, selalu saja seperti itu ketika berhadapan dengan Arifin.
"Iya, itu siapa?" Arifin semakin mendekat dan berdiri tepat di samping Kayla, semakin bertambah gugup saja.
"Mas, mas yang tadi di cafe. Di_dia ikut kesini dengan keadaan terluka, Mas. Dan sekarang ada di tempat tamu bersama Bu Kanaya," Akhirnya, Kayla merasa lega bisa menjelaskan pada Arifin meski dengan terbata-bata.
"Terluka? Kok bisa?" Arifin terlihat tak percaya.
"Sa_saya tidak tau, Mas," Kayla memalingkan wajah, terus menunduk dan menyibukkan diri dengan dia minuman yang dia buat untuk Kanaya juga Hazel.
Deg...
Jantung Kayla berdetak ketika tangan Arifin bertengger di bahunya, Kayla mematung, dia seperti gak bisa bergerak.
"Aku akan ke sana, jangan lupa minumnya. Oh iya, tolong sekalian minum ku juga ya, kopi buatanmu sungguh enak, luar biasa," Arifin tersenyum dan tangannya kembali terlepas dari bahu Kayla.
Kayla tidak mampu berbicara, dia hanya bisa menjawab dengan anggukan saja. Jantungnya masih terus bekerja keras gara-gara Arifin yang menyentuhnya.
Hmm...
Mata Kayla membulat, tubuhnya seolah ingin jatuh saking leganya setelah Arifin pergi.
"Hampir saja copot jantungku," gumamnya.
__ADS_1
┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅
Bersambung....