Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Permintaan Maaf


__ADS_3

»»————><————««


Davin terus tersenyum canggung sembari terus melangkah menghampiri Kanaya juga istrinya yang menunduk di sebelahnya. Terlihat Kristin bahkan tak mau melihat ke arahnya, segitu marahkah Kristin pada Davin sehingga untuk melihat saja dia tak mau?


Davin berhenti di sebelah Kristin, memandanginya yang kini semakin mengalihkan pandangannya dan juga membalik. Kristin begitu marah.


"Ma," Panggil Davin. Terasa sangat menyakitkan ketika istri tercinta bahkan tak mau melihat ke arahnya, apalagi untuk bicara?


Kristin tetap diam, bahkan pura-pura tidak mendengar panggilannya. Semakin tersayat hati Davin sekarang padahal sangat jelas kalau dirinya yang membuat masalah lebih dulu bahkan mengusir istrinya, tapi sekarang dia sangat menyesal.


Kanaya masih diam, begitu juga dengan Hazel yang lebih sering saling melihat karena merasa kasian dengan Davin yang di abaikan oleh Kristin.


"Nak, Om minta maaf. Karena menyelamatkan Om kamu jadi seperti ini. Maaf," Beralih Davin ke arah Kanaya, niat kedatangannya ke rumah sakit juga untuk bertemu dengan Kanaya, tak tau kalau ternyata ada Kristin juga di sana.


Kanaya tersenyum kecil sebelum menjawab, "tidak apa-apa, Om. Yang terjadi kemarin juga bukan salah Om kan? Itu semua sudah menjadi takdir yang memang harus terjadi."


Kanaya begitu berlapang dada menerima semua yang terjadi kemarin dan membuatnya menjadi berasa di rumah sakit. Dalam hati Kanaya begitu senang karena bisa menolong Davin dan membuat Davin baik-baik saja meski itu berimbas padanya.


"Kamu sangat baik, pantas saja Hazel begitu menyukaimu," Davin mulai menyadari akan hal itu, mungkinkah dengan kejadian kemarin membuat mata Davin terbuka?


Kristin seketika melihat ke arah Davin, menatap matanya seolah mencari kebenaran di sana.


Menyadari sedang di lihat oleh Kristin, Davin menoleh, dia tersenyum. "Benarkan yang aku katakan?"


Kristin masih tercengang, bagaimana mungkin bisa begitu cepat Davin berubah. Kristin seakan tak percaya karena itu bukan sifatnya, sifat yang begitu keras kepala dan begitu angkuh tak menerima apa yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Aku sadar, dia memang baik." Kembali Davin bicara.


Kristin masih tak percaya, apa Davin benar-benar berubah atau mungkin karena ada sesuatu yang sedang dia rencanakan?


Bukan hanya Kristin saja, tapi juga Hazel yang sama. Keduanya masih memiliki keraguan dengan Davin yang tak mungkin berubah begitu cepat. Sementara kalau Kanaya, dia percaya karena memang tak pernah mau dia bersu'udzon pada siapapun. Itu bukan kebiasaan.

__ADS_1


"Ma, Papa minta maaf. Selama ini Papa terlalu keras pada kamu dan juga Hazel. Papa hanya ingin kita bisa kembali lagi seperti biasa, kita bisa berkumpul lagi dengan bahagia."


Semburat penyesalan terlihat jelas di wajah Davin, bahkan wajahnya menunduk.


"Lalu, bagaimana dengan keputusan Hazel, apakah papa mau menerimanya? Bagaimana dengan hubungan Hazel dan Kanaya, apakah papa juga memberikan kami restu?" Tanya Hazel tak sabar.


Netra Davin bergantian melihat ketiganya dan berakhir pada Kanaya yang menunduk. "Kenapa tidak, dia perempuan baik-baik."


Seakan tak percaya, tapi Hazel tersenyum bahagia. Melihat Kanaya yang juga terkejut dengan restu yang di dapatkan.


Ting!


Mata Hazel mengedip genit, ke arah Kanaya, bukannya membuat Kanaya merona malu tapi malah curiga.


'Jangan-jangan...?' batinnya.


~~~~``


"Mas, Mas tidak berkata dengan kasar kan pada Om Davin?" Kanaya lebih curiga pada Hazel.


"Astaghfirullah, jadi kamu berpikir aku yang memaksa papa untuk merestui hubungan kita? Tidak lah." Hazel berjalan menghampiri Kanaya dan duduk di kursi.


"Ya, sebenarnya tidak mau berpikir seperti itu, tapi melihat Mas," Kanaya menunduk.


"Aku juga tidak tau kalau papa akan datang dan mengatakan itu. Tapi seharusnya kita seneng dong, berarti sebentar lagi kita akan segera menikah." Kembali Hazel mengedipkan matanya.


Hazel begitu berbunga-bunga sekarang, restu sudah dia dapatkan dan langkah untuk hidup bersama Kanaya hanya tinggal selangkah lagi.


"Tapi...?"


"Yakinlah, Nay. Semua akan baik-baik saja dan aku yakin Papa memang sudah berubah, dia memberikan restu untuk kita, restu yang kamu inginkan."

__ADS_1


"Besok kamu sudah di perbolehkan pulang, dan setelah itu aku akan membicarakan pernikahan kita pada Om Hasan dan juga Tante Uswah."


Kanaya terdiam, memandangi Hazel dalam waktu beberapa detik kemudian menunduk mengalihkan pandangannya.


"Bukan kah kamu yakin apapun yang terjadi adalah kehendak dari Allah? Maka yakinlah, pernikahan kita yang akan terjadi juga karena kehendak-Nya."


Belum lama Hazel belajar tapi dia sudah mulai tau akan hal-hal itu membuat Kanaya senang dan menghadirkan senyum manis di bibirnya.


"Nah, begitu dong. Kan semakin cantik." Ucapan Hazel kali ini yang berhasil membuat Kanaya merona. "Jadi nggak sabar pengen segera halal."


~~~~``


Kristin menghentikan langkah pertamanya setelah turun dari mobil Davin, memandangi rumah yang sudah bertahun-tahun dia tempati bersama anak dari suaminya itu, rumah yang beberapa hari dia tinggalkan.


"Terima kasih, Ma. Sudah mau kembali di rumah kita. Lihatlah, rumah ini begitu sunyi tanpa kehadiran kamu dan Hazel. Papa sangat menyesal, papa minta maaf," Digenggam tangan Kristin dan membuatnya menoleh ke arahnya.


"Mama bener memaafkan papa kan?" Tanya Davin, dia sangat takut kalau Kristin hanya setengah hati memaafkannya.


Terlihat begitu tulus ucapannya, terlihat begitu besar akan penyesalan.


"Hem," Kristin mengangguk. Dia memaafkan. Dia memili dada yang lapang untuk selalu memaafkan suaminya selama dia sungguh-sungguh meminta maaf.


Terima kasih, Ma." Di angkat tangan Kristin, di kecup hingga keduanya tersenyum setelah itu. "Ayo kita masuk."


Seketika Davin merangkul Kristin, menuntunnya dan mereka melangkah secara bersamaan untuk masuk. Kebahagiaan begitu besar, keduanya seperti baru menikah.


Senyum terpancar cerah dari keduanya, cinta seakan mengalir kembali seperti awal-awal masa cinta baru mekar.


»»————><————««


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2