Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Semua Khawatir


__ADS_3

»»————><————««


"Aku harus bagaimana?'' Hazel mengacak rambutnya dengan kasar bingung memikirkan cara untuk menyampaikan pada keluarga Kanaya tentang kecelakaan yang telah menimpa Kanaya. Terlebih untuk bicara dengan Syifa.


Mulai darimana?


Haze terus memutar ponselnya yang ada di genggaman. Pikirannya begitu kalut akan hal itu tapi apapun itu dia harus tetap memberi tau pada semua keluarga Kanaya.


Hazel memberanikan diri, mulai menghubungi orang rumah utuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Tak lama panggilan telepon tersambung dan tak lama juga diangkat.


''Assalamu'alaikum, Nak Hazel,'' sapa Opa Hasan dari seberang.


''Wa-wa'alaikum salam, Om. Ini, Kanaya, Kanaya mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit.''


''Astaghfirullah!'' suara Opa Hasan benar-benar sangat terkejut, bagaimana tidak! Kanaya pamit dalam keadaan baik-baik saja.


''Terus bagaimana keadaannya sekarang? dia tidak apa-apa kan, tak ada yang serius kan?'' cerca Opa Hasan dengan suara yang begitu khawatir.


''Kanaya belum sadarkan diri, Om.''


''Astaghfirullah.'' suara Opa Hasan begitu lemas. Hazel jadi tak tega meski hanya mendengar saja, bagaimana kalau sampai berada di hadapannya langsung?


''Saya akan ke sana sekarang. Assalamu'alaikum.'' sambungan telepon langsung mati.


''Wa'alaikum salam,'' ada rasa lega tapi juga ada rasa sedih.


''Sebenarnya siapa yang telah melakukan ini padamu, Nay? benarkah hanya kebetulan saja atau memang ada orang yang telah sengaja melakukan ini? kalau ini di sengaja itu artinya sebenarnya sasaran sebenarnya adalah papa.''


Hazel terdiam berpikir dengan serius akan kejadian itu. Jika yang menjadi sasaran adalah Davin apakah itu artinya Davin mempunyai musuh?


''Apakah Papa mempunyai musuh?'' ucap Hazel seraya berpikir.



Arifin begitu bingung di kantor, sudah waktunya meeting dimulai namun Kanaya sama sekali belum kelihatan. Arifin terus mondar-mandir di depan gedung menunggu kedatangan Kanaya yang mungkin sebentar lagi dan telat karena terkena kemacetan. Pikirnya.



''Kanaya kemana sih, sudah jam gini belum datang juga. Apakah ada masalah yang menimpanya?'' gumam Arifin yang mulai berpikir yang tidak-tidak.



Kembai dia melihat ke arah gerbang, berharap akan melihat mobil Kanaya yang masuk di perusahaannya. Beralih Arifin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.



''Sebentar lagi meeting harus dimulai,'' Arifin semakin gelisah.

__ADS_1



''Mas, Bu Kanaya belum datang juga?'' tanya Keyla. Yang keluar dari dalam kantor.



Arifin menggeleng, ''belum, seandainya Kanaya terlambat kita harus menggantikannya, kamu siap kan?'' jalan satu-satunya memang harus seperti itu kan, harus ada salah satu diantara mereka yang melakukan meeting nya.



''Baik, Mas.'' jawab Keyla penuh keyakinan.



Keduanya menunggu di depan kantor bersama tentu dengan perasaan yang sama-sama gelisah. Kanaya tak pernah seperti ini kan sebelumnya, dia selalu saja on time.


~~~~~~\*



Setelah mendapatkan kabar akan apa yang terjadi pada Kanaya, Opa Hasan dan juga Oma Uswah langsung datang ke rumah sakit, tentu saja dia sangat khawatir dengan keadaan Kanaya yang sama sekali belum mereka tau keadaannya.



"Om, Tante," Hazel sudah menunggu di depan rumah sakit, sudah beberapa saat dia ada di sana seorang diri.




"Keadaannya sudah lebih baik, Tante. Tapi Kanaya beliau sadar juga." jawab Hazel. Dia juga tak mengerti, kenapa Kanaya belum bangun juga padahal setelah mendapat beberapa pemeriksaan tak ada luka serius, tak ada luka dalam. Sepertinya harus ada penanganan lebih lanjut lagi.



"Astaghfirullah," Sembari berjalan Oma Uswah menutup mulutnya. Pilu yang dia rasakan.



Tentu saja Oma Uswah akan bingung bagaimana menjelaskannya pada Syifa nanti setelah kembali dari sekolah, padahal Kanaya bilang akan menjemputnya.



"Om dan Tante tidak perlu khawatir, saya dan tim akan melakukan yang terbaik untuk Kanaya."



"Harus, kamu harus melakukannya. Kami sangat percaya padamu," Opa Hasan menoleh, wajahnya begitu berharap pada Hazel bahwa yang di katakan adalah benar.

__ADS_1



"Saya akan berusaha, Om."



Langkah mereka semakin cepat hingga akhirnya sampai di depan ruangan Kanaya. Melihat dari kaca yang ada di pintu saja sudah membuat Oma Uswah mengalirkan air mata, dia tak sanggup melihatnya.



"Abi, anak kita, Bi." Oma Uswah terisak. Tatapannya semakin pilu.



"Umi yang tenang, Kanaya wanita kuat dia pasti akan bisa melewati semua ini. Umi yang sabar." Di rengkuh tubuh Oma Uswah dengan erat, meski sebenarnya Opa Hasan sendiri juga begitu sedih namun tidak dia perlihatkan dengan jelas. Dia mampu menangani kesedihannya.



"Kota berdoa saja, Umi. Semoga Kanaya baik-baik saja," ucap Opa lagi.



"Iya," Oma Uswah mengangguk lemas, menoleh sebentar ke arah Opa Hasan yang merangkulnya, perlahan menarik kepalanya hingga berakhir bersandar pada dadanya.



'Aku harus menyelidikinya, orang yang membuat Kanaya seperti ini harus tertangkap. Entah kenapa aku yakin ada unsur kesengajaan, seperti sudah di rencanakan sejak awal. Ya meski sasaran sebenarnya adalah papa.' batin Hazel.



"Nak, tadi Kanaya mengatakan akan menjemput Syifa. Tapi sekarang malah seperti ini, bisakah kamu yang menjemputnya? Aku yakin kamu bisa mengatakannya dengan hati-hati dan bisa memberikan pengertian pada Syifa, kamu juga bisa menghiburnya." pinta Oma Uswah.



"Baik, Tante. Aku akan menjemputnya nanti." Hazel mengangguk setuju.



'Semoga Syifa tidak akan larut dalam kesedihan setelah mengetahui apa yang menimpa uminya.' batin Hazel, dia juga ikut mengkhawatirkan Syifa sekarang.



»»————\><————««



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2