
»»————><————««
"Tunggu!" Langkah Kanaya terhenti seketika saat mendengar ada yang menghentikannya. Sontak dia juga membalikkan badan untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
Mata Kanaya berusaha menatap dengan jelas Seorang laki-laki yang berjalan dengan tegas ke arahnya. Satu tangannya masuk ke dalam saku sementara satunya lagi dibiarkan begitu saja di luar dan dibiarkan terus bergerak ke depan dan belakang.
"O_ Om Davin?" gumam Kanaya. Kanaya setengah terkejut karena tiba-tiba saja Davin datang dan menghentikan langkahnya saat mau masuk ke kantornya.
"Kamu Kanaya?" tanyanya. Suaranya begitu jelas dan sangat jelas.
Kanaya mengangguk, "iya, saya Kanaya."
"Bisa kita bicara sebentar?" izin Davin.
"Hem, mari ikut saya," ajak Kanaya. Dia mengajak Davin ke ruangan yang biasanya untuk pertemuan dengan para tamu. Berjalan lebih dulu dan Davin mengikuti dari belakang tanpa ragu, entah apa yang akan dia katakan.
Tak di sadari oleh kedua ternyata ada Arifin yang melihat keduanya berjalan beriringan. Tentu saja Arifin juga langsung menghentikan langkah dan melihat dengan heran.
"Ada perlu apa dia datang?" tanyanya pada diri sendiri. Terus menatap hingga akhirnya memutuskan melangkah mengikuti meski tidak masuk ke ruangan yang di tunjukkan oleh Kanaya. Sementara Kanaya sudah langsung mempersilahkan Davin untuk duduk.
"Silahkan duduk, Om" Pintanya. Perlahan Kanaya juga duduk di hadapan Davin yang terdapat meja di tengah-tengah mereka.
"Terima kasih," Begitu formal Davin berbicara. Kanaya pikir dia akan marah atau membuat masalah dengan terang-terangan, melarang dirinya berhubungan dengan anaknya di depan umum tapi ternyata tidak! Entah apa tujuan yang sebenarnya.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya datang kesini. Benar begitu bukan?"
Kanaya hanya diam tak menjawab.
"Saya datang untuk mengambil kembali anak dan istri saya yang sudah kamu ambil. Kembalikan Hazel Dan Kristin pada saya. Jangan pisahkan saya dengan mereka, saya mohon." ucap Davin.
Kanaya terdiam, apa yang harus dia katakan, benarkah dia sanggup untuk mengembalikan Hazel seutuhnya pada Davin, bukankah itu artinya dia harus memutus hubungannya dengan Hazel.
"Saya tidak punya siapapun selain mereka. Tak ada yang lain. Saya mohon, kembalikan mereka."
Davin begitu memohon, terlihat wajahnya kini memelas di hadapan Kanaya yang diam seribu bahasa.
"Sa_ saya?" Kanaya begitu bingung, apa yang harus dikatakan.
__ADS_1
"Kamu masih punya banyak orang yang sayang padamu, anak orang tua, kakak dan yang lainnya, sementara saya? Saya tak ada siapapun."
Hati Kanaya seketika ikut merasakan duka di hati Davin. Dia pernah berasa di posisi yang begitu sedih dan seperti sendiri tanpa siapapun.
"Sa_ saya tidak pernah mengambil Mas Hazel dan Tante Kristin dari Om. Tapi takdir yang membuatnya seperti ini."
"Apakah itu artinya kamu tidak mau melepaskan Hazel?" Desak Davin.
Sungguh berat keputusan yang harus Kanaya ambil, bagaimana mungkin dia bisa melepaskan Hazel begitu saja setelah dia berjuang untuk bisa menerimanya.
Kanaya terdiam, dia bingung untuk menjawab. Hatinya sungguh gusar, dan juga sangat sedih. Apa yang harus dia perbuat.
"Kamu adalah wanita baik-baik, saya yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Hazel. Dia tidak pantas untukmu," ucap Davin.
Air mata mulai menggenang di mata Kanaya, sakit dan sedih hatinya di paksa harus melepaskan Hazel. Hingga akhirnya Kanaya tak bisa lagi menahan air matanya, air mata mulai keluar dan dengan cepat Kanaya mengusapnya.
"Sa_ saya akan berusaha melepaskan Mas Hazel. Om yang lebih berhak atas dirinya," Suara Kanaya tercekat, dadanya terasa sesak mengatakan hal itu pada Davin. Jelas sangat berat.
Setelah kebahagiaan tinggal di depan mata kini harus hilang begitu saja dengan cara di paksa. Sakit.
"Terima kasih, saya tau kamu perempuan yang sangat baik. Saya permisi." Davin langsung beranjak dari duduknya, hatinya bersorak akan kemenangan karena berhasil membuat Kanaya mau melepaskan Hazel. Kalau tidak dari Hazel sendiri setidaknya dia bisa membuat mereka jauh dengan menekan Kanaya. Dan itu ternyata berhasil.
Kedua tangan terangkat, telapak tangannya menutup wajahnya berharap rasa sakit itu akan berkurang seiring air mata yang tersapu, tapi ternyata tidak! Rasa sakitnya semakin dalam.
"Astaghfirullah," ucapnya di sela tangis.
"Nay, kenapa kamu mau melepaskan Hazel begitu saja. Hanya tinggal sebentar lagi, Nay. Tinggal sebentar lagi kebahagiaan akan datang padamu," ucap Arifin yang datang dengan tiba-tiba.
Suara Arifin yang juga terdengar menyudutkan membuat Kanaya langsung membuka kedua telapak tangan dari wajahnya.
Dalam sekejap matanya begitu merah dan sembab, seluruh wajah berubah merah akibat tangisnya yang kini dia berusaha sembunyikan dari Arifin yang duduk tepat dihadapannya.
"Nay, ini tidak benar! Kamu tidak perlu melepaskan Hazel. Seharusnya orang itu yang mengerti kalau kamu dan Hazel saling mencintai, kalian akan bahagia!"
"Aku akan susul dia dan bicara, dia tidak bisa berbuat seperti ini padamu dan Hazel." Arifin hendak beranjak namun di hentikan oleh Kanaya.
"Tidak, Mas. Ini yang seharusnya terjadi. Aku tidak bisa memisahkan anak dari ayahnya, aku tidak bisa memisahkan istri dari suaminya. Bagaimana bisa aku bahagia namun dengan cara menghancurkan keluarga lain. Tidak, Mas," ucapnya.
__ADS_1
"Tapi, Nay?"
"Naya mohon, Mas. Aku ikhlas jika memang aku dan Mas Hazel tidak akan bersatu, aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan seorang ayah."
Pasrah. Arifin terdiam dengan perasaan yang sangat kesal sekaligus bingung. Akhirnya dia ikut sedih dengan apa yang harus di alami Kanaya. Lagi-lagi dia harus merasakan sedih karena cinta.
'Semoga Allah memberikan takdir terindah untuk kamu dan Hazel, Nay. Aku tidak rela melihat kamu selalu sedih seperti ini. Kamu harus bahagia, harus.' batin Arifin.
~``
Begitu senang Hazel ketika datang di kantor Kanaya. Dia berniat untuk mengajak makan siang bersama sekaligus mengajak Syifa juga.
Kakinya mengayun dengan semangat, dia sudah terbiasa keluar masuk di perusahaan tersebut semua orang juga sudah tau bagaimana hubungannya dengan Kanaya hingga tak ada yang berani menegurnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Mas Hazel mencari Bu Kanaya?" ucap seorang staf.
"Iya, apakah Kanaya nya ada?"
"Maaf, Mas. Bu Kanaya nya sedang ada meeting di luar. Kemungkinan tidak akan kembali sampai sore." jawabnya.
"Benarkah?" Hazel nampak begitu terkejut.
"Benar, Mas. Mas bisa hubungi Bu Kanaya sendiri."
"Hem, baiklah. Terima kasih," Jawab Hazel. Sedikit kecewa karena niatnya tak terwujud, dia sudah begitu semangat tadi.
"Mungkin Kanaya memang sangat sibuk hari ini, aku akan datang ke rumah nanti malam." ucapnya dan lanjut bergegas pergi.
Di balik tembok, Kanaya bersembunyi dengan menenteng tasnya. Melihat kepergian Hazel dengan wajah kecewanya.
"Nay, sampai kapan kamu akan seperti ini. Mungkin kali ini Hazel bisa percaya, tapi aku tidak yakin kalau dia akan terus percaya."
"Aku butuh waktu, Mas." jawabnya pada Arifin yang juga berdiri di belakangnya.
'Maafkan aku, Mas Hazel. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.' batin Kanaya, berusaha menerima meski sebenarnya sangat susah.
__ADS_1
»»————><————««
Bersambung....